Asumsi dan Kemampuan Berpikir Kritis

Posted on February 10, 2013

0


MENGECEK ASUMSI SEBAGAI KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DALAM ERA INFORMASI

Patrisius Istiarto Djiwandono
(tulisan ini dimuat di Malang Post 10 Feb 2013, hal 4)

Kemampuan berpikir yang dianggap makin penting dalam interaksi global dewasa ini adalah kemampuan berpikir kritis. Sekalipun sebenarnya sudah dicanangkan di negara maju sejak dekade 1980 an, nampaknya belum banyak yang dilakukan dalam tataran praktisnya, apalagi di negara-negara sedang berkembang di Asia. Tantangan menjadi berlipat ganda di negara-negara ini karena budaya senioritas dan sikap “guru pasti benar” sedikit banyak bukanlah lahan yang subur untuk berkembangnya pikiran kritis. Di sisi lain, era keberlimpahan informasi, kalau tidak bisa dikatakan banjir informasi, membuat pembaca dan generasi muda terdidik khususnya berada dalam posisi rawan untuk dikendalikan oleh arus informasi. Tanpa rangkaian pikiran kritis, mereka akan mempercayai begitu saja semua informasi yang diterimanya lewat media massa, Internet dan berbagai macam piranti canggih di tangan mereka. Tanpa sikap kritis terhadap informasi yang menyerbu, orang akan mudah tertipu atau terprovokasi. Maka masyarakat yang tidak terlatih bersikap kritis akan menjadi sasaran empuk aksi cerdik dan taktik culas dari para provokator dan para penipu yang semakin canggih. Ujung-ujungnya, semakin banyak kasus korban penipuan lewat sms atau telpon dan kasus tawuran antar kampung. Dalam dunia akademis, khususnya penulisan karya ilmiah, mungkin akan makin banyak kasus dimana mahasiswa atau bahkan dosen secara gegabah mengutip sumber-sumber dari Internet tanpa memperhitungkan kredibilitasnya.

Berpikir kritis sendiri merupakan serangkaian tindak pikir yang mencakup setidaknya empat langkah: menetapkan tujuan, mengecek asumsi, melakukan analisis, dan menarik kesimpulan (inferencing). Elemen pengecekan asumsi tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam tindak penalaran kritis. Definisi Ennis (1987) yang mengartikan pemikiran kritis sebagai “memilih apa yang layak dipercaya” mungkin paling sesuai dengan komponen asumsi ini. Asumsi sendiri dimengertikan sebagai “hal atau kondisi yang diterima begitu saja, tanpa perlu diuji atau dikonfirmasi lagi kebenarannya.” Justru pada definisi inilah orang yang kurang cermat sering terpeleset. Semata-mata karena hal tersebut pada umumnya diterima begitu saja tanpa dikritisi, mereka lupa bahwa pada kasus-kasus tertentu asumsi tersebut perlu dicek untuk memastikan kesahihannya. Itulah sebabnya langkah kedua dalam rangkaian di atas adalah “mengecek asumsi”, dan bukan sekedar “menetapkan asumsi”. Pengecekan asumsi akan menghindarkan seseorang dari menelan mentah-mentah informasi yang didengar atau dibacanya. Pengecekan tersebut juga akan membawanya pada penarikan kesimpulan yang benar akan suatu peristiwa atau kabar.

Pengecekan asumsi dalam menerima berita
Masih segar dalam ingatan kita di bulan Desember 2012 tentang nasib seorang anak yang meninggal di ICU sebuah rumah sakit di ibu kota karena tempat itu sedang dipakai syuting sebuah sinetron. Hanya beberapa jam setelah kejadian tragis itu, media massa dan beberapa jejaring sosial menyiarkan berita tersebut dengan muatan yang cenderung menggiring pembaca pada opini tertentu tentang rumah sakit tersebut. Jika pembaca hanya berpijak pada asumsi bahwa sumber-sumber berita tersebut pasti telah melaporkan berita secara akurat dan lengkap, maka tak heran mereka akan menyalahkan mutlak pihak rumah sakit; padahal dalam ilmu Analisis Wacana menurut Goatly (2001) , dikenal ciri intertextuality (keterkaitan antara satu wacana dengan wacana lain), keharusan reporter menepati tenggat, dan persaingan di antara media massa untuk melemparkan berita aktual paling segera. Ketiga faktor ini sangat membentuk keakuratan berita yang disiarkan. Secara sederhana, ketergesaan untuk segera melemparkan berita aktual tersebut sedikit banyak bisa mengorbankan sisi keakuratan informasi dan keutuhan sudut pandang tentang sekeping insiden dari berbagai pihak yang terlibat. Manakala seorang pembaca menerima berita ini, sudah seharusnya dia melakukan pengecekan asumsi: sudah akuratkah berita tersebut? Siapa saja sumber beritanya? Sudahkah pihak-pihak yang berkepentingan digali keterangannya secara utuh? Mengingat singkatnya jeda antara kejadian dengan pemberitaan, sudahkah peristiwa yang sebenarnya terjadi dilaporkan dengan benar? Apakah insiden tersebut sudah tuntas ketika kasusnya merebak di jagad maya atau media massa segera setelah terjadi? Tindakan mengiyakan semua pertanyaan tersebut tanpa memeriksa lagi berarti menerima asumsi dengan serampangan, tidak mengeceknya dengan cermat. Ketika asumsi yang salah dipakai sebagai pijakan, kesimpulan yang diambil pun (inferential process) menjadi berantakan. Bisa dibayangkan tingkat kegentingan yang timbul jika sikap kurang cermat seperti itu juga menghinggapi seorang pemimpin, entah itu pemimpin keluarga, pemimpin komunitas, pemimpin lembaga keagamaan, pemimpin perusahaan, atau pemimpin lembaga pendidikan.

Pengecekan asumsi dalam dunia akademis
Pentingnya pengecekan asumsi dalam rangkaian penalaran kritis menjadi sangat krusial dalam penulisan karya ilmiah. Ketika menulis karya ilmiah, para akademisi di jaman super canggih ini sangat terbantu oleh kehadiran Google dan Wikipedia. Namun, ibarat pisau bermata dua, pada satu sisi kebiasaan ini bisa menumpulkan kualitas tulisan jika tidak disertai dengan pengecekan asumsi. Sebagai contoh, banyak mahasiswa yang senang mengutip sumber dari Wikipedia, dengan asumsi bahwa apa pun yang dikatakan oleh situs tersebut pasti benar. Pengecekan lebih jauh pada situs Wikipedia ternyata memunculkan kepingan-kepingan informasi yang masih harus dibuktikan keakuratannya, yang biasanya ditandai oleh pengelola situs ini dengan kalimat “citation needed” (masih diperlukan kutipan pendukung). Catatan pengelola bahwa situs tersebut tidak bisa serta merta dianggap sebagai sumber yang sangat kredibel pun harus dicermati dalam langkah pengecekan asumsi. Lembaga yang sadar tentang hal ini akan menganjurkan sivitas akademiknya untuk menjadikan Wikipedia sebagai sumber sekunder; gagasan yang layak dikutip pun hanya terbatas pada definisi konsep secara umum.

Google juga menyediakan segudang informasi, namun tetap saja tanpa pengecekan asumsi akan kredibiltas sumber-sumber yang disajikannya, penggunanya akan tersesat pada informasi yang sebenarnya kurang sahih atau setidaknya sudah ketinggalan jaman. Sudah lazim seorang mahasiswa mengutip sumber yang disajikan Google, mulai dari blog sampai naskah jurnal online. Ketika hendak mengutip, sudah seharusnya mereka melakukan pengecekan asumsi: seberapa kredibel isi sebuah situs? Layakkah blog pribadi diakui sebagai sumber yang sahih? Jika naskah yang dikutip dimuat di sebuah jurnal online, seberapa bermutukah jurnal tersebut? Apakah jurnal tersebut bukan jurnal palsu, sebagaimana yang makin sering bermunculan dewasa ini? Jika sebuah karya ditulis dua puluh tahun yang lalu, sudahkah ada perkembangan berikutnya yang lebih layak dikutip sebagai data pendukung tesis atau disertasi?

Secara ringkas, dapat dikatakan bahwa kemampuan mengecek asumsi dalam rangkaian berpikir kritis sudah selayaknya ditumbuhkembangkan dan dipacu dalam era informasi dan interaksi di dunia yang makin kompleks ini. Penelitian penulis sendiri pada suatu kelas menunjukkan potensi yang bisa disulut untuk menjadi kekuatan pikir kritis yang faktual di kalangan mahasiswa. Daya nalar yang kritis pada gilirannya akan membuat generasi insan terdidik negeri ini tidak menjadi bidak-bidak yang dikendalikan oleh informasi di gelaran akbar kompetisi dan komunikasi global pada abad ke dua puluh satu. Melalui penalaran kritis, mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin yang cermat dan bijak ketika mengambil keputusan, pendidik yang tidak enggan membuka wawasan pikir anak didiknya, dan generasi muda yang lebih arif dan berpendirian teguh.

Penulis adalah dosen Analisis Wacana dan Guru Besar Bahasa di Universitas Ma Chung

Posted in: Uncategorized