Cina oh Cina (part 2)

Posted on January 28, 2013

2


Jangan tersinggung melihat judul posting ini. Itu hanya sekedar gimmick supaya orang mau membaca, ha ha ha! Soalnya menurut statistik wrodpress, posting berjudul serupa part 1 di blog ini ternyata sangat diminati. Makanya saya bikin lagi yang serupa.

Orang Indonesia non-etnis Tionghoa tidak begitu sadar bahwa sebutan “Cina” itu tidak enak didengar. Orang etnis Tionghoa sendiri lebih suka disebut “Tionghoa” atau keturunan ”Chinese” daripada “Cina”, karena yang terakhir ini menyiratkan stigma Orde Baru dimana etnis tersebut dipisahkan secara sosial ekonomis psikologis oleh pemerintahan Soeharto. Makanya saya senyum saja ketika fasilitator seminar penelitian minggu lalu dengan tenangnya menyebut “Cina” beberapa kali. Oo, belum tahu wong gendheng iki bahwa sebutan itu seharusnya tidak dipakai dan lebih enak diganti dengan “Tionghoa”.

Cintul. Ini apa pula. Ternyata singkatan dari “Cina tulen”. Maksudnya, keturunan Tionghoa yang berbakat dagang, pinter bernegosiasi, punya banyak teman dan koneksi untuk melancarkan usahanya, dan masih ditambah dengan indera keenam untuk tahu kapan berinvestasi dan kapan membelanjakan uangnya. Istri saya dibilang “cintul” sama temannya yang juga sesama etnis Tionghoa ya gara-gara atribut ini. Ternyata tidak semua etnis Tionghoa bisa dan suka melakukan hal-hal yang nampaknya sudah menjadi stereotipe tersendiri untuk mereka itu. Ada yang lebih suka menjadi ilmuwan, guru, dosen, seniman atau seniwati, bahkan rohaniwan.

Tapi cintul ndak cintul, buktinya kebanyakan orang etnis Tionghoa disini akan merasa bahwa the real Cina ya orang-orang yang ada di PRC sana (People’s Republic of China). Herannya, mereka ini merasa bahwa the real Cina itu orangnya ndak sophisticated. Sekali lagi teman istri saya itu menyarankan kalau mau pelesir jangan ke PRC, karena disana orangnya jorok, suka meludah dan membersihkan dahak di tenggorokan di tempat umum, klosetnya dibikin terbuka sehingga sesama pemakai bisa saling melihat, dsb. Saya tertawa aja mendengarnya. Dalam hati saya bertekad: “I have got to see this exotic land!”.

Ingatan melayang ke suatu pertemuan muda-mudi beberapa puluh tahun silam. Pada suatu diskusi tentang pembauran dan integritas bangsa, seorang pemuda dengan berapi-api menyatakan bahwa orang keturunan Cina itu eksklusif karena hanya boleh dan mau menikah dengan sesama keturunan Cinanya. Lhoh, kalau ini saya tidak setuju. Integrasi bangsa dari berbagai ras dan etnis memang harus didukung dan dimantapkan, tapi ya jangan sampai menyinggung masalah perkawinan dong. Orang mau kawin itu punya hak seratus persen untuk menikahi siapapun yang dia suka. Kalau dia memang ingin menikahi wanita atau pria dari sesama etnisnya, ya mengapa harus dicegah? Ndak masuk akal dan ndak manusiawi juga rasanya mendorong dan memaksakan orang-orang dari etnis Tionghoa untuk mau menikahi lawan jenisnya dari etnis lain, semata-mata untuk alasan tercapainya integrasi antar etnis. Itu melanggar hak asasi itu, jelas salah itu. Orang mau kawin dengan sesama ras nya nggak boleh dikritik. Nah, kalau mereka mendidik keturunannya supaya menghindari atau membenci orang dari etnis lain itu yang perlu dikritik.

Posted in: Uncategorized