Kebiasaan Buruk Murid Indon

Posted on April 18, 2013

0


Sekian puluh tahun (tepatnya sejak 1993) mengajar di lembaga pendidikan tinggi membuat saya hafal dengan kebiasaan buruk murid-murid Indon. Kata “Indon” saya pergunakan kalau sedang menulis tentang hal-hal buruk yang melekat pada bangsa Indonesia. Nah, yang mau saya ungkapkan adalah hal-hal yang memang kurang bagus, terutama dalam ruang lingkup kampus.

Kalau ada pertemuan atau sesi kelas, hampir dapat dipastikan sebagian besar murid Indon akan memenuhi deretan bangku belakang. Apakah ini berlaku untuk para mahasiswa S1? Oh, endak, ini merata; ndak yang murid SD ndak yang S3 ternyata kelakuannya sama aja: selalu duduk di belakang.

“Emang masalah buat loe kalau gue duduk di belakang?” demikian sergah seorang pembaca yang mungkin merasa tersungging. Ya, endak masalah juga sih, tapi itu menunjukkan mental kurang percaya diri. Lho kok tahu kalau kurang pe-de? Coba deh kalau Anda sebagai dosen atau pembicara, Anda minta mereka duduk di depan, pasti pada ogah semua atau pura-pura ndak mendengarkan. Nah, kalau mereka pe-de, disuruh duduk di depan pun pasti akan langsung bangkit dan duduk di depan.

Ah, masalah duduk aja kok dipersoalkan to ya? Ya udah, okelah mau duduk dimana aja terserah, tapi kelakuan yang berikut ini makin membuat citra mahasiswa Indon kurang baik:

Begitu diminta maju ke depan untuk menyajikan sesuatu, murid-murid Indon akan saling tunjuk: “Ayo, kamu aja yang maju!”,; “Ah, endak, ah, kamu aja!”; “Ya wis dia aja, kan dia yang paling pinter.”; “Lho, kok aku? Ya emoh, kamu ae wis sing maju!”. Gitu kan? Apakah ini dilakukan oleh anak-anak di bangku SD? Ah, endaak, gak pandang usia mah yang ini: dari SD sampai S3 sama aja kok.

Yang lebih parah dan sangat tercela di mata saya adalah ini: begitu ada seorang murid yang maju kemudian menjawab, dan ternyata jawabannya salah, eh, teman-temannya menertawakan dia! Bayangkan betapa terkutuknya anak-anak ini: sudah tadi saling tunjuk memaksa temannya untuk maju, eh, begitu temannya maju dan ternyata jawabannya salah atau penampilannya buruk, malah mereka ketawa. Jadi karakternya sudah makin jelek murid-murid Indon: udah ndak pe-de, jahat pula.

Pagi ini saya mengajar di kelas Linguistics. Saya tanyakan satu pertanyaan: “Apa definisi semantik? Coba baca halaman sekian, dan ungkapkan dengan kata2 sendiri definisi itu”. Lama tak ada yang menjawab; semua diam di kursinya, sebagian melamun, sebagian ndak bawa buku, sebagian membaca tapi belum ngerti juga. Lama sekali suasana seperti itu berlangsung. Akhirnya saya mengatakan: “kelas saya adalah student-centered. Itu artinya kegiatan belajar dimulai dari kalian sebagai mahasiswa, bukan saya. Kalau kalian tidak bereaksi apapun terhadap stimulus yang saya berikan, baik, mari kita akhiri kuliah hari ini”.

Kalau sudah dicambuk seperti itu barulah ada satu dua yang angkat bicara dan mengutarakan pikirannya, yang kemudian menjadi titik pangkal sebuah diskusi dan penjelasan yang lancar dari dosen.

Sulit-sulit gampang memang untuk merubah kebiasaan buruk mahasiswa Indon. Perlu pendekatan agak radikal dan konsisten.

Posted in: Uncategorized