Anak Kota Masuk Desa

Posted on August 12, 2012

4


Anak Kota Masuk Desa

Ini adalah tulisan nostalgik. Dua puluh tiga tahun yang lalu, saya dan beberapa belas teman mengikuti program wajib yang namanya Kuliah Kerja Nyata (KKN). Program ini mengharuskan kami para mahasiswa untuk tinggal di daerah pedesaan selama lebih kurang 3 bulan, dan disana membantu pengembangan desa. Kalau sekarang nggak kebayang kan program seperti itu dijadikan mata kuliah wajib di MaChung? Bisa-bisa kampus didemo oleh orang tua mahasiswa yang kebanyakan dari kelas menengah ke atas dan menempati strata sosial yang jauh beda dengan masyarakat desa itu.

Tapi di tahun 1989 di sebuah kampus yang namanya IKIP Malang, itulah yang terjadi. Kami berangkat naik Colt ke desa yang namanya Tumpakrejo, di daerah Malang Selatan. Semakin jauh dari kota, semakin ciut rasanya nyali kami. Rumah makin jarang, aspal menghilang diganti jalan makadam, dan puncaknya, pembimbing lapangan kami mengatakan: “baik, sekarang kalian ucapkan selamat tinggal pada air kran ya, soalnya nanti di desa nggak ada air PDAM, yang ada sumur dan sungai.”

Biyuh!

Di desa itu, kami tinggal di rumah Pak Lurah, dan ada lagi yang di rumah Kepala Dusun setempat. Desa itu luas sekali, konturnya berbukit-bukit, jalan makadam menghubungkan satu dusun dengan dusun lainnya, alamnya penuh semak, tanaman bambu dan pohon-pohon. Tak ada listrik, sebagai gantinya setiap sore kami memompa tabung gas lampu petromaks untuk penerangan. Empat mahasiswi tidur bersama di kamar Bu Lurah, sementara kami enam cowok tidur bak ikan pindang di kamar satunya. Untung kami semua tergolong langsing, sehingga tidur seperti itupun ya ayo saja.

Nah, yang seru adalah pengalaman mandi. Penduduk desa itu mandi di sumur, hanya dibatasi oleh anyaman bambu atau papan kayu tipis yang dibentuk menjadi ruang kecil. Ya, bisa dibayangkan, namanya aja anyaman bambu, ya pasti menyisakan celah-celah kecil yang membuat pemandangan di dalamnya menerobos keluar. Sore pertama, kami semua heboh ketika saatnya mandi. Cewek-cewek pada ndak mau mandi di sumur satunya yang agak jauh dari rumah, karena disana lebih gelap dan mereka pasti takut gendruwo ( jaman itu belum dikenal setan ngesot). Jadi terpaksa satu sumur dipakai bergantian antara cowok dan cewek. Di bawah terang bulan purnama, kami mandi di sumur itu. Ketika yang cewek mandi, kami para cowok duduk membelakangi sumur, dan begitu sebaliknya. Sementara kami heboh seperti itu, pak Carik dan seorang ibu disitu tertegun2 memandang kami. Mungkin pikirnya: ‘wong mandi aja kok hueboh setengah mati sih anak2 kota ini??’.

Setelah sekitar dua mingguan disana, akhirnya kami para cowok menemukan cara mandi yang lebih nyaman: di sungai. Jangan dibayangkan sungainya kayak sungai di kota yang keruh dan njijiki itu. Sungai di desa itu sungguh menawan, airnya bening dan menyegarkan, terlindung oleh bebukitan penuh semak dan pohon. Setiap pagi sebelum melakukan kegiatan membangun desa (biyuh, istilahnya mulia banget ya), saya bersama beberapa teman cowok berangkat mandi di sungai yang jaraknya sekitar satu setengah kilometer dari rumah. Kebayang nggak sih, lha mau mandi aja kok harus jalan satu setengah kilo? Tapi karena alam disitu sungguh murni penuh pepohonan dan kicauan hewan, maka perjalanan itu tidak terasa menyiksa. Di sungai itu pula akhirnya saya bisa menguasai teknik berenang setelah mencermati kawan2 saya dari jurusan pendidikan olah raga. O alah, dulu les berenang gak bisa-bisa, ternyata nggelethek ae bisanya setelah sering mandi di sungai waktu KKN.

Tapi sungai itu menyisakan kenangan dahsyat buat kami para cowok kota. Suatu kali sore-sore kami pergi ke sungai mau mandi. Setelah mencebur ke sungai, eh, ada beberapa gadis desa mendekati lokasi kami, dan nampaknya mereka sedang bersiap-siap mau mandi juga. Kami berdebar2. Waduh, ternyata benar. Salah satu dari mereka dengan tenangnya langsung membuka semua pakaiannya, kemudian nyemplung ke sungai tak jauh dari kami. Kedua temannya yang lebih kecil langsung mengikuti tindakannya. Gobloknya kami kok ya ndak pura2 sedang menyelam atau sabunan gitu, malah memandang semua itu dengan tertegun….

Kami membisu. Tak dinyana, apa yang selama ini hanya kami bincang2kan kalau sedang ngobrol kosro di kampus atau liat video ternyata tersaji di depan kami dengan sangat polos, spontan tanpa malu-malu sedikitpun di desa ini. Mungkin taman Eden dulu kayak gini ya? Perempuan dan pria mandi sama-sama tanpa pikiran cabul dan tanpa malu. Kan gara2 ular sialan yang membujuk makan apel itu akhirnya kita semua dikutuk Tuhan dibuat jadi malu atas ketelanjangan, lalu jadi berpikiran parno dan sebagainya yang ndak bagus itu….

Nah, cerita itu belum selesai. Para gadis desa tadi ternyata masih berlama-lama mandi di sungai itu, ciprat2an air sambil guyon, lha sementara kami sebenarnya sudah ingin naik lagi ke darat karena mandinya sudah agak lama. Blah…celaka dah…badan sudah kedinginan tapi apa daya ndak berani keluar dari air karena malu dilihat para perawan desa itu.

Demikianlah, cerita anak-anak kota masuk desa. Akhirnya setelah tiga bulan, program itu selesai. Ketika kembali ke rumah dan merasakan nikmatnya mandi dengan water heater, listrik 24 jam, tv, komputer, dan segala jenis peradaban modern lainnya, entah kenapa ada saat-saat saya merindukan kembali ke alam liar nan perawan di desa Tumpakrejo itu. Mungkin itu menunjukkan bahwa kita ini adalah anak alam, sehingga jauh di ddasar kesadaran sana, selalu ada kerinduan akan sentuhan alam seperti itu. Mungkin juga secara naluriah kita mendambakan taman Eden, tempat dimana burung, harimau, dan kalajengking hidup damai berdampingan, dan wanita dan pria mandi bersama-sama dengan riang di bawah terang lembut sang purnama….

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized