Tentang Kita

Posted on February 24, 2013

0


Tentang Kita

Tentang kita dan Tuhan. Mungkin sebenarnya yang kerap disebut Tuhan itu ya kita-kita ini. Bukankah disebut dalam Kitab Suci bahwa manusia diciptakan sesuai dengan citra Allah? Kalau kata-kata itu benar-benar diresapi, maka kesimpulannya ya kita-kita inilah Tuhan.

Lalu kenapa Tuhan mau repot-repot menjadi manusia dan terjebak dalam ikatan waktu dan ruang? Ya kemungkinan besar karena Dia ingin mengalami menjadi daging dan darah, mengalami semua emosi yang sering kita rasakan, karena tanpa semua itu maka tidak utuhlah konsep yang disebut Ilahi. Konsep itu hanya mungkin ada jika ada lawan katanya, yaitu yang tidak Ilahi, ada juga. Setiap orang yang menjadi mistis atau sufi juga sudah tahu hal ini. Mereka meyakini bahwa ketiadaan adalah ruang yang memungkinkan segala keberadaan. Tanpa ketiadaan, tidak akan ada keberadaan. Kalau Sang Pencipta hanya tinggal diam dalam bentuknya yang berupa energi maha dahsyat, maka yang ada hanyalah potensi, bukan aktualisasi. Maka tidak akan ada kosmos dan alam semesta ini, karena yang ada hanya bakal atau bibitnya saja.

Mungkin ketika potensi itu meledak menjadi sesuatu yang aktual, pada saat itulah terjadi Big Bang sebagaimana yang diyakini oleh para fisikawan besar dunia.

Jadi sekarang agak terjawablah pertanyaan saya pribadi ketika membaca banyak buku dan pesan spiritualis: hidup pada dasarnya adalah menemukan Siapa Diri Anda. Find Who You Are. Pada awalnya saya bingung apa sih maksudnya ini? Ternyata, setelah sekian lama saya baru bisa sedikit memahami maksudnya: kalau kita menjalani hidup ini dengan mengenyahkan semua hal yang fana dan lebih memusatkan pada hal yang kekal, maka kita menjadi semakin mirip dengan Tuhan, dan pada akhirnya menjadi Tuhan itu sendiri. Jika kata2 ini terlalu keras diterima oleh orang Indonesia yang tidak segan2 menyembelih orang atas nama agama itu, maka baiklah, saya perhalus: jika kita tidak menuruti hawa nafsu untuk mempertahankan apa yang fana di alam ini, maka kita akan bersatu denganNya di surga. Jika kita telanjur hanyut pada hawa nafsu dan ego, maka kita tidak bersatu dengan Tuhan di surga dan menjadi penghuni neraka.

Manusia-manusia yang sudah berhasil menjadi Tuhan itu sudah mengalami pergulatan luar biasa dengan dunia, termasuk dengan ego dagingnya sebagai manusia. Mereka sudah menemukan Who They Really Are. Eh, emang ada manusia2 kayak gitu. Ada. Yesus, Buddha, adalah dua dari beberapa manusia yang sudah menjadi seperti itu.

Ungkapan ‘surga’ dan ‘neraka’ itupun menjadi hal yang sudah menyimpang dari makna intinya. Kepada kita sudah ditanamkan bahwa surga adalah tempat dimana orang hidup kenyang dan bahagia dan sehat selama2nya, sementara di neraka orang dicambuki dan dibakar dan dipelethet-pelethet selama2nya. Ini adalah sampah. This is crap. Sebagai metafora okelah, saya bisa menerimanya. Tapi sebagai suatu bentuk kepercayaan, saya menolaknya. Buat saya, surga adalah nirvana, tanpa bentuk, tanpa emosi, tanpa waktu, tanpa ruang, tanpa keterikatan dengan daging dan darah. Saya percaya itu adalah bentuk kebahagiaan yang sejati sak sejati2nya, kekal abadi, tidak ternoda oleh satu bentuk emosi sedikitpun.

Nah, neraka adalah sebaliknya. Neraka sejatinya adalah perasaan merindu tak terperi akan suatu ketiadaan emosi dan gejolak. Neraka itu adalah keterpisahan dari Yang Satu itu. Apakah bentuknya selalu berupa siksaan fisik tak henti-hentinya? Bukan. Banyak orang yang pada kenyataannya sudah kaya, populer, sehat sejahtera, tapi jauh dalam hati merasa hampa dan sendirian. Demikian juga adalah neraka kalau kita merasa marah, sedih, kawatir, mendendam dan banyak lagi emosi negatif. Kenapa demikian? Ya karena hal-hal itu membuat kita makin jauh dari Yang Satu itu. Kalau kita marah akan musuh kita dan berhasil mengalahkannya, mungkin ego, tubuh dan pikiran kita akan sejahtera sesaat, tapi tetap saja ada lobang besar jauh dalam jiwa kita yang mengatakan bahwa dengan segala pergulatan itu kita sedang menjauh dariNya. Selama sang jiwa merindu damai yang menyatukan semuanya dalam kekuatan tunggal Yang Satu itu, selama itu pula kita masih berada di neraka dan mendamba surga.

Sudah panjang tulisan ini. Saya juga tidak tahu ujug2 bisa menulis segini panjang tentang suatu hal yang sebenarnya juga masih saya batasi dengan ‘mungkin’. Semuanya terserah Anda sebagai penafsir.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized