Hal Membantu: Tanyalah Dulu

Posted on February 13, 2013

0


Suatu ketika, sebuah badan bantuan dari Amerika Serikat datang ke sebuah negara kecil di Afrika menawarkan bantuan. Ya, lebih tepatnya: setengah mendesak untuk menerima bantuannya. Bantuan itu berupa gerakan penghijauan sebuah lahan di kaki bukit. Para pemimpin di negara itu manut saja ketika mereka diminta menanami lahan itu dengan tanam-tanaman buah-buahan dan sayur mayur.

Sesaat nampaknya semua berjalan lancar. Tanamn-tanaman mulai tumbuh dan bukit itu mulai menghijau. Tapi beberapa hari kemudian datanglah bencana: sekelompok hewan dari hutan di dekat bukit itu tiba-tiba menerobos masuk lahan itu dan menyikat habis semua tanaman dan buah yang sedang ranum-ranumnya itu. Para orang Amerika nya panik berteriak-teriak.

Orang-orang Afrika itu pun berkata : “Lha ya itulah masalah kami sebenarnya: bukan soal menghijaukan lahan itu, tapi bagaimana mengusir binatang-binatang buas itu untuk tidak memakan habis tanaman-tanaman kami. Lha Anda sih, datang-datang gak tanya ba bi bu langsung aja nyuruh kami nanam ini itu, padahal masalah sebenarnya bukan pada tanaman, tapi pada hewan2 itu.”

Pelajaran yang bisa ditarik dari insiden itu adalah: kalau Anda ingin menolong atau memberikan bantuan, langkah paling pertama dan paling penting adalah: tanyakan kepada mereka apa yang mereka butuhkan saat ini.

Sederhana, kan?

Anda banyak duit dan kepingin memberikan bantuan atau pelatihan kepada dosen-dosen Prodi Sastra Inggris? Coba deh langsung aja datang dan menggelar pelatihan bagaimana mengajar yang baik, niscaya nggak akan ada yang datang. Lhoo? Kok iso gak ada yang datang?? Lha iya lah, wong dosen-dosen itu sudah pada mahir mengajar kok, lha wong mereka semua rata-rata lulusan fakultas pendidikan bahasa.

Jadi gimana ya supaya duit itu terpakai untuk membantu pengembangan mereka? Jawabnya, lihat atas: tanyakno dulu.

Nanti kalau beneran ditanya, jawabannya ternyata malah ga ada hubungannya dengan pembelajaran. Jawabannya bisa begini: kami butuh diajari gimana sih caranya membuat jaringan online yang bisa memudahkan koordinasi antar pejabat fakultas dan para dosen secara efisien? Nah, kan. . . .

Kasus salah langkah itu nampaknya juga terjadi ketika ada pihak luar yang menawarkan bantuan kepada kami di Prodi Sastra Inggris. Mereka mengatakan: “kami siapkan semua dosen dan mahasiswa Bapak untuk mengikuti kurikulum Cambridge.” Glodaak!

Kurikulum itu kan elemen yang sangat privat dan setengahnya adalah harga diri sebuah prodi. Mana bisa tau2 mak gubrak diganti dengan kurikulum baru tanpa ada evaluasi menyeluruh sebelumnya?

Ya, begitulah yang terjadi kalau menawarkan kerja sama atau bantuan tanpa bertanya lebih dulu kepada yang mau dibantu; akhirnya ya salah langkah.

Posted in: Uncategorized