Senja di Akhir Pekan

Posted on August 12, 2012

0


Senja di Akhir Pekan

Seperti yang sudah saya tulis, menjelang akhir pekan saya menghindari monitor. Jadi BB, netbook dan iPad disingkirkan jauh-jauh, diganti dengan . . . setang sepeda.

Saya sepedaan sore-sore bersama si bungsu. Dia naik sepeda kecil yang bisa dilipat2 , dan saya naik sepeda balap. Biasanya kami akan berjalan beriringan menyusuri komplek perumahan, tapi mendadak terbersit di pikiran saya: we are two boys. Why not race?

Maka saya ajak si bungsu ke lapangan basket yang kosong, dan saya ajak dia balapan memutari lapangan itu. Semula saya kira dengan mudah saya akan mengalahkannya. Ternyata tidak. Dia melaju dengan cepat dan lincahnya berputar2, dan tak seincipun saya bisa mendahuluinya. Aargh, tidaaak!

Walaupun tahu itu hanya permainan, tetap aja ndak enak saya kalah. Maka saya pun bilang bahwa sepedanya lebih kecil, jadi pasti lebih cepat. Ayo tukar, kata saya sambil setengah merengut. Kami pun berganti sepeda, lalu balapan lagi. Ah, ternyata sama saja. Saya terus menerus dipantatinya, bahkan ketika saya sudah mengayuh sekuat tenaga. Yaah, …. Setelah sekitar dua puluhan putaran, menyerahlah saya sambil tak habis pikir bagaimana mungkin si bungsu yang belum genap 10 tahun itu bisa mengalahkan papanya.

Jadi ingat Michael Schumacher di balap F1. Prestasinya yang 7 kali juara dunia membuat pers menjulukinya Tuhan F1. Tapi ternyata sang tuhan pun, ketika berlaga di tahun ini, bisa kalah cepat sama seorang pembalap muda bernama Nico Rosberg yang setim dengannya. Sekuat-kuatnya Schumi tancap gas, tetap saja Nico lebih cepat sepersekian detik darinya.

“Waktuku berapa?” Schumi tanya lewat radio ke teknisinya di paddock setelah habis2 an menggeber mobilnya melewati garis finish.

“Lumayan,” jawab teknisinya. “Tapi Nico lebih cepat dua persepuluh detik dari kamu.”

“Oh, ok,” jawab Schumi dengan nada pasrah.

Tak ada seorangpun yang bisa menang melawan yang satu ini: usia. Ini berlaku bukan hanya di dunia olah raga yang jelas mengandalkan ketangkasan, koordinasi reflek dan kekuatan stamina, tapi juga dimana-mana. Di dunia karir, saya mungkin bisa bekerja lebih cepat dan menyelesaikan lebih banyak (bahkan lebih baik) daripada para senior yang usianya dua puluh bahkan tiga puluh tahun lebih tua daripada saya. Tapi lihat aja, nanti saya pun pasti harus mengakui keunggulan mahasiswa2 saya yang sekarang masih tunduk2 menuruti semua instruksi dan ajaran saya.

Usain Bolt di cabang lari 100 meter suatu ketika pasti akan kalah dari Yohan Blake, sama seperti Michael Phelps sudah pernah kalah dari Lochte di cabang renang.

No one defies age.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized