Toleransi

Posted on August 7, 2012

0


Toleransi. Kata itu menjadi semakin sering didengung-dengungkan akhir-akhir ini seiring dengan maraknya wacana bahwa negara Indonesia termasuk negara gagal. Negara gagal artinya adalah negara yang gagal memberi jaminan keamanan bagi beberapa kelompok penduduknya, terutama yang tergolong minoritas. Ya, ndak usah disangkal lah, kalau Anda pemeluk agama yang tergolong minoritas disini, Anda harus lebih banyak menahan diri dan ngalah. Ya, memang, ngalah itu baik, (bahkan ketika rumah ibadah Anda dibakar dan sanak saudara Anda diancam, atau kegiatan ibadah Anda dikekang dengan demonstrasi), tapi dari kacamata Perserikatan Bangsa-Bangsa, negara Anda sudah gagal , atau minimal terancam gagal.

Toleransi menjadi bermakna ketika ada perbedaan. Dan perbedaan, salah satunya perbedaan agama, adalah hal yang niscaya di Indonesia. Toleransi itu sederhananya adalah mengatakan: “Saya yakin agama saya yang paling benar, tapi saya menghormati hak Anda untuk memeluk agama yang juga Anda yakini benar. Jadi mari kita berbeda, tapi saling menghormati dan tidak saling mengancam karena perbedaan itu”. Begitu.

Mungkin ada yang menggugat klaim “agama yang paling benar” itu. Lho, coba pikir: Anda memeluk agama Anda kan karena merasa bahwa itu adalah jalan yang paling benar, kan? Betul, ndak? Dari sekian banyak agama, Anda merasa bahwa satu agama itu adalah yang paling benar menurut akal budi Anda, jadi Anda putuskan untuk memeluknya dan taat pada aturan-aturan dan perintahnya. Betul ndak? Lha kalau semua agama Anda anggap benar, kan mestinya Anda ndak keberatan disuruh pindah ke agama lain, terus bulan depan pindah ke yang lain lagi, terus tahun depan pindah lagi ke agama satunya lagi. Lha kenapa Anda nggak mau disuruh jadi kutu loncat seperti itu? Ya karena Anda meyakini bahwa agama yang Anda anut sekarang adalah yang paling benar. Gitu aja kok.

Jadi, kalau gitu, agama selain agama yang Anda peluk adalah salah, dong? Ya, iya, memang begitu implikasinya. Tapi kenapa Anda tidak lantas menghabisi orang-orang beragama lain tadi? Ya, sekali lagi karena Anda punya prinsip TOLERANSI tadi; Anda yakin pada kebenaran agama sendiri, tapi tetap menghormati hak orang lain yang memeluk agama lain. Bukankah begitu?

Posted in: Uncategorized