Kemampuan Analisis Sebagai Bekal Bernalar Kritis

Posted on April 11, 2013

2


oleh

Patrisius Istiarto Djiwandono

(tulisan ini dimuat di Malang Post edisi 13 April 2013)

Kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu komponen penting dalam agenda pendidikan Indonesia. Salah satu elemen yang harus selalu ada dalam kemampuan bernalar kritis ini adalah kemampuan analitis. Penalaran analitis akan banyak membantu dalam banyak olah pikir akademis, utamanya dalam mata pelajaran sains, matematika, dan membaca. Rendahnya kemampuan siswa Indonesia dalam tiga pelajaran ini sebagaimana dilansir oleh media massa akhir-akhir ini bisa jadi disebabkan oleh rendahnya kemampuan analisis mereka. Tulisan ini bermaksud mengupas secara padat singkat apa itu kemampuan berpikir analitis dan bagaimana para pendidik bisa menanamkannya lewat praktek pembelajaran. Penekanan utama diletakkan pada kemampuan membaca karena kegiatan ini lah yang sebenarnya menjadi ujung tombak dalam membuka wawasan dan cakrawala pengetahuan seorang insan terpelajar.

Pengertian kemampuan analisis
Kemampuan analisis sendiri termasuk dalam Taksonomi Bloom yang selama ini dipegang sebagai pedoman dalam menyusun tingkat kerumitan pembelajaran di berbagai tingkat dan untuk berbagai pelajaran. Tindakan menganalisis dimengertikan sebagai tindakan memecah-mecah suatu gugus data menjadi beberapa bagian, kemudian mengaitkan bagian-bagian itu dalam suatu hubungan yang bermakna dan bermanfaat untuk memecahkan masalah. Dalam matematika, misalnya, kemampuan analitis membuat seorang siswa mampu memecah-mecah suatu soal cerita menjadi faktor-faktor yang harus dirangkaikan (ditambahkan, dikurangi atau dibagi) untuk sampai pada jawaban final. Dalam sains, seorang siswa akan mampu melihat mana faktor atau kondisi yang menjadi akibat dari beberapa faktor yang lain. Ketika menelaah gejala banjir, misalnya, mereka yang berkemampuan analitis akan bisa memilah-milah gejala itu menjadi penyebab (curah hujan yang tinggi, arus sungai yang terhambat karena sampah atau pendangkalan, tanah yang tidak lagi bisa menyerap air dengan cepat karena sudah berubah menjadi beton, dan saluran air yang macet) dan akibat (debit air yang melonjak, air yang meluber dari sungai, dan genangan air di jalan-jalan).

Penerapan dalam membaca
Jika kemampuan matematika sudah sejak lama dilatih sehingga dimensi analitisnya seolah sudah otomatis, pengajaran membaca belum secara intensif memantapkan aspek ini. Ini terlihat dari masih rendahnya kemampuan membaca siswa-siswa Indonesia. Kemungkinan besar pemahaman mereka baru sampai pada tingkat pemahaman literal (memahami yang tersurat saja) dan belum sampai pada pemahaman inferential (menarik kesimpulan dari yang tersurat). Pada tingkat taksonomi Bloom yang terbaru menurut Pohl (2000), kemampuan siswa bisa jadi baru sebatas pada mengingat sampai penerapan. Diperlukan upaya lanjutan untuk mendorongnya ke tingkat yang setapak lebih tinggi, yakni menganalisis.

Dalam menganalisis, perlu dilatih kemampuan memecah informasi menjadi beberapa bagian yang kemudian dirangkai dalam satu ikatan bermakna dan fungsional. Diperlukan juga kemampuan membandingkan dan mengorganisir. Dalam mengasah kemampuan ini ketika mengajar membaca, seorang guru terlebih dulu memberikan pengertian analisis. Langkah ini penting karena tanpa persepsi yang sama terhadap apa itu analisis, para murid bisa melakukan hal yang berbeda-beda. Langkah berikutnya adalah melakukan pendekatan whole-to-part, yakni menganalisis komponen-komponen suatu teks secara keseluruhan, dan berangsur-angsur menganalisis paragraf demi paragraf, bahkan kalau perlu kalimat demi kalimat.

Teks bisa dianalisis menjadi paragraf pendahuluan, isi, dan penutup. Lebih jauh, paragraf pendahuluan bisa dianalisis menjadi latar belakang dan kalimat pokok (thesis statement). Begitu mendapatkan kalimat pokok, siswa bisa diminta untuk memprediksi apa saja yang mereka bisa dapatkan dari bagian tubuh teks.

Masuk pada paragraf-paragraf isi, siswa dibimbing untuk menganalisis sekelompok kalimat atau beberapa gugus paragraf. Melalui langkah pengorganisasian informasi, mereka bisa memilah-milah mana yang termasuk uraian tentang permasalahan, dan mana yang termasuk alternatif solusi, jika teks itu berpola retoris problem-solution. Jika teks tersebut berupa paparan ilmiah, siswa bisa diminta untuk menganalisis penggalan teks menjadi langkah pertama, langkah kedua dan seterusnya dalam suatu proses, atau mengenali komponen-komponen suatu alat. Jika teks berupa argumentasi, mereka bisa diminta untuk mengenali mana inti argumen, dan mana pendukungnya. Bahkan mereka bisa dilatih untuk membedakan mana pendukung yang meyakinkan, dan mana yang terasa agak lemah. Semua rentetan kegiatan ini melatih mereka untuk menjadi fasih dalam melakukan analisis, yang pada intinya adalah memecah menjadi bagian-bagian dan melakukan perbandingan dan penataan untuk menghubungkan kembali bagian-bagian tersebut menjadi satu proposisi yang bermakna, atau satu sarana yang efektif untuk meningkatkan kualitas pengetahuan mereka.

Sebagai penutup, bisa ditegaskan bahwa kemampuan analisis tidak hanya terbatas pada pelajaran sains dan matematika, namun bisa dengan relatif mudah diterapkan pada pelajaran membaca. Langkah pemecahan menjadi beberapa komponen, menata butiran-butiran informasi dan melakukan perbandingan sehingga sampai pada kesimpulan yang komprehensif akan banyak menajamkan daya penalaran para siswa.

Posted in: Uncategorized