Si Cantik di Kelas

Posted on March 8, 2013

0


 

Para cantik di kelas. Merasa dirinya cantik, dan memang secara obyektif ya cantik, pakaiannya selalu classy, kadang malah sexy (mungkin kalau sedang PMS ya) sampai dosen prianya sudah ndak tega melihatnya takut dicap “tampang cuek tapi mata butuh”. Tapi saya hanya punya satu pertanyaan untuk yang beginian: “kamu mau apa disini?”

 

Lha ya iya toh. Pertanyaan yang logis. Kamu mau apa disini? Duduk selalu di barisan terbelakang,  kebanyakan diam tidak pernah kelihatan antusias atau aktif untuk menjawab pertanyaan atau mengemukakan pertanyaan, kadang datang selalu terlambat, di tengah pelajaran BB an melulu, kerja tugas ndak pernah niat karena hasilnya selalu sedang-sedang saja atau bahkan sangat jelek. Lantas mau apa juga ya kuliah? Sikap seperti itu jelas tidak menunjukkan orang yang sedang haus akan ilmu.

 

Berarti mereka datang ke kelas sekedar untuk memenuhi kewajiban presensi minimal 80 persen dari total tatap muka saja. Mereka ndak akan paham dan memang ndak mau paham konsep-konsep ilmu yang sedang disajikan dan dibahas oleh dosen dan teman-teman sekelasnya. Lalu kalau begitu mengapa masih ngotot kuliah?

 

Mungkin ingin pamer ke teman-temannya pakaian-pakaiannya yang trendy, gaya rambutnya yang modern, atau wangi parfumnya, atau sepatu barunya. Betapa memelas wanita-wanita muda seperti ini: dikiranya dunia ini hanya sebatas tebalnya make up dan trendinya pakaian-pakaiannya atau ketebalan hak sepatunya.

 

Saking sudah puluhan tahun mengajar, saya bisa membedakan mana wajah-wajah diam yang memperhatikan, yang ndomblong, yang skeptis, dan yang diam karena sudah sangat paham. Untuk yang diam karena memperhatikan atau ingin tahu atau sudah sangat paham, saya tidak merasa terusik. Namun ketika harus memandang wajah-wajah skeptis yang sebenarnya ndak niat kuliah dan hanya mau bersolek itu saya jadi hilang semangat. Baru kali ini ada wajah-wajah cantik tidak menyemangati sama sekali. Lha ya memang iya; lagipula buat saya di usia segini yang namanya cantik itu sudah seperti tebu kehilangan rasa manisnya, entah kenapa. . . . lewat aja . . . .

 

Posted in: Uncategorized