Kelas Terbalik

Posted on March 20, 2013


Kelas terbalik. Istilah Inggrisnya “flipped classroom”. ‘Flip’ itu artinya “membalik”, kayak kalau orang penjual martabak membalik adonannya di atas wajan supaya matangnya merata itu lho. Nah, ini juga begitu. Bedanya yang dibalik di kelas adalah urutannya. Kalau biasanya kelas konvensional dimulai dengan penjelasan dosen, kemudian diskusi di kelas dan dilanjutkan dengan tugas-tugas terstruktur di rumah, maka kelas terbalik diawali dengan tugas-tugas untuk dikerjakan, kemudian baru hasilnya disajikan di depan kelas, dan mahasiswa bisa saling bertukar pikiran tentang isi jawaban mereka disertai pengarahan dari dosen.

Kelas terbalik juga dicirikan oleh penjelasan dari dosen yang sudah direkam, kemudian diunggah ke situs video, dan diputar ulang oleh murid-muridnya. Istimewanya, kalau sang murid merasa dia belum begitu paham suatu bagian ceramah sang dosen, video itu bisa diulang lagi beberapa kali pas di bagian yang dia belum jelas itu. Sebaliknya, kalau dia sudah paham, dia bisa mempercepat ke bagian selanjutnya, persis seperti orang menikmati sajian musik di CD.

Kelas terbalik memerlukan koneksi Internet yang sangat diandalkan, sebab ketika mengerjakan tugas-tugas mandiri tersebut, mereka akan memerlukan bantuan Google, wikipedia, Youtube, bahkan Facebook, Scribd dan beribu jenis fasilitas maya lainnya. Yang jelas, sang dosen harus berwawasan luas dan berpikir terbuka, sebab bisa saja murid-muridnya datang ke sesi tatap muka dengan beragam jawaban untuk tugas-tugas yang telah dikerjakan. Pada faktanya, kemungkinan besar tidak akan ada satu jawaban tunggal yang dianggap maha benar oleh peserta kuliah, apalagi kalau menyangkut topik yang memang lentur, tidak eksak seperti 1 + 1 harus dan pasti 2.

Sisi baik kelas terbalik mengkompensasi kelemahan yang sering dirasakan oleh peserta kuliah online, yaitu tidak adanya sesi tatap muka. Ya, peserta kelas online memang tatap muka, tapi mukanya yang ketatap laptop atau layar PC karena ya memang itu modalnya. Nah, kelas terbalik masih menyediakan adanya sesi tatap muka dimana manusia berinteraksi dengan sesamanya, tidak melulu layar komputer atau tablet. Survei dimanapun menunjukkan bahwa manusia, seaneh-anehnya mereka kayak generasi Z sekarang, ternyata memerlukan untuk masih melihat sesamanya dan berkomunikasi tatap muka. Itu sebabnya sesi offline masih akan diperlukan. Kalau ternyata lokasi para peserta sangat berjauhan, semoga teknologi semakin maju sehingga video conference yang sekarang masih terkesan banyak macetnya itu bisa lebih lancar dan menghadirkan suasana yang mirip kelas.

Kelas terbalik. Saya beruntung bisa mempelajari sedikit tentang kelas ini ketika mengikuti MOOC Digital Culture di Coursera bulan lalu. Ini bisa menjadi alternatif perkuliahan kalau nanti Ma Chung sudah memutuskan untuk menyelenggarakan kuliah berbasis teknologi informasi yang sifatnya multidisiplin, fleksibel, dan bisa diikuti oleh peserta di berbagai lokasi yang berbeda.

Posted in: Uncategorized