Kampus Obral Nilai

Posted on August 26, 2012

2


Obral Nilai

Tadi siang saya kedatangan mantan mahasiswi S2 yang mau minta surat referensi dari saya untuk melamar beasiswa. Cerita sana sini, dari dia saya mendengar bahwa universitas di Surabaya yang namanya diawali dengan huruf C dan satu lagi yang letaknya di mall itu bukan universitas bagus. Salah satu sebabnya adalah karena mereka cenderung obral nilai tinggi. Dia bahkan bercerita bahwa admin stafnya bisa merubah nilai dari dosen-dosennya sehingga menjadi lebih tinggi.

PTS-PTS kayak gini mungkin berpikir sempit bahwa kalau nilainya murah, pasti akan menarik minat banyak mahasiswa. Ternyata fakta di lapangan menunjukkan bahwa nilai yang terlalu tinggi bisa membuat publik meragukan kualitas pendidikannya. Ini akan lebih parah kalau lulusan2nya punya IPK cum laude tapi ternyata kemampuannya setara dengan IPK dua koma.

Gejala serupa sebenarnya juga mulai tercium kuat di lembaga saya sendiri. Wisuda tahun lalu saja yang cum laude bisa lima puluh persen lebih dari total jumlah lulusan. Padahal berani taruhan mereka ya nggak sebagus itu kok. Ini bahaya kalu dibiarkan. Harus ada tindakan segera untuk merombak penilaian sehingga tidak terkesan kami mengobral nilai tinggi yang pada akhirnya tidak sepadan dengan kualitas lulusan.

Maka saya termasuk salah satu yang menyuarakan gejala kanker stadium awal ini. Tapi belakangan saya mulai hilang kesabaran dan kepercayaan terhadap pimpinan2 lembaga ini. Dari dulu cuma ngomong doang nggak segera dilanjutkan dengan tindakan nyata. Maka mumpung saya jadi ‘penguasa’ Fakultas, saya oprek sendiri standar penilaian di Fakultas saya.

Standar nilai PKL dan skripsi saya rombak edan2an, saya lengkapi dengan kriteria penilaian yang sangat ketat, dan saya SK kan sehingga semua dosen wajib mengikuti kriteria itu. Nilainya terus terang sangat pelit, karena saya tahu sendiri bagaimana kualitas asli mahasiswa-mahasiswa saya. Selesai, langsung saya terapkan ke ujian-ujian PKL dan skripsi. Maka, kalau dulu (sebelum saya jadi ‘penguasa’) banyak nilai 80 ke atas untuk mutu yang sebenarnya jauh di bawah itu, sekarang nilai 70 bahkan 60 mulai bertaburan. Ya, memang pantasnya segitu kok, jadi ya sudah benarlah itu standar.

Nah, itu masih PKL dan skripsi. Ntar lagi menyusul kriteria penilaian perkuliahan saya “modifikasi” dengan sadis sehingga tidak ada lagi kesan Fakultas saya mengobral nilai. Tunggu tanggal mainnya yah.

Gak enak lho dinilai lebih tinggi daripada yang kita mampu. Saya masih ingat waktu kuliah dulu ada dosen yang gemar memberi nilai A untuk sebagian besar mahasiswanya. Saya jelas-jelas merasa bahwa nilai saya sebenarnya B minus, tapi toh saya dapat A. Waktu saya secara tidak langsung menanyakan ketimpangan itu, sang dosen menjawab dengan jawaban yang sama sekali tidak mendidik: ‘Yang jadi dosen ini sebenarnya saya atau Anda sih?’.

Fakultas sering dianggap sebagai ‘raja-raja kecil’ yang kadang terkesan membangkang dari kebijakan utama universitas. Dulu saya membenarkan anggapan itu. Tapi sekarang, setelah merasakan sendiri bahwa universitas kadang-kadang kurang responsif dan cepat tanggap terhadap apa yang terjadi di tingkat Fakultas atau Prodi, saya tidak menyalahkan raja-raja kecil itu.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized