Pakaian Mahasiswi: Jegging Legging dkk

Posted on March 15, 2013

0


Tidak rame membahas soal pakaian mahasiswa, karena pakaian mereka dari sejak jaman dinosaurus sampai sekarang ya tidak berubah: kemeja, atau kaos berkerah, dan celana panjang. Sudah.

Lain dengan mahasiswi: pakaiannya bisa seribu satu macam ragam. Dengan maksud menjaga ketertiban dan tata krama dalam berpakaian, sudah layak dan sepantasnya kalau kampus ini mengeluarkan peraturan yang khusus ditujukan untuk kaum hawa muda: “berpakaian dengan cara yang tidak melanggar batas kesantunan budaya Timur”. Secara gampang, instruksi itu diartikan sebagai bentuk pakaian yang bukan berupa rok mini atau pakaian sangat ketat sehingga lekuk liku tubuh kelihatan, dan tidak terbuka di bagian pundak sampai ke dada.

Ternyata pada kenyataannya tidak segampang itu. Beberapa hari setelah penegasan tentang bentuk pakaian seperti itu keluar ke seluruh sivitas akademika, memang terjadi perubahan cara berpakaian yang signifikan: hampir semua wanita muda ini berpakaian rapat dan panjang dan dus sopan. Tapi beberapa bulan kemudian beberapa di antaranya muncul dengan pakaian kreasi lain yang membuat si penulis peraturan itu pasti pusing sendiri.

Salah satunya saya lihat di kelas saya suatu siang. Mengenakan blus berwarna sangat cerah, entah memang desainnya sudah demikian atau bagaimana, kancing blus itu nampaknya kurang satu, dan sialnya (atau “untungnya” ya?) kurangnya itu di bagian atas sendiri. Jadi bisa dibayangkan pemandangan yang kemudian tersaji: kulit kuning bersih langsat terbungkus blus berwarna cerah yang longgar namun agak terbuka di bagian atasnya . . . .itu masih diaksentuasi oleh rambut panjang yang beberapa helainya terjulur jatuh di pundaknya ketika dia sedang asyik menulis jawaban kuis besar di bangkunya. . . .

Belum habis dari “keterkejutan” itu, menjelang akhir kelas seorang temannya maju ke depan menanyakan sesuatu. Nah, anak ini juga membuat saya tercengang dengan model bajunya: hitam rapat menutup tubuh, namun ternyata pada bagian lengan dan beberapa bagian di atas tangannya ada bagian berajut agak jarang sehingga menyembulkan bagian-bagian itu. Keseluruhan penampilannya dengan baju seperti itu sulit sekali dkatakan jelek.

Beberapa minggu sebelumnya seorang mahasiswi dari kelas lain mempromosikan apa yang disebut jegging lewat BB. Karena dia pakai broadcast, otomatis saya juga kebagian pesan promosi itu. Karena penasaran, saya bertanya: “apa sih jegging itu?:. Dia menjawab: “oh, itu sejenis celana, Pak. Besok deh saya pakai”. Ketika esoknya dia muncul dengan jegging tersebut, saya baru tahu: jeans yang ketat membalut tungkai dan paha si pemakai. Karena si empunya jegging tadi bertubuh tinggi langsing dengan tungkai panjang, bisa dibayangkan pemandangan macam apa yang harus saya terima pagi itu ketika si pemakai dengan santainya duduk setengah selonjor di kursinya. . . . Ini namanya pakaian serba salah: dari depan memperagakan kemolekan bagian kakinya, dilihat dari belakang menonjolkan keindahan ragawi bagian tubuh yang lain . . . .

Betul kata seorang desainer terkemuka: “Anda tidak bisa memaksa seorang wanita menyembunyikan ke sexy annya. Kami punya seribu satu macam cara untuk membuatnya tampil indah dan molek tanpa harus memamerkan paha dan dadanya secara berlebihan”.

Posted in: Uncategorized