Kenapa Saya Anti Homo

Posted on March 27, 2013

2


Homoseks itu mungkin makin lumrah tapi tetap saja salah. Coba cari di Kitab Suci mana pun, apakah ada Nabi yang merestui hubungan sesama jenis. Pasti tidak ada. Seandainya manusia tidak pernah mengenal Kitab Suci pun, pasti akan sepakat bahwa dari segi fisik saja amatlah aneh kalau seorang pria tertarik secara seksual kepada pria lain, atau sesama wanita saling tertarik secara seksual. Itu sudah jelas penyimpangan. Penis dan vagina diciptakan untuk saling mengisi, supaya manusia punya keturunan. Maka memang secara fisik saja Sang Alam sudah mentakdirkan bahwa pria jodohnya adalah wanita. Lain daripada itu pasti sudah menyimpang.

Ketika saya menulis status di FB: “Straight Only”, seorang friend bertanya: “Homo gak boleh, dong?”; saya jawab: “Ya, ndak boleh. Hanya terima yang normal (straight)”. Dia balik bertanya: “Gimana pendapat Bapak tentang pernyataan yang mengatakan bahwa homoseksual itu penyakit?” Saya jawab langsung: “Ok, kalau sudah tahu itu penyakit, bukankah akan lebih masuk akal kalau yang sakit mencari pengobatan atau terapi supaya sembuh, dan bukannya mencari-cari pria normal untuk dijadikan kenalan atau pacar, atau bahkan mendirikan asosiasi homo seperti Gaya Nusantara itu?”

Untung saya tidak menjadi warga Amerika. karena ternyata bangsa yang konon besar dan hebat ini juga mengalami penyimpangan tingkah laku. Semakin banyak negara bagiannya merestui dan melegalkan perkawinan homo dan lesbian. Yang lebih menyedihkan, orang-orang puritan yang masih normal dan mencoba mengingatkan kebijakan menyimpang ini malah dikecam. Lho ini gimana to ya? Yang benar malah dimusuhi, yang sudah jelas menyimpang malah direstui. Bukan hanya sampai disitu: kebijakan terakhir adalah mengijinkan pasangan-pasangan aneh ini mengadopsi anak! Bayangkan, bagaimana seorang anak kecil tumbuh menjadi dewasa dalam lingkungan yang sudah nyeleneh dan menyimpang itu. Mereka pasti tidak akan mempunyai persepsi seks yang normal; buat mereka yang “normal” pastilah sesama lelaki atau sesama perempuan berciuman, saling membelai, saling mengungkapkan gejolak nafsu. Jadi kalau anak-anak ini nantinya tumbuh menjadi homo juga, itu ya karena sejak kecil sudah ditanamkan dalam alam bawah sadarnya bahwa homo itu “normal”. Menyedihkan, tapi itulah Amerika. Sesat.

Direstuinya perkawinan homo akan merangsang penyimpangan-penyimpangan lain untuk mendapatkan perlakuan yang sama. Maka jangan heran kalau nanti makin banyak orang pedophilia (orang yang secara seksual terangsang pada kanak-kanak) meminta legitimasi juga untuk hidup layaknya suami istri dengan kanak-kanak yang disukainya. Lalu tak lama kemudian orang-orang yang mengalami penyimpangan dalam hal lain entah apa lagi juga akan meminta perlakukan yang sama, dan begitu seterusnya. Mengerikan.

Indonesia masih terus berjuang menegakkan eksistensinya, memerangi borok-borok korupsi dan etos kerja yang rendah. Rakyatnya masih bergulat dengan kekerasan atas nama agama, korupsi, dan sebagainya. Amit-amit jangan ditambah dengan masalah homoseks yang dibiarkan bertumbuh subur baik dalam skala maupun kevokalannya meminta pengakuan. Homo Indon cukup tiarap aja, pacaran backstreet, masang foto-foto cabul di socmed, cari teman di socmed, dan siap-siap mendapat verbal abuse dari seorang anti homo seperti saya.

Posted in: Uncategorized