Kepingan Granat Maret 2013

Posted on March 15, 2013

0


Kemarin saya menghabiskan hampir satu sore penuh mulai jam 3 sampai jam 5.30 rapat di sebuah perguruan tinggi negeri di Malang. Lain padang, lain belalang , lain kampus, lain pula cara pikir dan gaya rapatnya. Saya dan atasan saya terheran-heran melihat cara rapat yang terkesan seperti rapat grup ketoprakan mau manggung itu. Agak penuh tawa dan cengengesan, padahal substansi yang dibahas jelas-jelas memerlukan perencanaan yang matang, ndak bisa sak det sak nyet (seketika jadi). Agak heran saja dengan gaya pikir mereka: bagaimana mungkin sudah mengagendakan kegiatan bulan depan padahal yang namanya Anggaran Dasar, visi, misi, struktur organisasi dan terutama deskripsi kerja per anggota belum jelas. Yang seperti ini mah ndak akan terjadi di kampus saya.

Malamnya, saya ke sebuah hotel di daearah Blimbing menemani makan malam seorang kenalan dari Selandia Baru bersama ayah dan istri serta anak saya yang bungsu. Kenalan ini dulunya sekelas dengan ayah saya di Victoria University of Wellington, New Zealand, tahun 1969. Usia saya waktu itu masih 2 tahun, dan 23 tahun kemudian saya mengikuti jejak ayah saya kuliah disana. Teman sekelas ayah saya itu orangnya baik, sangat gorgeous. Dia mau pensiun dua bulan lagi, dan malam itu kemungkinan adalah kunjungannya yang terakhir ke Indonesia. Yang menarik, dia bercerita panjang lebar tentang meditasi yang sudah beberapa tahun dia praktekkan, namanya Bright Light. Meditasi ini tidak seperti meditasi a la Buddha yang berdiam dan memusatkan pada keluar masuknya nafas, namun tetap melakukan kegiatan sehari-hari. Nah, ditengah-tengah kebisingan dunia sehari-hari dan di tengah kecamuk pikiran yang tidak pernah berhenti itu lah seorang spiritualis bisa menyadari penuh perbedaan antara Sang Jiwa dengan segala gemerisik duniawi tersebut. Jika dilakukan dengan benar, maka kita tidak akan lagi khawatir akan masa depan, dan mendendam atau menyesal atas masa lalu, karena yang terpenting pada setiap saat adalah kehadiran kita sekarang dan disini. SEKARANG, dan DISINI.

Menyadari bahwa yang sejati dan murni adalah sang Jiwa tadi, maka seseorang bisa dengan relatif mudah melepaskan tenaga positifnya, tidak mudah tersinggung atau terprovokasi oleh maraknya gejolak di sekitar dirinya. Buat dia, marah, cemburu, iri dan sebagainya itu adalah pertanda bahwa seseorang masih terikat oleh masa lampau dan kawatir akan masa depan. “Itu semua tidak nyata,” kata teman saya ini. “Yang lalu sudah tidak nyata karena sudah hilang, yang akan datang juga tidak nyata karena belum ada wujudnya. Maka yang nyata adalah ya sekarang ini dan disini.”

Lalu dia menunjukkan sebuah judul buku yang uniik, namanya “Chit Happens” (plesetan dari “Shit Happens”). Ketika pulang, saya langsung dari buku ini di Google dan langsung terkesan oleh cuplikan isinya. I gotta buy this book.

Posted in: Uncategorized