Operasi Plastik

Posted on August 4, 2012

0


Operasi Plastik

Mahasiswi yang satu ini dekat sekali dengan saya. Namanya Martini, tapi supaya identitasnya di blog ini tersamar demi privasinya, saya sebut saja dia Markonah.

Markonah tidak jelek. Tinggi langsing, rambutnya berombak sebahu. Tapi suatu ketika dia datang menemui saya dan mengatakan bahwa dia ingin melakukan operasi plastik.

Saya agak tercenung mendengarnya. Saya heran kenapa dia ingin operasi plastik.

“Karena kakak saya bilang hidung saya pesek, dan mata saya kurang lebar sedikit. Dan, uhmm…dada saya tidak besar.”

Saya memandang lekat-lekat semua bagian tubuh yang disebutkannya, kecuali yang terakhir. Saya mengernyit. “Tidak ada yang salah dengan hidung dan mata kamu,” saya berkata. “Kamu tuh orang Asia, keturunan China. Dimana-mana yang namanya orang China itu ya mesti matanya agak sipit dan hidungnya tidak mancung kayak Catwoman.”

Lalu saya menceritakan teman saya di SMP dulu. Cewek, matanya sipit. Suatu ketika dia absen lama, dan ketika sudah masuk, ternyata matanya yang sipit itu sudah menjadi lebar seperti orang India. Banyak yang mengagumi penampilan barunya. Tapi dalam hati saya menyesalkannya: “kamu itu sudah cantik dengan mata Chinese mu, lha kenapa kok malah dilebarkan??”

Saya menduga banyak orang seperti Markonah yang ingin operasi plastik karena mengira bahwa dirinya kurang cantik dengan apa yang sudah dianugerahkan Tuhan. Dalam hal Markonah, dia termakan omongan kakaknya yang mengatakan bahwa dia akan lebih cantik dengan hidung mancung, mata lebar dan buah dada besar. Markonah belum punya pacar, tapi seandainya dia punya dan sang pacar juga mendorongnya untuk menanamkan plastik ke dalam tubuhnya, Markonah pasti akan lebih ingin lagi. Jika dia pun belum punya, masih ada lagi faktor yang pasti membuatnya kepingin: iklan-iklan di televisi yang mencitrakan wanita cantik sebagai mereka yang berhidung mancung, berkulit kuning bersih, bermata lebar, dan berdada besar. Itu masih diperkuat lagi dengan alat-alat yang memang dirancang untuk membentuk keindahan raga: push up bra, slimming belt, lotion pemutih, dan segala macam lagi.

“Jadilah dirimu sendiri, Markonah” saya bilang. “Kamu jangan termakan bujukan kakak, atau pacar, atau iklan. Kamu harus punya pendirian, yakin bahwa kamu sudah cantik dengan semua yang kamu punyai.”

Markonah terdiam sesaat. ” Tapi, bukankah citra diri itu juga terpantul dari pendapat orang lain?” katanya setelah beberapa saat. “Dan kalau saya mampu membiayai operasi plastik itu, bukankah tidak ada salahnya, Pak?”

Ganti saya yang terdiam.

“Pak nggak suka ya dengan wanita yang dioperasi plastik. Kenapa?” tanya Markonah.

” Karena saya tidak mau tidur dengan wanita yang ada plastiknya, apalagi menciuminya, Markonah” jawab saya. “Secara psikologis, saya merasa wanita seperti itu sudah kehilangan keperawanan dan kemurniannya dalam arti sebenar-benarnya.”

Lalu saya bercerita sebuah kasus beberapa tahun yang lalu. Seorang wanita ngotot disuntiki silikon setiap bulan agar dagunya menjadi lebih berisi. Pertama lancar, eh, belum juga setahun silikon itu mblenyek dan mengalir keluar, membuat wajahnya jadi kocar kacir. Perawatan yang dilakukan malah membuat tubuhnya keracunan dan akhirnya dia tewas mengenaskan.

Markonah tersenyum. “Iya, tapi itu kan hanya satu kasus, Pak, yang lainnya yang sukses juga masih banyak sekali.”

Lalu dia bercerita bahwa di Korea satu dari sepuluh wanita muda menjalani operasi plastik, dan semuanya sukses. Biayanya juga sangat terjangkau.

“Lagipula, operasi plastik akan membuat saya lebih percaya diri, Pak. Saya juga tidak repot lagi melayani desakan kakak saya. ”

Saya angkat bahu. Apa yang dikatakannya ada benarnya. Dia ngotot, ya, apa hak saya untuk mencegahnya? Saya kan hanya memberinya pandangan.

“Tapi, Pak, sebentar… Tadi bapak bilang saya ini cantik. Sungguhan tah, Pak?” Markonah bertanya.

“Iya, kamu cantik, ” jawab saya datar tanpa ekspresi. Matanya berbinar-binar. Sebelum binar itu hilang, saya lanjutkan kalimat saya: “Boneka pajang di toko-toko itu juga cantik kok, Markonah, tapi mereka plastik semua.”

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized