Saya Versus Atheis

Posted on January 9, 2013

0


Saya versus atheist. Siapa yang menang? Ya para atheis tentunya, ha ha haa! Gak percaya? Coba simak tweets ini:

Suatu siang, saya mendadak terpikir tentang para atheist yang ndak percaya Tuhan itu. Lalu saya begitu saja mengicaukan ini di tweet:

“Atheists dont know where to go after they die and may be they dont care, either.”

Eh, sorenya sehabis bangun tidur, ternyata tweet saya itu ditanggapi oleh dua orang atheis. Yang pertama mengicaukan ini:

“I believe in our shared humanity. I work hard to make a positive impact in this life, and I seek no reward when it’s done.” (Saya percaya pada nilai kemanusiaan yang kita yakini bersama. Saya bekerja keras untuk membuat dampak positif terhadap kehidupan ini, dan saya tidak peduli ganjarannya apa.)

Atheis kedua menjawab ini:

“Dead is dead. Why would anyone care. Enjoy life!” (Mati itu ya sudah mati aja, ngapain dipikiri? Makanya, nikmatilah hidup).

Jiambu! Semua nya benar dan masuk akal, ha ha haa!

Kematian memang misteri. Seperti yang sudah pernah saya tulis di posting2 sebelumnya, kematian itu memang misteri. Karena itu, yang kita yakini tentang mati adalah kepercayaan, iman, dan bukan hasil penelitian yang menelurkan data2 empiris.

Tapi orang beragama berbeda dengan orang atheis. Orang beragama percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian, dan baik buruknya nasib manusia dalam kehidupan lanjutan itu tergantung pada perbuatannya di dunia sekarang. Makanya orang beragama mati2an berbuat baik supaya kelak hidupnya di alam baka ya baik juga. Ya sebenarnya ini berbuat baik dengan pamrih sih, ha ha haa! Iya endak? Anda berbuat baik supaya kelak ndak mau sengsara setelah mati kan? Iya kan? Waa, lha kok gitu, mestinya berbuat baik itu ya karena bahagia bahwa kita bisa berbuat baik dooongg… Tapi okelah, saya nggak mau menyindir2 Anda sekalian yang beragama semua, nanti posting saya ditinggal mampus lah saya. Nah, saya lanjutkan:

Orang seperti Ibu saya percaya bahwa sesudah kematian itu ada alam menyerupai alam kita di dunia ini. Ada jiwa dengan berbagai ukuran, beragam usia, jenis kelamin, bahkan profesi. Makanya kalau ada cerita sebuah rumah yang banyak diganggu oleh suara2 ramai tanpa wujud, itu adalah karena penghuni2 alam sana tersebut sedang pergi ke pasar dan rumah itu kebetulan pasar mereka; maka ndak heran ada suara seperti orang banyak sedang berkerumun tanpa wujud sama sekali. Hiiihh!

Adik saya pernah membaca suatu keyakinan seorang pendeta bahwa alam baka itu sebenarnya adalah sebuah planet yang tersembunyi di balik galaksi sana, dan disanalah tempat surga dan neraka.

Beberapa kalangan di Indonesia mungkin juga meyakini hal yang sama dengan ibu saya: bahwa arwah itu masih terikat nafsu duniawi seperti kita manusia. Makanya mereka mengirimkan doa disertai dengan acara membakar uang kertas, rumah2an kertas, dan sebagainya, dengan alasan: “supaya disana dia bisa dapat rumah dan hidupnya tentram sejahtera.” Saya dan istri saya geli abis sebenarnya kalau mendengar kepercayaan yang satu ini. Lalu yang terbayang mesti pikiran2 usil: “wah, kalau yang mati playboy, keluarganya harus mbakar Viagra dan kondom dong supaya dia bisa bersenang2 dengan putri-putri alam baka sana,” atau “wanita yang satu itu gatel soro; ntar kalau mati vibratornya harus dibakar juga tuh,” dan guyonan2 kayak gini kemudian disusul dengan tawa terbahak-bahak sampai keluar air mata.

Deepak Chopra, enunciator tersohor itu, punya pandangan sendiri tentang kematian. Dia mengatakan bahwa setelah mati, maka tubuh membusuk, pikiran hilang, dan nyawa pun kembali menjadi potensi, sekali lagi POTENSI, yang siap untuk menjalani siklus karma.

Potensi yang dia maksud kemungkinan besar adalah energi, atau bibit energi, yang bebas melanglang kosmis tanpa terikat waktu dan ruang, datang dan pergi, bahkan melihat namun tanpa emosi atau tanpa penghakiman (judgment). Ketika energi ini sampai pada titik tertentu, dia masuk kembali dan lahir kembali sebagai manusia baru yang dilengkapi dengan kesadaran, pikiran, dan jasad hidup. Lalu kembalilah dia menjalani siklus karmanya.

Saya tidak tahu Anda percaya yang mana. Kalau Anda atheis–dan sekarang di Indonesia, atheis, sama seperti homo, tidak dilarang sama sekali kok–maka Anda akan mempersetankan semua uraian itu dan yang penting adalah menjalani dan menikmati hidup sekarang.

Saya bukan atheis. Tapi saya juga ndak mau konyol mengira bahwa alam baka itu sama seperti alam kita di dunia ini. Saya paling suka dan paling percaya penjelasan Deepak Chopra.

Posted in: Uncategorized