Kenangan Yudisium

Posted on March 2, 2013

0


Kenangan Yudisium

486764_573159659361378_1369132908_n

Satu hal yg sebenarnya saya tidak siap mental adalah upacara Yudisium Fakultas. Kaget aja ketika tahu2 harus memberikan sambutan dan tidak bisa cengengesan karena di acara itu saya menjadi tumpuan perhatian. Tak terasa sudah 3 kali saya menjalani upacara yudisium itu sejak 2011. Semuanya dengan kenangan tersendiri.

Juni 2011 adalah yg pertama. Saya masih ingat isi pidato sambutan saya persiapkan hanya dalam waktu kurang dari setengah jam saking terburu2nya. Saya bicara nyaris tanpa isi, sekalipun saya masih berusaha menekankan pentingnya para lulusan mempunyai pedoman hidup dalam menempuh karirnya setelah lulus. Acara itu pula ditandai dengan saya agak ngambek karena tidak diajak ikut serta ketika sesi foto bersama. Sekali lagi, karena acaranya juga mendadak, dan saya masih ingusan jadi dekan, setelah acara selesai maka semua bubar, dan saya ngacir kembali ke kantor. Eh, sorenya saya lihat di fesbuk foto2 para wisudawan di Theater Room, semua dosen hadir kecuali saya. Kontan saya komen ke foto2 itu: ‘nobody told me to stay for the photo session with my students!’. Staf prodi dan beberapa mahasiswa langsung tanggap bahwa si dekan tersinggung, lantas mereka mencoba mengatur ketemuan lagi supaya saya bisa berfoto bersama. Nah, yg jelas rencana itu ndak terwujud sampai sekarang karena mereka sibuk dewe mau wisuda dan sayapun lupa, ha ha haa!

Tahun berikutnya, Juni 2012, sudah sedikit lebih tertata karena wadek saya sudah mulai berperan banyak sebagai event organizer. Theater ditata rapi, backdropnya layar biru gelap dengan pencahayaan kuning, membuatnya teduh. Kali ini saya berjas lengkap, dan berpidato dengan teks di tangan. Topiknya adalah to be or not to be. Sekali ini saya cukup senang bisa mendapat kesempatan berfoto bersama para lulusan yg kebanyakan angkatan 2008.

DSC01156

Lalu Jumat kemarin adalah yg ketiga kalinya. Sekali ini saya berpidato tanpa teks. Tidak panjang lebar. Intinya adalah bahwa para lulusan harus siap menghadapi dunia yg sedang berubah makin cepat, dan bahwa mereka harus tetap menjaga karakternya untuk menjadi manusia sukses. Kalau saya bilang, ini lah pidato sambutan saya yg terbaik: padat, singkat, mengena, dan saya bawakan tanpa teks. Ketika malamnya saya posting di fesbuk, yang langsung me like mencapai belasan orang.

ME ALL

Tapi yang buat saya sangat berkesan di acara itu adalah ‘keberanian’ beberapa mahasiswi saya meminta saya berpose bersama mereka. Sekalipun mintanya dengan agak malu2 dan bersembunyi di balik punggung temannya, tapi baru pertama kalinya ada perlakuan seperti itu. Di angkatan sebelumnya, tak seorangpun meminta saya berpose bersama, entah karena mantan dosen memang sudah barang ndak penting lagi buat mereka, atau mereka malu memintanya.

ME DINA YUDI

ME RIA SADTONO

DSC01179

Angkatan 2009 ini dianggap oleh banyak dosen sebagai yang sejauh ini paling tenang, dan paling niat menyelesaikan studinya. Banyak diantaranya yang sudah selesai skripsi bahkan jauh sebelum acara yudisium. Mereka memang mahasiswa2 yang niat dan tekun, dan yang jelas gorgeous karena setelah dosen2nya jadi mantan pun mereka masih mau berfoto bersama.

Nice.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized