Standar Pendidikan: Yang Mana?

Posted on April 22, 2013

0


Banyak orang sedang ramai memperbincangkan Ujian Nasional. Sebagian besar memprotes keras, kalau tidak bisa dikatakan mengutuk, kenekadan pemerintah menyelenggarakan UNAS yang jelas-jelas mengebiri hak sekolah untuk menilai sendiri kemampaun anak didiknya. Tapi okelah, cukup sudah karut marut dan kecaman keras itu. Posting ini tidak akan menambahnya. Saya hanya ingin berkomentar tentang standar pendidikan, yang menjadi salah satu akar permasalahan itu.

Sebagian besar orang  berpendapat bahwa karena kondisi sekolah yang sangat beragam di tanah air ini, maka tidak sepantasnya standar yang sama dikenakan pada setiap sekolah. Standar yang sama, demikian menurut argumen ini, menjadi bias terhadap anak-anak dari sekolah  yang tidak mampu membiayai penyediaan sarana penunjang, seperti lab, perpustakaan, komputer, bahkan guru yang bagus sekalipun. Nah, pertanyaan saya: kalau begitu standarnya yang seperti apa?

Kebanyakan argumen yang saya baca setidaknya sampai hari ini berhenti pada inti argumen: standar seharusnya tidak sama. Nah, secara kritis saya akan menanyakan: mana ada standar yang tidak sama? Dimana-mana standar itu ya seharusnya sama. Kedua, kalaupun standarnya dibuat berbeda, seperti apa standar yang berbeda itu?

Pemikiran saya sederhana saja: standar itu sifatnya seharusnya mutlak. Contohnya: kalau mau ke Amerika Serikat untuk kuliah disana, standarnya sudah pasti: nilai TOEFL tidak kurang dari 550 (untuk paper-based test). Maka kalau kita mau berkuliah disana, ndak peduli saya anak petani dan Anda anak pejabat, saya makan nasi jagung Anda makan nasi goreng lengkap bergizi penuh, skor kita sama-sama harus minimal 550; kurang daripada itu ya tidak akan diterima.

Nah, maka kalau standar pendidikan ini mau dibuat bervariasi, variasi yang seperti apa? Apakah maksudnya setiap daerah/kabupaten menetapkan sendiri standarnya sesuai kebutuhan lokal? Jadi untuk daerah Bali, misalnya, standarnya tidak usah memasukkan kemampuan matematika yang terlalu tinggi; sebaliknya, kemampuan bahasa asing secara lisan harus tinggi, karena daerah tersebut kaya dengan potensi turismenya. Daerah lain yang dekat dengan pusat industri membuat standar yang lebih terkait dengan kemampuan mengolah bahan baku, dan sebagainya. Apakah seperti itu yang dimaksud?

Dari yang saya baca di beberapa blog, beberapa pendapat mengatakan bahwa di negara-negara maju ketercapaian standar amat tergantung kepada motivasi pribadi sang murid. Tugas sekolah dan guru adalah mengenali potensi anak didik dan memberinya ruang semaksimal mungkin untuk mengembangkan potensi tersebut. Di AS, setiap negara bagian punya standar pendidikannya sendiri, dan prinsip “tergantung pada kemampuan dan kemauan individu” itu dijalankan dengan lancar karena memang sudah mendarah daging dalam budaya mereka yang individualis (baca: individual sudah dilatih sejak dini menentukan dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya sendiri).

Tapi itu di negara maju. Di negara kita, pertanyaan saya tadi masih relevan untuk dipikirkan: standar pendidikan yang mana yang mau ditentukan?

 

 

Posted in: Uncategorized