Malaysia Boleh: Jalan-Jalan Ke Malaysia 2013

Posted on April 4, 2013

9


Liburan kali ini saya cuti dua hari. Saya masih suka bekerja di kantor, tapi sekali setahun ada baiknya mencari variasi hidup. Kali ini tujuannya adalah Malaysia, negeri jiran yang hubungannya dengan negara kita kayak anjing dan kucing: kadang bertengkar dan saling ancam tapi belum sampai pada tingkat frontal. Ah, tapi sudahlah, ini bukan tentang perang. Ini soal liburan. Saya dan istri hanya mau menambah wawasan dan pengalaman untuk kedua anak kami, karena kalau kami sendiri mah tidak terlalu perlu. Well, istri saya sih seneng dan kayaknya hukumnya wajib setiap tahun harus pesiar, kalau saya mah enggak. Pergi boleh, ndak ya ndak papa.

Dari Surabaya berangkat ke KL naik Tiger Airways. Kayaknya makin banyak penerbangan dengan tarif “rakyat jelata” seperti ini. Sebagian besar penumpang kayaknya Tenaga Kerja Indonesia, sebagian dari Madura. Walaupun namanya tidak sepopuler Air Asia atau Lion Air atau Garuda, tapi maskapai ini boleh juga: tepat waktu, efisien, dan terutama pilot-pilotnya sangat trampil membawa pesawatnya. Dua kali take off dan dua kali landing kami menikmati sentuhannya yang sangat lembut, nyaris tidak ada goncangan yang berarti. Kalah dong Singapore Airlines yang sampai sekarang saya kenang karena waktu mendarat nampaknya overshoot sehingga harus direm keras dan lumayan juga saya waktu itu kena tendang sekian G.

Di KL pun kami menginap di Hotel Sentral Pudu yang tarifnya 400 ribu per malam. Untuk kelas hotel seperti itu, cukup terjangkau. Kamarnya bersih, tidak terlalu luas namun cukup untuk 4 orang yang berukuran mungil seperti kami. Hotel bertingkat 15 ini terletak di jalanan yang relatif sepi. Jadi ingat pengalaman setahun yang lalu di hotel di daerah Geylang di Singapore: sepanjang jalan isinya pekerja seks komersial menjajakan dagangannya mulai subuh sampai malam.

Bicara soal jalanan, tadi saya bilang jalan di depan hotel relatif sepi. Tapi setelah sempat berkeliling sedikit, ternyata ya itulah tipikal jalanan di Kuala Lumpur: relatif sepi, sepeda motor hanya dua atau tiga, sisanya mobil-mobil mewah, bis, dan di atas mendesing monorail. Yang seperti ini mah surga buat saya; maklum, dari kondisi jalanan di Tanah Air yang macet dan sepeda motor yang menggila—baik dalam hal jumlah maupun kelakuan pengendaranya—ke jalan-jalan luas yang relatif sepi. Hmmmm! Siapapun tidak ragu naik angkutan massal di sini: monorailnya bersih, tepat waktu, nyaman, bisnya juga demikian; kalau pun ada yang agak kurang bagus adalah taksinya yang kebanyakan mobil setengah bobrok. Malam pertama, kami dapat taksi yang jok belakangnya basah entah kena air apa . . .

Kondisi ini sama dengan kedua negara lain di Asia yang pernah saya kunjungi: Phnom Penh di Cambodia dan Singapore. Yang sedikit lebih ramai dan macet adalah Bangkok. Tapi rekor sepeda motor terbanyak di jalanan ya tetap menang di Indonesia.

Komunikasi lancar. Orang Malaysia mengerti bahasa Indonesia, dan banyak yang bisa bahasa Inggris, bahkan makelar bis di terminal pun mengatur turis-turis bule dengan bahasa Inggris yang pe-de: “You can wait here for the bus to KL Sentral, but you must queue!”. Wow, keren coy! Kapan ya bisa mendengar hal yang sama dari sopir angkot di Malang? Hmmm…masih jauh kayaknya.

