Dance

Posted on August 7, 2012

0


Kalau mendengar kata “dance”, yang terbayang di benak saya adalah sekelompok cowok atau cewek menari dengan lincahnya di atas panggung, memperagakan berbagai gerakan dengan harmonisasi, keluwesan, dan kecepatan mengagumkan. Setelah jamannya breakdance di era 80 an dulu, sekarang kita kenal street dance yang juga masih menyisakan warna breakdance namun dengan kombinasi yang lebih memukau.

Namun dance juga bisa berarti tarian gemulai seorang penari Jawa yang sering saya lihat di acara-acara resmi.

Mana yang lebih baik?

Ya secara esensinya, ndak ada yang lebih baik satu dari yang lainnya. Setiap jenis tarian pasti mempunyai makna sendiri. Tarian Jawa yang cenderung lemah gemulai dan bertempo pelan itu pasti punya nilai filosofi yang dalam di balik setiap gerakannya. Nah, kalau tarian tradisional menyiratkan aura sakral dan dalam, tari modern seperti breakdance atau street dance menyajikan nilai yang lebih dangkal, tapi tidak kurang dayanya dalam memicu kekaguman. Gerakan yang cepat dan bertenaga atau ringan dan ceria itu menyiratkan kreativitas, latihan keras, kekuatan otot dan kelenturan tubuh. Pernah melihat moonwalknya Michael Jackson? Konon, tak seorang pun bisa menyamai kehalusan gerakannya dalam moonwalk itu. Penari terbaik pun ternyata masih kelihatan agak berupaya keras, sementara Michael melakukannya seperti seolah-olah berjalan mundur dengan kaki bak meluncur di lantai itu adalah bagian hidupnya sehari-hari; begitu santai, meluncur mak tlusur begitu saja.

Bagi beberapa seniman dan seniwati yang sudah menjadikan menari sebagai bagian hidupnya, mereka bisa setengah kesurupan ketika mulai menari. Ada seorang wanita yang saya lupa namanya, sudah berusia 80 an tahun, namun dia masih sangat pintar menari topeng. Tubuhnya sudah renta, namun begitu dia memasang topeng di wajahnya dan bergerak mengikuti musik, tubuh itu mendadak seperti terisi oleh kekuatan magis dan mulailah tarian itu tampil dengan sangat menawan. Begitu topeng dilepas dan tarian selesai, maka si wanita itu pun kembali menjadi seorang tua yang sudah renta.

Saya sering melihat acara “Got To Dance UK” di televisi. Isinya adalah audisi penari-penari modern di Inggris. Satu penari atau satu kelompok penari tampil habis-habisan di depan 3 orang juri. Ya, bagus, sih. Tapi entah kenapa setelah empat yang pertama, saya mulai merasa bosan. Gila, secepat itu bosannya? Iya, bosan . . . soalnya rasanya semau pola tariannya sudah tertebak, dan ya, rancak sih memang rancak, tapi kok mboseni ya? Apa karena tarian modern itu sebenarnya ga ada nyawanya? Saya pernah melihat tarian suku Aborigin, atau tarian Maori yang pakai menjulur2kan lidah, atau tari suku Indian ketika mau berperang; kesannya garang dan membuat saya merinding. Yang kayak ginian ndak pernah mboseni; apa karena tarian itu punya nyawa yang sudah diturunkan selama berabad-abad dari dunia mistis nenek moyangnya ya? Ya, pantas kalau mencengangkan. . .

Saya ingat status fb saya beberapa bulan yang silam: “Boys dancing on stage look like a bunch of morons”, yang artinya adalah : “cowok-cowok yang menari di panggung kayak segerombolan idiot.” Eh, langsung seorang mahasiswi saya me “like” status tersebut. Berarti setuju nih gadis ini sama pendapat saya.

Waktu menjuri drama beberapa minggu yang lalu di Balai Pertiwi, saya langsung memberi skor nol untuk setiap kelompok yang menampilkan dance modern di dramanya. Ini drama, bukan tari, jadi ya pantas dong kalau saya kasih nol.

Markonah bilang dia ingin kursus menari modern. Ya, kenapa tidak, kata saya. Menari itu bagus, menyehatkan jiwa dan raga kok. Perkara orang lain mau mengagumi atau meledek, ya biarin aja toh.

Posted in: Uncategorized