Sales, Marketing, Promosi

Posted on January 10, 2013

0


Saya tidak tahu apa persisnya pekerjaan orang yang dinamakan “salesman” atau “salesperson” itu. Maklum, saya bukan orang bisnis, dan belum berminat buka wirausaha. Kalau istilahnya “sales” ya mestinya menjual barang to ya?

Mahasiswa saya banyak yang magang di bidang Marketing. Ini lagi saya juga ndak ngeh sebenarnya. Apa kerjaan orang marketing? Memasarkan?

Sampai disini mungkin sebagian pembaca sudah ngomel: “Lha wong gak tau kok nulis posting thooo???”

Yo sik talah. Itu kan baru “foreplay” nya dulu . . . .

Sekalipun tidak tahu dengan jelas apa itu kerjaan orang “sales” dan “marketing”, saya pernah punya pengalaman yang mencengangkan. Itu terjadi ketika saya masih kerja di Surabaya. Ada salah satu unit yang sudah kadung menyiarkan berita2 promosi hebat tentang layanan-layanannya. Ternyata, setelah ada orang yang tertarik dan memesan salah satu jenis layanan, bagian yang menyajikan layanan itu menyatakan belum siap, atau setidaknya memerlukan waktu untuk menyiapkan jenis layanan yang diminta. Kepala bagian itu sempat mengatakan: “Lha gimana itu promosinya? Wong jelas kita belum siap kok sudah digembar-gemborkan. Begitu ada yang memesan, kita yang kelabakan.”

Lalu salah seorang stafnya mengatakan sesuatu yang membuat saya tercengang : “Kerjaan marketing and promotion ya gitu itu, Bu.”.

Dia tidak melanjutkan penjelasannya karena suasana sudah keburu riuh rendah oleh keluhan, usul dan segala macam di forum rapat itu. Tapi saya sungguh tidak habis pikir apa yang dia katakan itu tentang sales dan marketing. Apa ya benar demikian kerjaannya orang “sales dan marketing” itu? Kalau benar bahwa kerjanya adalah memasarkan atau mempromosikan produk, ya pasti akan sangat membantu daya saing sebuah lembaga atau perusahaan. Tapi kalau promosinya adalah promosi barang atau servis yang ternyata belum sepenuhnya siap action, ya malah bisa bunuh diri. Bagaimana kalau pelanggan yang sudah tertarik tadi kemudian mendapati bahwa layanannya belum siap dan lalu kecewa? “Gimana nih, kok tidak sesuai dengan yang dipromosikan??”, begitu pasti keluhannya.

Saya bukan orang yang suka berkoar. Waktu saya sedang mengumpulkan kum untuk jadi profesor pun, saya ndak berkoar sama sekali didepan mahasiswa. Tahu-tahu mereka sudah mendapati bahwa dosennya jadi profesor tanpa saya pernah mengatakan sedikitpun: “saya ini sedang mau jadi profesor lho!”.

Saya lebih suka pendekatan yang alon-alon, tidak keburu promosi besar2 an dengan kata-kata bombastis, dan memastikan bahwa semua unit yang saya kelola memang sudah siap menunjukkan kinerja yang sangat bagus. Maka kalau saya punya sekolahan nih, ya, yang saya dirikan paling akhir adalah unit pemasaran dan promosi. Yang penting menggarap kemampuan guru-guru saya dan materi-materi ajar dulu. Nanti kalau mereka sudah terbukti menyimpan potensi dahsyat untuk menunjukkan kinerjanya yang sudah diasah itu, baru saya dirikan unit promosi dan pemasaran. Itupun saya wanti-wanti: “ndak usah promosi dengan nada yang bombastis dan lancip; biasa aja; tapi yakinkan publik bahwa kita punya sesuatu yang unggul disini.”

Kalau dibalik, bisa celaka. Promosi guede2 an, tapi ternyata dalamnya masih sedang berbenah, baru mulai menata diri, dan setelah menata pun masih harus sinkronisasi dan konsolidasi sana-sini. Bisa fatal kalau ada publik yang keburu percaya promosi itu dan kemudian menuntut kualitas yang sudah dikoarkan.

Lulus langsung dapat kerja dengan gaji lima kali lipat UMR? Wow, kereen!

Kelas internasional dengan pengantar bahasa Inggris? Auuw! Auuuww! Sekseh (sexy), ha ha ha haa!

Lha kenyataannya yang mau ngajari Inggris pontang-panting karena pronunciationnya masih pathing pechotot apalagi tata bahasanya. Ada yang cukup pede ngajar, halah, diprotes mahasiswanya karena mahasiswanya juga masih nol putul Inggrisnya.

Lha pada kenyataannya gajinya ya biasa-biasa aja tuh, nggak sampai 2 kali UMR.

Kembali pada sekolah dalam mimpi saya. Saya ndak tahu banyak apa itu itilah-istilah dalam marketing yang sekilas melintas di dekat saya: added value, imaging, pencitraan, dan apalah semua gombal-gambul lainnya itu. Pikiran saya sih sederhana saja: kalau mau memasarkan, yang dipasarkan itu harus sebuah produk yang sudah utuh, kualitasnya bagus, dan memang sudah teruji. Sebagai pemilik sekolah, saya lah yang mendikte unit promosi saya: “kamu harus ngomong begini dan begitu.” Jangan terbalik. Saya ndak mau malah didikte unit promosi saya dengan kiat-kiatnya. Kalau kiatnya masuk akal, saya terima, tapi kalau hanya sekedar membuat orang tersepona dengan kata-kata yang bombastis, saya ndak mau. Jangan-jangan lembaga saya dicap membohongi publik nanti.

Hooosssh! Sudah panjang posting ini. Semua menarik nafas lega, karena untunglah saya hanya bermimpi punya sekolahan kayak gitu.

Glossary:

“lancip” = omongan yang tuingggiii banget sehingga terkesan hebat tapi tidak realistis, atau tidak sesuai dengan kondisi sesungguhnya.

Posted in: Uncategorized