Gatel

Posted on December 22, 2012

0


Gatel

Kalau ada hal yang sebenarnya saya sangat malas mengurusnya adalah hal tentang pakaian dan rambut mahasiswi.

Beberapa minggu silam hal ini menjadi heboh di kampus karena gaya berpakaian beberapa mahasiswi di prodi saya makin hemat. Hemat dalam pengertian makin sedikit bagian yang menutupi tubuhnya. Akibatnya tungkai dan paha makin terbuka, setelah itu lengan dan bahu menyusul makin terkuak. Tak ayal banyak cibiran dan kecaman terlontar di fesbuk dari para mahasiswa yang merasa risih melihat gaya seperti itu. Karena mulai merasa tidak nyaman, saya pun turun tangan menegur satu kelas secara langsung. Eh, ada protes dari salah satu mahasiswi yang dikenal paling suka berpakaian hemat: ‘tapi para lao shi juga berpakaian seperti itu.’

Blah. Ini lagi. Ternyata sebagian lao shi juga gemar berpakaian mini dan ketat. Terpaksa saya email mereka semua, sak semua mahasiswa: Anda semua diharuskan berpakaian sopan dan tidak menonjolkan lekuk tubuh atau menyingkapkan bagian2 tubuh. Anda dinilai dari cara berpakaian. Anda boleh bilang berpakaian adalah kebebasan Anda, tapi orang lain juga bebas menilai karakter Anda dari caramu berpakaian. Wanita yg gemar menonjolkan kemolekan tubuhnya ya hanya akan dihargai sebatas itu, tidak lebih.’

Maka sejenak pakaian mereka pun menjadi wajar lagi. Jeans dan t shirt atau long dress okelah. Tapi baru juga seminggu ada lagi laporan masuk, kali ini dari seorang kaprodi: ‘Pak, lao shi nya ada yang pakai celana 3/4.’

Wah, pusinglah saya. Ya sebenarnya nggak nyalahin lao shinya juga. Celana 3/4 kan ndak menonjolkan paha? Jadi sah kan? Iya, tapi kesannya kan kayak mau pesiar ke pantai gitu, kan ndak pantas buat ngajar.

Itu belum tentang rambut. Ada laporan bahwa rambut staf saya dicat coklat. Halaaah… Sampai disini saya sudah merasa ini keterlaluan. Masa dosen pejabat disuruh ngurusi pakaian dan warna rambut wanita? Sing genah ae. Saya punya kerjaan lain yg jauh lebih penting. Okelah, kalau soal pakaian saya masih bisa terima bahwa itu memang harus dikendalikan, tapi soal warna rambut? Terlintas pikiran kritis: apakah ada hubungan antara warna rambut dengan kepribadian atau intelegensi? Rasanya tidak ada.

Jadi akhirnya karena sebal saya menegaskan kepada rekan: ok, kalau soal pakaian kita awasi dan peringatkan, tapi kalau soal warna rambut saya ndak mau ngurusi.

Gatel. Siapa? Ya dua2nya. Baik wanita yang suka memamerkan kemolekan tubuhnya, maupun yang sok cerewet ngurusi warna rambut adalah orang2 gatel. Satunya gatel minta diperhatikan lawan jenis, satunya gatel ngurusi cara pakaiannya orang lain.

Repot memang ngurus wanita. . . .

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized