Facebook vs Twitter

Posted on December 28, 2012

0


Dua hari saya sudah ndak fesbukan. Buosen pol. Bosaan melihat betapa berisiknya dunia itu dengan ocehan2 orang lain. Dasarnya saya makhluk sangat ego-centered: tidak ada status sesempurna dan sebagus yang saya punya, maka ya sudah semua status yang lain jadi terasa kayak spam. Doa palsu, pameran udah beli ini beli itu, udah ke luar negeri, kemana2, termehek2, sok alim, sok suci, dan tentunya segelintir yang benar-benar inspiratif atau lucu. Semua itu sudah lewat sekarang. Saya menulis status singkat dua hari yang lalu: “Facebooking off for some time. PLease follow my tweet @patrizioex, or simply forget me”.

Sebagian besar “fans” saya di FB memilih yang kedua, yaitu melupakan saya. Begitu status itu dirilis, hanya ada 4 tambahan followers di Tweet saya. Ok. Semua yang terjadi saya syukuri dan saya ambil manfaat positifnya saja.

Twitter tidak seinteraktif FB. Di twitter jarang bisa terjadi diskusi panjang lebar tentang status saya seperti di FB dulu. Anehnya saya merasa lebih nyaman aja. Saya juga banyak berubah sejak hanya aktif di Twitter. Lenyap sudah semua status iseng dan spontan yang kadang membuat banyak orang merinding membacanya. Satu-satunya hal nakal yang saya twitkan adalah kemarin, bunyinya gini: “Aceng Fikri = STMJ (Sudah Tua Masih Jancukan). Itu aja, selebihnya saya twitkan semua hal yang positif, tentang agama, spiritualitas, sepak bola, kepemimpinan, ilmu belajar bahasa, bahkan kuliner Korea.

Saya baru baca di salah satu artikel online tentang betapa saat ini jejaring online sudah tidak lagi bisa dipandang main-main oleh siapapun yang mau serius berbisnis. Ya, saya setuju sekali. Karena manusia jaman sekarang lebih banyak berinteraksi dengan gadgetnya, sudah layak dan sepantasnya suatu lembaga atau perorangan yang mau eksis di jagad juga rajin membangun dan merawat citra dirinya lewat jejaring sosial virtual.

Kapan saya kembali ke Facebook? saya ndak tahu, dan tidak perduli juga . . . Anda pun pasti begitu juga kan.

Posted in: Uncategorized