Kisah si Hachi dan Kiko

Posted on August 19, 2012

0


Kisah si Hachi dan Kiko

Orang tua saya punya dua ekor anjing. Satu besar, hitam, dan berkarakter tenang, satunya lagi nakalnya melebihi setan. Yang terakhir ini konon jenisnya Fox Terrier. Tapi mau terrier mau geladak, yang jelas tingkahnya melebihi binalnya Lady Ga Ga. Ketika kemarin saya sekeluarga datang kesana untuk merayakan ultah adik saya, anjing itu langsung bikin heboh karena dia melompat tinggi2 menyambut istri dan anak-anak, menggigiti kaki mereka, berjalan-jalan di atas sofa, bahkan sampai hampir mengembat kue ultah yang ditaruh di meja. Semua dilakukan sambil menyalak-nyalak dengan berisiknya ngalah-ngalahi mercon Lebaran. Herannya, dengan saya dia cuek saja. Mungkin dia tahu saya bukan makhluk pencinta anjing.

Setiap pagi si anjing ini, namanya Hachi, dibawa jalan-jalan oleh adik saya dengan tali di lehernya. Sementara itu, si anjing yg lebih besar, namanya Kiko, berjalan bebas dengan tenang mendampingi mereka.

Suatu hari, rombongan manusia-anjing itu berpapasan dengan sekelompok pemuda berbadan tegap dari suatu kelompok bela diri yang sedang berlari-lari dalam formasi. Formasinya rapi, dan mereka berlari sambil berseru-seru mempertahankan kerapian barisan dan sebagai pemacu semangat.

Mendadak, formasi rapi dan gagah itu berantakan. Pemuda-pemuda itu mendadak lari kocar-kacir ke segala arah. Langkahnya yang semula teratur dan rapi jadi pontang-panting, bahkan sampai ada yang nyaris melompat masuk tempat sampah. Apa gerangan yang terjadi? Ternyata, dari depan barisan itu si Kiko sedang melesat dengan kencang, lalu menerobos barisan pemuda-pemuda malang itu. Yaah….setegap-tegapnya orang dan serapi-rapinya barisan, siapa tak ngeri melihat ada anjing hitam besar tiba-tiba menerjang dari depan? Si Kikonya sendiri sebenarnya tidak bermaksud menyerang. Dia memang anjing cool, tapi kalau kumat isengnya dia bisa tahu2 berlari cepat seolah-olah mau memburu apapun yang di depannya. Buktinya, setelah membuat barisan itu kocar-kacir, dia melangkah lagi dengan tenang dan cueknya.

Peristiwa itu diceritakan kembali di acara keluarga malam kemarin, disambut dengan tawa ngakak terpingkal-pingkal oleh kami semua.

Mungkin para pemuda itu akan menambah ilmu bela dirinya dengan jurus menghadapi serbuan anjing, ya.

Ngomong soal anjing, ada kabar buruk untuk si Hachi. Beberapa bulan lagi adik saya dan suaminya akan pindah ke Australia. Si Hachi nggak mungkin dibawa, dan terpaksa ditinggal. Masalahnya, di rumah itu yang paling sayang sama si Hachi ya adik saya dan suaminya itu. Kedua orang tua dan adik saya satunya tentu tidak mau direpotkan oleh ulah nakalnya.

“Jangan dibuang, kasihan,” kata murid saya yang juga pecinta anjing. “Anjing juga punya perasaan.”

Benar sekali. Beberapa puluh tahun yang lampau, ketika adik saya harus diopname karena sakit tipus, anjing kesayangannya juga mendadak sakit di rumah, lalu akhirnya mati…

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized