Cem Macem

Posted on April 16, 2013

0


Judul “Cem Macem” meniru label yang ditempelkan ayah saya di rak bukunya ketika saya masih kecil dulu. Beliau punya rak buku besar memuat berbagai macam buku; nah, rupanya ada beberapa buku yang sulit dikategorikan secara tunggal, maka dibuatlah label “Cem Macem” itu untuk menampung beberapa buku geje tadi, ha ha ha!

Karena namanya aja Cem Macem, maka posting ini memuat bermacam-macam kilasan peristiwa.

Kamar kerja saya sudah berubah jadi kamar tidur buat si bungsu. Hilang sudah meja kerja yang dulu berisi gadget, netbook, dan beberapa buku tebal yang selalu saya baca itu. Sekarang yang dulunya meja kerja itu sudah digantikan oleh sebuah bed ukuran single, dan didepannya ada sebuah lemari agak tinggi untuk menyimpan pakaian dan buku. Si bungsu tidur disitu sekarang. Sudah layaklah dia punya bed dan kamar tidur sendiri, berhubung usianya sudah 10 tahun. Selama ini dia tidur sama Mamanya dan kadang-kadang dengan kakaknya, tapi mungkin karena malu saya ledekin terus dan juga karena dia sadar sudah mulai besar maka dia pun tidak keberatan pindah ke kamar itu. Anak memang begitu; dulu saya pun begitu: waktu masih kecil maunya tidur rame-rame sama adik-adik karena takut setan; begitu sudah remaja dan dewasa lantas minta kamar sendiri dan mulai membangun privasi, merasa terusik kalau harus sharing kamar dengan orang lain, walaupun itu saudara sendiri.

Anda percaya hantu? Ndak ya, ya sudah. Saya mau cerita sedikit tentang hantu di rumah saya. Lagi sedikit terlelap jam setengah sepuluh malam, saya mendengar pintu kamar dibuka. Biasanya si bungsu yang suka membuka pintu tanpa permisi ini; betul juga, ketika saya beranjak sedikit dari bed, saya lihat dia sekilas berdiri di depan pintu kemudian melangkah ke ruang tengah.

Saya bangkit dari bed dan membuka pintu lebar-lebar. Si bungsu sudah lenyap; ruang tengah kosong. Saya masuk ke kamar si sulung karena tahu bahwa si bungsu juga sering main disitu. Begitu pintu terbuka, saya terkesiap: si bungsu ternyata sedang tidur pulas. Kakaknya bilang bahwa dia sudah tidur setengah jam yang lalu.

Sampai detik ini pun tak seorang pun di rumah saya bisa menjelaskan kenapa ada “si bungsu” yang membuka pintu kamar saya jam setengah sepuluh malam, sementara ternyata dia sudah tertidur nyenyak sejak jam sembilan.

Kata orang, hantu itu memang bisa menyamar menjadi sosok orang-orang yang kita kenal. Namun orang-orang juga bilang bahwa “ndak ada itu ceritanya hantu menakut2i manusia; justru hantu itulah yang takut sama manusia”.

Mana yang benar, saya juga tidak tahu. Ya sudah, dinikmati saja kemerindingannya sebagai bagian dari hidup berdampingan dengan penghuni-penghuni dari dimensi lain.

Posted in: Uncategorized