Ngoceh Bermakna: Spiritualitas dan . . .

Posted on January 13, 2013

0


Ngoceh Bermakna: Spiritualitas dan . . .

Entah ada yang salah dengan alatnya wordpress atau memang blog ini agak populer, yg jelas pengunjung blog ini melonjak jadi 186 pada hari Sabtu kemarin. Apa aja yang dibaca sama orang2 ini yah? Memang nampaknya mereka menyukai membaca secara diam2 ngocehan seorang pria menjelang paruh baya yang bekerja sebagai guru di sebuah lembaga di kota kecil.

Saya sedang tertarik pada isu spiritualitas dan ilmu pengetahuan. Katanya, ilmu pengetahuan itu selalu meminta bukti konkret yang berasal dari dunia nyata untuk mendukung postulat atau teorinya, sementara spiritualitas bersifat pribadi. Maka, iptek selalu bersifat obyektif, sementara spiritualitas selalu subyektif. Spiritualitas berarti kesadaran tentang keberadaan kita di alam ini, kesadaran bahwa kita semua terhubung satu sama lain, dan kesadaran bahwa ada sesuatu, SESUATU yang jauh lebih besar dan maha segalanya di balik segenap kesadaran itu. Makanya orang spiritual memang jarang membahas agama, karena agama itu sejatinya mengkotak2kan manusia, sementara spiritualitas justru memandang bahwa kita ini sejatinya adalah satu. Saya suka buanget pandangan ini ( ya karena dasarnya saya sudah makin males mempercayai yg namanya organized religions).

Yang melegakan, para pakar mengatakan bahwa perasaan tercerahkan dan mengalami kehadiran Yang Maha Kuasa itu tidak hanya bisa didapatkan dari beribadah di tempat2 peribadahan agama2, tapi juga ketika meditasi, ketika yoga, ketika melakukan senam pernafasan Qigong, bahkan ketika sedang membuat suatu karya seni, ketika menulis, ketika berhubungan seks, ketika membantu sesama dan lain2 perbuatan yg sifatnya menghubungkan satu insan dengan insan lainnya tanpa memandang batas 2 fisik atau kepercayaan. Hebat ya. Sueneeeng poool saya membaca bagian ini.

Lebih jauh, para peneliti ini membandingkan gelombang otak antara para rohaniwan Kristen yg sedang berdoa lewat nyanyian, dengan beberapa orang yg sedang bermeditasi. Ternyata sama2 terjadi penurunan kegiatan pada bagian otak yang mengikat mereka dengan dirinya sendiri. Artinya, ketika melakukan kegiatan itu, semakin mereka bisa terhubung dengan seisi alam semesta dan kekuatan transendental yang menanungi semua ini.

Maka berdoa yg benar adalah bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk manusia lain dan seisi alam ini. Kalau dalam agama Katolik mungkin kalimat ‘terjadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga’ kurang lebih mewakili interkoneksi antara kita dengan Tuhan; dalam agama Budha ada lagi ucapan yang lebih elok: ‘semoga semua makhluk berbahagia’.

Amen to that.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized