History

Posted on December 29, 2012

0


History

History. Sejarah. Dari dulu sampai sekarang kata itu mengingatkan pada satu mata pelajaran yang jarang menjadi favorit di kalangan anak sekolahan. Logis. Kalau pada akhirnya hanya ujian yang mengukur kemampuan mengingat tanggal2 bersejarah peristiwa2 besar dunia, tak heran menjadi sangat membosankan. Kenapa tidak ada upaya memobongkar tradisi tidak berguna ini selama berabad2? Kalau saya menjadi Mendiknas, saya tiadakan semua mata uji sejarah. Semua sekolah saya wajibkan mengajarkan sejarah dengan cara sekreatif mungkin. Tujuan utamanya satu: membuat anak didik tahu apa yang telah terjadi di masa lampau, sehingga mereka waspada di masa kini dan tidak akan mengulangnya di masa depan. Bukankah itu inti dari kemajuan sebuah peradaban? Belajar dari masa lampau supaya masa kini dan masa depan menjadi lebih baik?

Sejarah bisa menjadi sangat menarik kalau disajikan dalam bentuk drama, atau parodi, atau cerita versi anak2 tentang satu peristiwa historik. Tidak usah ada ujian. Kalaupun ada sifatnya selalu berupa penuangan refleksi atas apa yg telah terjadi dan ke depannya mau bagaimana.

Sisi lain. History. Kependekan dari his story. Ceritanya. Cerita versi dia. Yang menentukan seseorang pahlawan atau bajingan adalah sang penulis sejarahnya. Peristiwa terbunuhnya 7 jendral di tahun 1965 direkayasa dalam tulisan sejarah sedemikian rupa sehingga kita semua mendapat kesan bahwa PKI berada di balik pembunuhan itu. Sampai sekarang banyak dari kita yang percaya bahwa para jendral itu disiksa oleh para anggota Gerwani yang menari2 sambil menyilet alat vital para jendral itu. Padahal ternyata semua itu rekayasa history writer saja. Ndak ada itu wanita Gerwani sampai sedemikian sadisnya. Gerwani memang ada sebagai sebuah organisasi di jaman Orde Lama, tapi anggotanya tidak ada yang sampai terlibat dalam pembunuhan para jendral itu. Penulis sejarah lah yang membuat alur peristiwa itu menjadi seperti yang kita tahu selama ini: menyimpang dari kenyataan. Penelitian lebih jauh di jaman modern ternyata membuktikan satu hal yang akan membuat kita terperangah: Amerika berada di balik peristiwa kejam itu, lewat CIA nya. Hebat, bukan? Tapi masuk akal, karena pada jaman itu Amerika sedang berjuang menangkal pengaruh Uni Soviet dengan paham komunisnya dan cemas sekali kalau Indonesia sampai jatuh ke tangan pemerintahan komunis.

Sisi lain. History. Suatu ketika seorang kawan terduduk lemas. Saya tanya kenapa? Dia bercerita bahwa dia baru saja memakai komputer di rumah untuk surfing Internet, dan ketika meninggalkannya, lupa menghapus ‘History’ di web browsernya.

‘Padahal,’ katanya dengan lunglai. ‘sekarang komputer itu sedang dipakai istriku.’

Wua ha ha haa! Celakalah kau sobat!

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized