Pemimpin-Pemimpin Kita di 2032

Posted on February 28, 2013

0


Salah seorang dosen di Prodi saya adalah mantan dosen saya sewaktu kuliah di S1 dulu. Dia pernah menjadi atasan ayah saya. Dia Dekan dan ayah saya Pembantu Dekan. Beberapa tahun setelah itu, beliau menjadi rekan sesama dosen dengan saya di sebuah lembaga di luar kota. Sekitar 5 tahunan kemudian, sekarang ini, di lembaga ini dia adalah seorang dosen dan saya menjadi atasannya sebagai seorang Dekan. Dihitung-hitung, sejak dia menjadi dosen saya sampai akhirnya menjadi dosen di bawah pimpinan saya adalah sekitar 23 tahunan.

Lucu ya?

Ilustrasi di atas itu mengingatkan saya pada fakta bahwa semakin lama saya menjalani hidup ini semakin besar kemungkin tersebut akan terwujud. Bukan mustahil bahwa 20 tahun dari sekarang manusia-manusia yang sekarang saya sebut sebagai mahasiswa saya akan menjadi rekan kerja saya, bahkan kemudian atasan saya ketika saya sudah memasuki usia lanjut dan tidak dipercaya lagi memegang jabatan karena takut kalau saya sakit tidak kuat menahan beban.

Dua puluh tahun dari sekarang mereka akan mulai memasuki usia 40 an tahun, suatu usia yang oleh sebagian besar orang dianggap sebagai usia emas. Kebanyakan orang dipercaya untuk mengemban mandat sebagai pemimpin pada usia-usia itu. Pas. Jelas bukan lagi ABG yang sedang termehek-mehek, bukan pula anak kemarin sore yang baru lepas kuliahan, dan tidak terlalu tua sehingga sudah sulit mengikuti dinamika perkembangan jaman.

Keren juga ya? Tahunnya 2032. Saya membayangkan diri saya seorang kakek berusia 66 an tahun, mendengarkan pengarahan dari seorang pemimpin usia 42 tahun. Kemudian saya berbisik kepada orang di sebelah saya: “Anda tahu, pemimpin kita itu dulunya adalah mahasiswa saya di Ma Chung lho!”.

Tapi kemudian bayangan saya itu agak terusik oleh pikiran saya, tepatnya keprihatinan saya: orang yang menjadi pemimpin pada tahun 2032 itu adalah manusia-manusia yang sekarang disebut sebagai Generasi Y. Mereka lah orang-orang yang saat ini “menderita” kecanduan gadget, yang sudah tidak bisa lagi konsentrasi dalam waktu lama, yang merasa asing dengan yang namanya “membaca buku teks” dan “menyiapkan kuliah dengan membaca terlebih dulu bab yang mau dibahas”, yang cenderung tergoda untuk melakukan copy paste untuk tugas-tugas kuliahnya, dan yang bahasa Indonesianya morat-marit ndak karuan sehingga tidak bisa ditangkap maksud pikirannya ketika menulis skripsi atau artikel ilmiah.

Sulit dibayangkan profil anak muda sekarang dengan ciri-ciri seperti itu bisa mengemban posisi sebagai pimpinan. Bisakah mereka menanamkan etos ketekunan dan kesabaran kalau mereka sudah terbiasa dengan kebiasaan “click and go” yang serba instan itu? Bisakah mereka menata buah pikirannya dalam bahasa yang runtut dan logis ketika harus menyusun laporan atau bahkan naskah pidato? Bisakah mereka mendengarkan paparan orang lain dalam waktu sejam tanpa umek kareppe dewe mengecek gadgetnya?

Pikiran negatif saya mengatakan: ndak akan mungkin bisa. Wong mereka sudah terbiasa dengan dunia gadget plus segala dampak ikutannya kok. Tapi di sisi lain pikiran saya juga mengatakan bahwa pada satu titik kritis tertentu mereka akan berubah sekonyong koder dan menjadi manusia-manusia yang lebih bersentuhan dengan lingkungannya.

Semoga.

Posted in: Uncategorized