Pembelajaran Bahasa Daerah Melalui Kecintaan Terhadap Budaya Lokal

Posted on March 7, 2013

0


Patrisius Istiarto Djiwandono

(*Artikel ini dimuat di Harian Malang Post 7 Maret 2013 hal 4.)

Kebijakan terbaru dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah tetap mempertahkankan pembelajaran bahasa daerah di tingkat sekolah dasar sampai menengah. Keputusan ini senafas dengan semangat untuk melestarikan budaya nasional dan jati diri sebagai manusia yang berakar dari budaya lokalnya. Manusia terdidik Indonesia dibentuk menjadi manusia yang berwawasan global namun tetap dengan identitas sebagai insan lokal, suatu aspirasi yang secara elok dikemas dalam ungkapan “preserving local particulars to go global universal”.

Namun, kebijakan atau aspirasi luhur apapun pada akhirnya harus mewujud menjadi praktek penerapannya di kelas. Mengingat bahwa kurikulum sekolah juga telah dimuati bahasa Inggris dan bahasa Mandarin, yang kemungkinan besar akan terjadi adalah kontestasi antar bahasa-bahasa ini. Dengan alokasi pembelajaran 2 jam seminggu, perlu dicermati apakah pembelajaran bahasa daerah akan menjadi efektif kala dipacu menghadapi “pesaing” berupa pembelajaran bahasa asing dan mata pelajaran lain yang pasti memerlukan waktu tak kalah banyaknya. Tak kalah beratnya adalah tantangan berupa motivasi belajar dari para siswanya, yang nota bene dibesarkan dalam derasnya pengaruh budaya Korea, Inggris, dan budaya asing lain. Pertanyaan mereka dan para orang tuanya akan bersifat sangat pragmatis: “apakah bahasa daerah bisa dipakai untuk melamar pekerjaan dan mendapatkan pekerjaan mapan?”.

Untuk menanggapi tantangan di atas, sudah selayaknya dipikirkan pendekatan yang berbeda untuk pembelajaran bahasa daerah di sekolah. Pendekatan ini harus berawal dari penentuan tujuan pembelajaran bahasa daerah itu sendiri. Jelas bahwa tujuan tersebut tidak bisa disamakan dengan pembelajaran bahasa nasional maupun bahasa asing. Jika tujuan pembelajaran bahasa asing mengarah pada pembentukan kemampuan berkomunikasi dengan insan manca negara dalam konteks akademis ataupun bisnis, tujuan pembelajaran bahasa daerah adalah menanamkan pemahaman dan kecintaan terhadap budaya lokal. Jika tujuan ini disepakati, maka pertanyaan pragmatis dari murid dan para orangtuanya sebagaimana yang dilontarkan di atas menjadi tidak relevan lagi. Terhadap pertanyaan seperti itu bisa diutarakan bahwa bahasa daerah tidak semata-mata untuk mencari pekerjaan, namun untuk menanamkan rasa “berakar kuat pada budaya lokal” yang akan tetap diperlukan dalam kiprah sang murid di arena global. Maka menjadi tugas para pakar pendidikan bahasa dan pengambil kebijakan untuk mengemas pembelajarannya sehingga tujuan tersebut tercapai.

Dengan tujuan yang berbeda, bahasa daerah tidak bisa diajarkan seperti layaknya bahasa Inggris, bahasa Mandarin, bahkan bahasa Indonesia sekalipun. Metode Grammar Translation, audiolingual, kognitif-struktural sebagaimana yang dipakai untuk mengajarkan bahasa asing tidak akan tepat. Jika pembelajaran bahasa daerah dilakukan dengan penerjemahan kalimat, pembentukan kalimat, penghafalan kosa kata yang semua nyaris terlepas dari konteks besarnya, niscaya pembelajaran itu menjadi membosankan dan pada akhirnya membuat murid merasa tidak ada gunanya belajar bahasa daerah. Praktek di atas kadang-kadang masih diperparah dengan ujian yang mengharuskan siswa menghafal sekian puluh kosa kata daerah atau menuliskan kalimat-kalimat dalam bahasa tersebut yang tidak ketahuan konteksnya. Jika ini masih dilakukan, gejala murid malas mempelajari bahasa daerah seperti pada beberapa tahun sebelumnya akan terulang. Desakan pragmatis untuk lebih memusatkan tenaga dan konsentrasi pada bahasa asing membuat “tembok mental” dalam diri mereka yang akan menumpulkan keefektifan pembelajaran bahasa daerah.

Pembelajaran bahasa daerah harus berakar dari keyakinan bahwa bahasa sejatinya adalah bagian dari budaya, dan mencintai budaya berarti juga mau mencintai bahasanya. Maka, upaya awal yang perlu dilakukan adalah membuat para murid mengenali, memahami dan akhirnya mencintai budayanya sendiri. Untuk mencapainya, pembelajaran bahasa bisa saja diawali bukan dengan topik kebahasaan seperti pola kalimat atau kosa kata, namun pada kegiatan pengenalan budaya lokal. Kepada para murid bisa disajikan bentuk-bentuk kesenian atau kerajinan lokal beserta filosofi luhur yang melekat padanya. Untuk menyelaraskan dengan gaya belajar generasi muda sekarang, penyajian tidak harus dalam bentuk pemaparan monoton satu arah, namun bisa dibuat lebih interaktif atau bahkan dengan melibatkan mereka untuk berkegiatan secara aktif. Selanjutnya, kepada mereka bisa ditunjukkan bagaimana nilai-nilai lokal itu masih akan relevan dalam kiprah mereka di masa depan sebagai insan global. Nilai budaya Jawa “andhap asor”, misalnya, mengajar mereka untuk tidak pongah sekalipun reputasi mereka sudah mendunia. Wejangan “ojo tinggal gelanggang colong playu” akan mengajarkan mereka untuk senantiasa bertanggung jawab atas tindakan dan kebijakannya.

Untuk lebih menukik pada penguasaan kata dan ungkapan, kegiatan pengenalan budaya tersebut bisa dilengkapi dengan wacana singkat dalam bahasa daerah beserta terjemahannya. Kata dan pola kalimat yang ditekankan untuk dipelajari juga lantas menjadi selektif dan terkait dengan konteks. Praktek pemakaiannya dibuat langsung dan alamiah berupa dialog dengan guru, dengan pembetulan kesalahan ditekan seminim mungkin atau dengan cara yang tidak menjatuhkan semangat belajar sang murid. Tidak banyaknya kosa kata dan keterkaitannya dengan konteks akan membuat siswa merasa tidak terbeban dalam mempelajarinya. Pada akhirnya, pendekatan ini tidak harus selalu diakhiri dengan tes yang seketika diluncurkan, karena tahap mencintai budaya memang memerlukan penyemaian yang makan waktu tidak sebentar. Tes pun, jika ada, harus sangat setia pada materi yang baru diajarkan dan tidak bersifat mematikan keinginan belajar.
Pada akhirnya, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bahasa daerah menghadapi medan yang sedang berubah, dan oleh karenanya memerlukan pendekatan kreatif yang responsif untuk menjaga kelestariannya.

(Penulis adalah Guru Besar Pendidikan Bahasa di Universitas Ma Chung, Malang)

Posted in: Uncategorized