Gorgeous: Mendengarkan dan Bicara Efektif

Posted on February 9, 2013

0


Mendengarkan dan Bicara Efektif

Ada dua hal yang saya sukai dari kolega-kolega yang saya anggap gorgeous. Yang pertama adalah mendengarkan. Tidak banyak orang yang bisa melakukan hal ini dengan baik. Mendengarkan bukan hanya memasang telinga dan memahami semua yang dikatakan orang lain. Mendengarkan yang saya maksud disini adalah mendengarkan dengan empati, dengan segenap perasaan dan perhatian. Ketika orang yang gorgeous ini mendengarkan, jangankan menginterupsi dengan kata2 sendiri, dia bahkan akan menaruh dirinya menjadi orang yang sedang berbicara itu, sehingga dia tahu segenap isi hati dan keinginannya. Ini yang disebut empati.

Orang yang mampu mendengarkan dengan empati biasanya tidak akan langsung menyablak dengan argumennya sendiri. Untuk selama beberapa detik dia akan terdiam, seolah berusaha menyerap dan memahami benar apa yang DIRASAKAN lawan bicaranya, bukan hanya apa yang dikatakan. Ketika akhirnya dia berkata2, kata2nya juga tidak langsung berupa solusi, namun lebih pada ungkapan memahami perasaan lawan bicaranya. Lha terus kapan dia akan mengemukakan solusi ? Nanti, tidak seketika, dia bahkan akan menggiring pembicaraan sehingga solusinya terkesan bukan melulu dari dia namun sebagai akibat dari pembicaraan yang intens dengan kemauan baik itu.

Yang kedua adalah bicara dengan efektif. Ini artinya bicara tepat sasaran, pas dengan apapun yang sedang dilontarkan, tidak terkesan menghindar, mbulet, atau menyalahkan pihak lain. Dalam suatu rapat yang emosional beberapa bulan silam, seorang staf mengajukan pertanyaan yang sangat kritis: ‘ beban kerja saya menjadi terlalu berat, tidak sepadan lagi dengan imbalannya. Lalu bagaimana ini?’. Seorang pejabat menjawabnya: ‘Saya juga sebenarnya banyak sekali kerjaannya, harus ini harus itu. Bu A itu juga banyak lho kerjaannya bla bla bla’. Pertanyaan kritis hanya setengah menit, dia mengutarakan jawaban yang gak nyambung selama lima menit. What a waste of time.

Dalam hati saya bilang: ‘ yaah…itu mah bukan bicara efektif namanya. Jelas jawabannya tidak menjawab pertanyaan atau menawarkan solusi yang dilontarkan tadi. Bahkan lebih konyol lagi, jawabannya mengesankan bahwa gejala beban kerja berlebih itu adalah sesuatu yang sudah kronis di lembaga itu.

Kalau mau, dia sebenarnya bisa menjawab: ‘baik, akan kita lihat nanti apakah beban kerja Anda sudah berlebih. Kalau ternyata iya, kita atur lagi pembagian kerja, kalau perlu penjadwalan ulang tugas2 yang tidak urgen.’

Bicara efektif biasanya tidak panjang lebar. Dia tepat sasaran, kalau pertanyaannya ‘mengapa’ dia akan menjawab dengan ‘karena’, dan bukan yang lain yang ndak ada hubungannya.

Sebenarnya saya kurang suka rapat. Ahli manajemen bilang terlalu banyak rapat menandakan ada yang kacau dengan koordinasi dan prosedur. Nah, akan menjadi lebih menyengsarakan kalau rapat diisi oleh orang2 yang tidak bicara efektif dan ngglambyar kesana kemari.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized