Sharing Mentoring

Posted on July 20, 2012

0


Tadi pagi saya dan beberapa rekan dosen diundang ke acara sharing dengan mahasiswa-mahasiswa angkatan 2011 yang mau menjadi mentor untuk adik-adik kelasnya. Saya suka kegiatan ini, sekalipun saya juga sadar bahwa sebagai mentor saya sendiri juga masih dhedhel duwel (basa Jawa, artinya: “banyak kelemahannya”). Maka ketika diminta sharing bersama enam orang calon mentor, saya ungkapkan apa adanya.

“Pak, pengalaman apa yang paling berkesan sebagai seorang mentor?”

Saya jawab: “Oh, pengalaman paling berkesan adalah ketika saya berkonflik dengan salah satu mentee saya. Aneh ya? Wong mentor kok musuhan sama menteenya? Tapi ya itulah yang terjadi. Tapi akhirnya semuanya menjadi baik kembali, dan kami berbaikan kembali. Satu pelajaran yang saya tarik dari hal itu: baik mentor maupun mentee sebenarnya saling belajar satu dari yang lain. Mentor kan manusia juga.”

“Pengalaman berkesan yang lainnya adalah ketika mentee-mentee saya bertanya kepada saya: ‘Pak, kapan sesi mentoring lagi?’. Nah, kalau nanti mentee-mentee Anda sampai mengeluarkan pertanyaan seperti itu, Anda boleh berbesar hati. Itu tandanya kehadiran Anda sebagai seorang mentor dirindukan oleh mentee-mentee Anda, dan mereka menikmati sesi mentoring tersebut.”

“Pak,” tanya yang lain, “apa sih resepnya menjadi mentor yang baik?”

Jawab saya: “Pertama, kalian mesti ingat bahwa semua mentee kalian akan memandang kalian sebagai panutan, sebagai role-model. Oleh karena itu ya kamu nggak bisa bersikap seenaknya, main cuek, bersikap tidak ramah, bikin masalah, dan sebagainya. Kalian harus menjadi figur yang patut diteladani oleh mentee-mentee kalian.”

“Pak, gimana kalau ada mentee yang merupakan pribadi yang super mbencekno, alias orang yang sulit?”

Jawab saya: “Ya, itu perlu pendekatan tersendiri yang nggak bisa seketika. Perlu diajak omong, didekati, didengarkan. Ingat bahwa pada dasarnya setiap orang itu memiliki kebutuhan akan tiga hal ini: perhatian, penghargaan, didengarkan. Jadi untuk menghadapi mentee sulit, perlu ketiga hal tersebut.”

“Pak, ” tanya yang satu lagi. “Bagaimana kita harus membentuk first impression ketika pertama kali ketemu mentee-mentee?”

“Yeah, kesan pertama (first impression) itu sangat penting. Kalau kesan pertama saja sudah jelek, mentee-mentee ndak akan merasa nyaman dengan Anda. Pertahankan kontak mata, bersikaplah terbuka dan ramah, pasang senyum, dengarkan mereka, perhatikan, hafalkan namanya. Nih, saya langsung hafal nama-nama kalian: Alvin, Gita, Filemon, Maya, Debora, Dena. Betul kan? Nah, itu salah satu cara memberikan kesan pertama yang baik.”

“Kalian punya figur panutan, kan?” tanya saya, yang langsung diiyakan oleh mereka dengan menceritakan figur panutannya masing-masing. “Nah, tugas kalian sebagai mentor adalah menyadarkan para mentee akan figur panutan mereka masing-masing. Katakan kepada mereka bahwa kalian harus bisa meneladani figur panutan mereka masing-masing.”

Sesi itu bergulir terus, sampai tak terasa hampir satu jam sudah berlalu. Dalam sesi penutup, sebenarnya masih tersisa pertanyaan di benak kami, para mentor, tentang selisih usia para calon mentor itu dengan menteenya yang terlalu tipis. Dengan beda usia hanya 1 – 2 tahun, apa ya bisa mentee-mentee mereka memandang mereka sebagai figur dewasa yang mampu memberikan panutan dan pengalaman hidup? Dari sejak dulu saya sudah agak waspada terhadap apa yang namanya mentor tunjukan, maksudnya mentor yang diberikan langsung ke maharu, padahal kalau mentor itu juga role-model, seharusnya si maharu memilih sendiri figur yang dianggapnya teladan. Tapi memang sebaiknya kita berpikiran positif saja: dengan menjadi sebaya seperti ini, mereka akan lebih mudah masuk ke dunia para menteenya dan punya empati yang lebih besar terhadap kegundahan dan keprihatinan mereka. Semoga program mentoring kali ini berjalan lancar dan mampu lebih baik dari yang sebelumnya.

Posted in: Uncategorized