Yang justru kedengaran lucu adalah bahasa Melayu mereka. Mulai dari bandara saja saya sudah dibuat senyum-senyum geli membaca bahasa Malaysia: “Tidak Diijinkan Masuk jika Tiada Kebenaran” (No Access without Valid Admission Entry); “Laluan Sahala” (Jalan Satu Arah), “Dapatkan Pulsa Percuma 24 Jam dari Digi Cell” (dapatkan pulsa gratis dari Digi Cell); “Lift Khusus Bomba” (lift khusus barang/petugas pemadam kebakaran); tiket yang tua (tiket sebelumnya); “Toko Kek (Toko Cake)” dan masih banyak lagi yang membuat kami geli.

Hari pertama kami mau ke Petronas Tower naik monorail. Sampai disana, langsung masuk mall guedhe yang namanya Suria Mall. Kami tanya orang-orang: “mana yang namanya PetronasTwin Towers yang merupakan salah satu gedung tertinggi di dunia itu?”. Aneh, mereka pada menjawab ndak tahu. Lho ini piye to? Orang Malaysia kok ndak tahu icon negerinya sendiri? Untung ketemu dengan sesama orang Indonesia yang dengan ramah mengatakan bahwa ya disinilah kakinya Petronas Tower itu. Saya baru ngeh setelah naik ke lantai tertinggi dan mendongakkan kepala ke langit-langit kaca: disana menjulang sebentuk bangunan kokoh seperti roket yang siap meluncur. O alaaaaaah….ternyata Suria Mall itu merupakan kakinya menara Petronas yang kondang itu! Pantas ndak kelihatan, lha wong kami berada pas di kakinya.

Lalu kami mencoba Petrosains, sebiah perjalanan menembus ruang waktu ke jaman dinosaurus dan seluk beluk perminyakan Malaysia. Sebelum masuk, berkali-kali pengumuman menyiarkan seribu satu larangan: tidak boleh memotret, tidak boleh bawa tas, anak-anak harus dijaga, tidak boleh bawa makanan, dan seribu satu lagi. Gitu terus berulang-ulang sehingga suasana di antrean itu terasa agak mencekam. Emang kayak apa sih di dalam, saya mulai merutuk karena kesal mendengarkan pengumuman yang berulang-ulang itu. Ternyata setelah masuk ke sebuah gua dengan sebuah kapsul berwarna hitam, kami disuguhi pemandangan pra sejarah dan alam purba, lalu lima menit kemudian diminta turun dari kapsul dan kami pun masuk ke sebuah ruangan yang penuh alat simulasi sains dan teknologi, persis kayak yang di Jatim Park itu lho! O alaaaah. . . . . dasar Malaysia lebbbbaaaayyy! Kalau cuma kayak ginian mah di Batu juga adaaaa, teruk lah kau Malay, pake nakut2i segala dengan pengumuman bernada mengancam yang berkali-kali tadi, ha ha haaa!

BG5tXEZCEAElJzz.jpg large

Di taman sains itu si bungsu berpuas-puas main ini itu memuaskan keingintahuannya. Tak terasa dua jam berlalu. Kaki rasanya sudah mau cuklek karena jalan kesana kemari. Kami berfoto-foto sebentar di depan Mall, memandang gedung Petronas kembar yang menjulang hampir 500 meter dari atas tanah. Diamput, memang megah sih. Terbayang adegan film-film action di jembatan penghubungnya; sekilas terbersit keinginan terjun bebas pakai parasut dari atas . . . .

photo

Hari kedua, ke Genting Highland yang konon pusat judi terkenal dunia. Dari kota naik bis sekitar satu jam ke stasiun Cable Car nya. Lalu disana antre mengular bersama ratusan orang lain untuk bisa naik ke Cable Car nya. Begitu Cable Car kami meluncur menembus kabut ratusan meter dari atas hutan, suasana langsung sepi, semua tegang dan agak ngeri-ngeri gimana gitu meluncur melalui tali baja naik ke Genting nya. Di tengah-tengah keheningan yang menggigit namun tetap asyik itu tiba-tiba si bungsu yang masih polos itu nyeletuk: “Kalau kabelnya putus yak apa ya??”. Kontan saya menyahut: “Jojo, shut up!”. Pamali lho mengucapkan sesuatu tentang bencana ketika kita sedang di tengah perjalanan. Sebelumnya, si sulung sudah membuat saya terpingkal-pingkal karena hal yang sama di pesawat: melihat flap yang bergoyang-goyang kena angin waktu mau mendarat, dia nyeletuk: “kok kayak karton sih sayapnya?”. Huss! Ha ha haa! Saya agak gregetan tapi juga langsung terpingkal-pingkal di seat karena komentarnya itu.

BG5tCbGCUAEMHaa.jpg large

Perjalanan menegangkan tapi memikat itu berlangsung selama 20 an menit. Sampai di Genting sekali lagi mall dan taman hiburan menyambut kami. Pertama kami makan dulu, nasi ayam Hainan dan nasi bebek di restorannya. Lalu kami masuk ke dalam yang ternyata juga nggak jauh beda dengan Time Zone di Matos. Si bungsu main tembak-tembakan, nembaki pin bowling yang kayaknya sudah dibuat berat sehingga ndak mungkin jatuh biar dihajar peluru gabus. Sial, awak-awak ditipu aja nih sama Malay-Malay itu, ha ha haa!

Yang membuat saya agak heran disini adalah caranya kaum muda berpakaian. Yang etnis Chinese, terutama yang perempuan, suka sekali memakai hot pants. Yah, mungkin ya karena mereka sadar punya aset berupa tungkai panjang kuning langsat dan bagian atasnya itu yah . . . .Yang keturunan India lebih pede memakai T-shirt dan jeans, sementara yang Melayu lebih suka memakai jilbab atau bahkan jilbab yang hanya menyisakan bagian mata itu. Kayaknya gadis-gadis Indonesia kalah berani dibanding mereka dalam hal berpakaian. Ini hampir sama beraninya dengan di Bangkok dan Singapore nih.

Pulang kembali kami ke KL Sentral menjelang sore, dan disambut oleh sepupu saya yang sudah beberapa tahun tinggal di KL. Dia membawa kami ke restoran Bai Kut The untuk makan malam. Katanya yang enak disini adalah daging babi nya; jadi ya sudah kami santap babi malam itu, walaupun saya agak deg-degan karena kolesterol saya konon sudah tinggi . . .

Esok harinya hari terakhir, sepupu saya yang ramah itu masih mendesak untuk membawa kami ke Wong Kee restoran yang katanya terkenal di seantero jagad karena kelezatan masakan babinya. Bayangan saya tentang sebuah restoran mewah seperti New Hong Kong di Malang langsung buyar ketika sampai disana; ternyata resto itu sederhana saja, halah kayak depot pecelnya Mbak Pur di dekat STIKI itu lhoo, hanya agak lebih besar . . . . . Tapi book, ternyata sepupu saya benar, masakan babi panggang dan babi putihnya uenak polll! So piggylicious, ngooookkk!

BG5vH7nCUAA7jVH.jpg large

Penerbangan pulang ke tanah air dengan Tiger Airways lagi, kali ini satu pesawat dengan serombongan orang yang nampaknya baru pulang berhaji umrah. Di pesawat, diam-diam si bungsu menangis karena ‘masih kangen sama Malaysia’ katanya, ha ha haa! Begitulah anak kecil, dunianya adalah dunia suka cita dan seolah belum rela liburannya sudah berakhir dan besok harus sekolah lagi.

Posted in: Uncategorized