MaChungers Tidak Bisa Tertawa :(

Posted on March 6, 2013

0


Siapa pernah bermimpi akhirnya saya bisa-bisanya menjadi salah satu hadirin dalam salah satu sesi seminar yang dikomandani oleh adik saya sendiri? Ini terjadi sebulan yang lalu ketika adik saya, bekerja sama dengan kantor saya yang dulu, menggelar workshop tentang pentingnya komunikasi. Saya akui adik saya lebih piawai dalam presentasi; tidak seperti saya yang cenderung sangat serius dan monoton, dia bisa menyajikan poin2nya dengan variasi intonasi, selingan anekdot lucu-lucu, dan interaksi dengan audiens.

Tapi bukan itu yang ingin saya tulis disini. Yang ingin saya ulas adalah komentarnya sehari setelah acara itu selesai. Saya tanya dia: “gimana pendapatmu tentang Ma Chung?” Jawabannya menohok sekali: “orang2 kampusmu itu tegang banget ya? Kaku kayak habis kena formalin. Jarang sekali bisa ketawa lepas padahal fasilitator sudah bercerita yang lucu-lucu”.

Ah, kenapa jawaban itu sungguh pas benar dengan apa yang sudah lama saya rasakan. Memang, ndak tahu kena apa, ndak tahu siapa yang mengancam, ndak tahu kesambet setan mana, suasana gathering Ma Chungers, dimanapun itu, selalu kayak gitu: diam, tenang, tapi seperti ada nada seram mengancam yang membuat mereka semua tidak bebas ketawa atau mbanyol. Saking sebalnya, dulu saya pernah menulis entah dimana: “saya beri Anda satu milyar kalau bisa berpidato dan membuat orang Ma Chung ketawa”.

Apa sih salahnya ketawa terbahak-bahak begitu ada ungkapan yang lucu di depan? Saya menjadi satu-satunya orang yang tidak sungkan ngakak di sesi MOT atau Forkomil atau mbel gembel apalah namanya, karena saya masih waras dan saya menikmati jokes yang bagus. Saya tidak mau jaim harus menahan ketawa sampai kepentut-pentut atau terkencing-kencing semata-mata hanya karena saya adalah pejabat struktural dan guru besar. NO WAY! Buat saya, tindakan menahan tawa hanya supaya kelihatan bermartabat itu adalah hal paling menyedihkan dan paling tidak waras yang pernah saya dengar. Definisi waras buat saya adalah: bertindak wajar dan bereaksi wajar terhadap stimulus dalam batas-batas tata krama. Jadi, kalau ada geguyonan yang memang lucu, saya akan ketawa lepas, karena ya memang lucu, kok! Selama saya tidak ketawa sampai memuntahi wajah atasan atau rekan saya kan ya ndak papa to??

Hmm….. tapi pikir punya pikir, mungkin akar dari wajah-wajah kaku itu bisa lebih memprihatinkan kalau digali lebih dalam. Wajah-wajah kaku tanpa senyum dan tawa itu mengingatkan saya pada pejabat-pejabat di negeri komunis: semua kelihatan tegang, tanpa senyum, tanpa tawa, dan mengiyakan apapun yang dikatakan oleh sang pemimpin. Mempertanyakan, atau memprotes bisa dianggap pembangkangan dan hukuman mati atau kerja paksa seumur hidup di kamp. Suasana seperti itu hanya akan tercipta di bawah aturan yang sangat kaku, miskinnya komunikasi dan interaksi antar anggotanya, dan persepsi yang sangat buruk dari para anggota terhadap pemimpinnya yang dipendam sekuat tenaga dalam selubung ketakutan atau rasa sungkan yang berlebihan.

Maka saya tidak akan merubah style saya. Siap-siap aja budeg kalau tahu-tahu mendadak saya tertawa ngakak di suatu forum setelah ada seorang yang melontarkan lelucon yang mengena. Kalau ada yang memperingatkan saya, maka akan dengan mesra saya hadiahi acungan jari tengah saya dan saya katakan: “Emang masalah buat LOE???!!!!”

Posted in: Uncategorized