Nulis Fiksi

Posted on April 6, 2013

0


Nulis Fiksi

Sebagai seorang manusia, saya tidak mau hidup dengan logika terhadap dunia nyata terus2an. Ada kalanya saya ingin menderu-deru dengan imajinasi, khayalan, fantasi dan kreativitas. Sayangnya tidak banyak waktu untuk yang beginian. Waktu saya tersita nyaris sepenuhnya untuk mikiri urusan logis, struktur, rencana, dan evaluasi. Yah, saya memang digaji untuk begituan, namanya juga dosen yang nota bene profesor yg sedang menjabat sebagai Dekan. Tapi dalam seminggu selalu ada waktu sedikit untuk memanjakan belahan otak kanan dengan menulis blog atau bahkan cerpen di wall fesbuk. Itu saya manfaatkan sebaik2nya.

Saya menantang seorang dosen pria muda dari prodi lain yang saya lihat suka menulis cerpen di wallnya. “Ayo kita lomba nulis cerpen di wall dan kita lihat siapa yang lebih banyak mendapat ‘like’ dari fesbuker yg lain’. Dia menyanggupi. Dia nulis tentang vampir yang ndak tau terlibat urusan entah apa, sementara saya nulis tentang penggalan2 kisah romantis atau harapan2 sangat manusiawi. Fiksi dia melambung tinggi, sementara fiksi saya sangat membumi. Hari pertama kompetisi saya menulis tentang seorang malaikat Cinta yang sedang sibuk menyembuhkan luka batin banyak orang. Pendek saja, hanya lima kalimat. Dia menulis panjang lebar tentang vampirnya. Dalam waktu kurang dari lima jam fiksi saya di ‘like’ sembilan fesbuker, sementara fiksi dia tidak ada yang nge ‘like’ blas.

‘Ok, saya menyerah’, tulisnya.

Saya sejujurnya tidak pernah belajar nulis fiksi. Semuanya hanya berdasarkan naluri dan bakat. Apakah saya berbakat? Ya embuh. Kenapa ada beberapa orang yang suka tulisan saya? Ya embuh juga. Kenapa blog ini banyak dibaca orang? Ya embuh juga.

Anda lihat, itulah kerja otak kanan. Sangat spontan, berbasis naluri, dan hanya bisa menjawab ‘ya embuh (ya ndak tahu)’ ketika ditanya mengapa atau bagaimana.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized