Curcol

Posted on September 9, 2012

0


Curcol

Ada yang aneh dengan blog sialan ini. Sejak koneksi Internet di kampus saya mampus beberapa minggu yang lalu, pembacanya berkurang drastis, bahkan pernah sampai nol. Sekarang per hari paling banter hanya sekitar 7 atau 8. Padahal dua bulan yang lalu paling sedikit masih tidak pernah kurang dari 20 an ekor per harinya. Ada apa gerangan?

Ya sebenarnya penyebabnya jelas: pembacanya mulai bosan. Lagipula di MaChung sekarang banyak bermunculan blog-blog baru dari para staf dan dosen. Ternyata banyak yang suka blogging. Hmm,…saya kok jadi kayak tukang bakso kehilangan langganan gini sih? Jual bakso kan gak sama dengan nulis blog. Kalau mau nulis ya nulis aja, peduli setan mau dibaca orang atau dibaca setan.

Tapi dampak baiknya ada juga. Tahu bahwa blog ini mulai ditinggalkan orang, saya sekarang bisa bebas ngocol sak enaknya, ga perlu takut nyinggung sana-sini. Ya wis, biarin, tancap aja terus.

Sebentar lagi peringatan sebelas tahun tragedi nine eleven di AS. Sebelas tahun lalu gedung kembar lambang superioritas bangsa AS dirontokkan oleh serangan kamikaze teroris Al Qaeda. Teroris membajak pesawat2 penumpang Amerika, lalu mengambil alih kemudi, dan menabrakkan kedua pesawat ke gedung World Trade Center. Setelah ditabrak, beberapa jam kemudian kedua gedung tinggi itu roboh. 3000 nyawa melayang.

Dari kisah nine eleven ini ada pelajaran penting yang saya amati: pucuk pimpinan militer, lembaga intelijen, dinas keamanan dan transportasi ternyata menjadi tembok birokratis yang sedikit banyak menyumbang pada tragedi itu. Laporan dari pegawai2 di jajarannya tidak ditanggapi dengan tangkas karena tembok birokrasi dan ego masing2 sektor. Akibatnya, ketika tindakan pencegahan dilancarkan, sudah terlambat. Pesawat teroris sudah dekat ke sasaran dan akibatnya ya memilukan seperti itu.

Betapa pentingnya para pemimpin mendengarkan laporan gawat darurat dari lapangan, dan betapa fatal akibatnya kalau mereka masih bersikokoh dengan rantai birokratis yang harus dilewati. Tidak cukup satu unit saja yang responsif, keseluruhan lembaga harus punya sikap tersebut dan punya skema tindakan cepat darurat manakala ada ancaman yang datang dengan cepat. Di kantor, saya punya catatan elektronik yang saya taruh di desktop saya. Tulisan2 yang saya buat dengan warna merah menunjukkan tingkat kegawatan yang tinggi. Biasanya, begitu datang di kantor, urusan2 yang merah-merah itu yang saya tangani duluan, sekalipun kadang tidak sepenting yang berwarna hitam.

Ah, bosan ah ngomong soal urusan birokratis. Saya mau curcol tentang betapa ketat aturan jaman sekarang untuk menjadi profesor. Seorang calon profesor harus bisa menembus jurnal internasional minimal satu kali, disamping seabreg karya ilmiah lainnya. Lalu, semua karyanya masih harus diperiksa kebenaran dan keasliannya oleh suatu tim. Habis itu, dia masih harus presentasi di depan para pakar di Kopertis sana. Setelah menjadi profesor pun, dia harus melaporkan kinerjanya setiap enam bulan sekali. Sudah kah dia menulis karya ilmiah, sudahkah dia meneliti, mengajar, dan melakukan pengabdian masyarakat? Sudahkah dia menulis buku? Ya, berat memang, tapi saya salut atas ketegasan pemerintah kita dalam hal ini. Lha iya lah, negara mbayari profesor ya lumayan lho jumlahnya per bulan. Masa profesornya mau nyantai2 aja? Makanya sekalipun saya cukup pontang-panting mengurus fakultas, saya senang dipacu seperti itu, karena saya menjadi tidak mandeg dan terus terpacu mengembangkan ilmu saya.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized