Percakapan

Posted on September 23, 2012

0


Hari Kamis yang lalu saya diundang makan malam oleh adik saya dan seorang temannya. Adik saya ngotot ingin mempertemukan saya dengan dia, soalnya si teman ini konon sudah ‘mengidolakan’ saya ketika saya masih SMA. Saya sulit mempercayai hal itu, dan sebenarnya tidak terlalu antusias mau datang. Saya tanya adik saya: ‘apa dia nanti ndak takut liat botakku?’. Itu pertanyaan ngawur, dan akhirnya toh saya datang juga ke resto di jl. Pahlawan Trip itu.

Teman adik saya ini kemudian berbincang seru dengan saya di tengah kepulan nasi goreng sea food dan udang goreng tepung. Saya suka pengetahuannya yang luas tentang manajemen lembaga, keuangan dan sejenis itu. Kami bertiga ngerasani lembaga2 Katolik yang dipimpin Romo2. Aneh aja, wong Romo kok disuruh mimpin lembaga bisnis yang harus kreatif, responsif, ulet dan cerdik. Romo itu kerjanya kan harusnya sembayang aja dan memimpin umat dalam hidup rohaninya. Lha lapa ngurusi manajemen universitas? Akibatnya ya terjadilah hal2 yang menggelikan sekaligus mengenaskan.

Saya banyak cerita tentang dinamika perguruan tinggi jaman sekarang, tentang pertikaian abadi antara yang namanya yayasan dengan universitas, tentang kualitas dosen dan sebagainya. Komentarnya: ‘kalau begitu diagendakan aja pertengkarannya, Mas. Setahun harus tengkar 3 kali, gitu.’ Setelah ngakak menyambut komentar itu, dalam hati saya mengakui bahwa yang namanya eker2an dan bertengkar di lembaga pendidikan itu selalu ada. Ya biarlah, nggak usah ditahan2, wajar kalau orang berbeda pendapat, asal ya jangan sampai saling bunuh2an aja….

Tadi menjelang petang saya chat dengan mantan mahasiswi yang sedang melanjutkan studi S2 nya di bidang pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus (anak autis, hiperaktif, dsb). Saya salut sama dia, mau menekuni bidang seperti itu. Pastilah dia sayang anak kecil. Profil BB nya aja dia memeluk seorang anak yang pasti muridnya. Dia juga cerita bahwa dia nyambi bekerja di sebuah lembaga pendidikan, dan menyadari bahwa gelar cum laude dan IPK sangat tinggi di bangku kuliah tidak menjamin bahwa semua akan berlangsung mulus di tempat kerjanya. ‘Saya punya bawahan orang Batak, Pak. Waduh, kalau ngomong kayak nantang ngajak perang. Saya belajar banyaak sekali tentang pekerjaan, karir, hubungan dengan manusia lain dan banyak lagi.’ Saya mengatakan ‘ya begitulah, kamu akan makin dewasa dan bijak seiring dengan pengalaman hidupmu di dunia nyata.’

Menyenangkan bicara dengan anak ini. Sayang kok dia ternyata sudah putus sama pacarnya, padahal dulu waktu masih kuliah keduanya seperti sudah siap nikah. ‘Saya sadar bahwa ternyata karakter kami berbeda, Pak’ katanya.

Saya tinggalkan chatnya karena istri tersayang memanggil saya untuk menemaninya tidur. Ketika bangun tengah malam, saya baca linesnya di BB tiga jam sebelumnya: ‘It’s so nice to chat with you again, Sir. It’s been a looong time’.

Goodnite, saya balas, lalu saya tutup BB dan asyik duduk di sofa nonton sepak bola.. . . .

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized