Membesarkan Dua Anak

Posted on March 22, 2013

0


Anak saya dua. Ini fotonya. Tapi ini foto waktu mereka masih kecil, si sulung masih 10 tahun dan si bungsu masih 4 tahun. Sekarang si sulung sudah 16 tahun dan si bungsu 10 tahun. Si sulung sudah tidak berambut panjang lagi, tapi pendek Korean style, sementara si bungsu ya masih seperti itu wajahnya, agak imut.

With My Kids at Atlas

Saya paling sedih kalau mendengar anak-anak saya menjahati temannya. Dulu si sulung pernah marah sama temannya, anak tetangga. Lalu si teman ini pura-pura diajaknya main. Begitu si teman mendekat, si sulung memukulkan batu yang disembunyikannya di balik punggungnya sedari tadi. Blethak! Pas kena mulutnya sampai giginya setengah rompal. Tentu saja si teman menangis gerung-gerung. Hebohlah lingkungan itu karena ada anak cewek memukul temannya yang cowok dengan batu. Saya dan istri saya sampai tergopoh-gopoh meminta maaf kepada ayah dan ibu anak itu. Ibunya sampai nangis melihat anaknya luka dihantam batu. Kok ya untungnya mereka memaafkan dan ndak menuntut macam-macam lho. Tetangga yang baik; beberapa bulan setelah peristiwa itu malah mereka mengajak si sulung saya untuk sama-sama makan dengan anak-anaknya di KFC.

Si bungsu lain lagi tingkahnya. Walaupun terkesan imut, tapi anak ini termasuk jahil di kelas dan kadang-kadang bisa agresif juga. Kalau dia sudah selesai sementara teman-temannya belum, maka berkelilinglah dia dari satu meja ke meja lain, menggoda teman-temannya. Suatu ketika, seorang ayah melapor ke istri saya melaporkan tingkah si bungsu yang mencekik anaknya sampai menangis.

Ketika berita itu sampai ke saya sepulang kantor, saya sampai memerlukan beberapa kali untuk menegur dan menasihati si bungsu yang nakal itu. Saya tipe ayah yang tidak pernah marah membentak-bentak atau bahkan memukul anak, tapi saya akan memberikan teguran asertif berulang-ulang. “Kamu tidak boleh begitu, Jo. Kamu sendiri kalau digitukan gimana rasanya? Sakit kan? Kalau kamu menjahati temanmu, suatu ketika nanti kamu juga dijahati orang lain. Papa sedih kalau terima laporan dari ayah ibunya temanmu, bilang kamu menjahati anaknya. Nanti dipikir ayahnya Jojo ini tidak bisa medidik anaknya.”

Istri saya dan adik saya mengatakan bahwa anak-anak saya bersikap agresif seperti itu karena dulu ketika saya masih seusia mereka, saya pun juga dikenal “ringan tangan” sama teman-teman. Tapi itu kan dulu. Semakin saya tua, semakin saya benci kekerasan. Makanya saya prihatin sekali ketika ada kasus perkelahian yang sampai melukai salah satu mahasiswa di Fakultas saya. Buat saya kontak fisik yang menjurus pada kekerasan sudah bukan lagi cara manusia menyelesaikan masalah-masalahnya.

Tadi pagi si bungsu menyerahkan sebuah buku yang menurut dia bagus. Ketika saya lihat, ternyata buku tentang senapan mesin beragam model dari tahun ke tahun. Yaah, namanya juga masih lelaki anak-anak, ya wajarlah kalau dia suka melihat senjata api. Kalau dia ndak suka kayak gituan dan malah milih bunga ntar sayanya juga yang bingung. Jadi ya sudah lah, saya temani dia membaca buku penuh gambar itu sambil mengharapkan semoga kelak ketika dia tumbuh dewasa naluri kekerasannya padam dan diganti oleh urat welas asih untuk sesamanya.

Posted in: Uncategorized