Peniup Seruling Mistis dan Perguruan Tinggi

Posted on July 18, 2012

2


Pernah baca nggak cerita di jaman dulu tentang seorang peniup suling ajaib? Irama sulingnya sangat membuai sehingga siapapun akan terlena dan terbuai olehnya. Sang peniup suling ini diundang oleh seorang raja yang sedang pusing menghadapi serbuan hama tikus di negerinya. Dia meminta bantuan sang peniup suling untuk membawa keluar semua tikus itu lewat daya magis sulingnya.

Si peniup suling menyanggupi dengan syarat dia akan mendapatkan imbalan yang besar dari sang raja. Sang raja mengiyakan, dan mulailah sang pesuling itu beraksi. Dia turun ke jalan, meniupkan irama magis dari sulingnya, dan sontak berpuluh-puluh tikus mengikutinya. Yang puluhan menjadi ratusan, lalu ribuan. Ribuan tikus mengikuti si pesuling, terpikat oleh irama sulingnya. Sang pesuling berjalan terus, terus, menuju sebuah danau yang dalam. Kesanalah semua tikus itu akhirnya mencebur menemui ajalnya . . . .

Seluruh negeri terbebas dari kepungan tikus. Namun celaka, sang raja ternyata ingkar janji. Imbalan yang tadi dijanjikannya kepada si pesuling tidak kunjung diberikannya.

Sang pesuling hanya diam. Lalu dia melangkah kembali ke jalan. Ditiupnya sulingnya lagi dengan irama mendayu pekat dengan kekuatan magis yang sangat menarik. Apa yang terjadi? Kali ini bukan tikus yang keluar mengikutinya, namun anak-anak. Ratusan, ribuan, puluhan ribu anak keluar dari rumah mereka, meninggalkan orangtua dan saudara-saudaranya untuk mengikuti si pesuling. Si pesuling terus meniup sulingnya, berjalan terus, terus, makin jauh, lalu akhirnya lenyap. Irama sulingnya lenyap, yang tinggal hanyalah ratap tangis para orang tua yang kehilangan anak-anaknya . . .

Dalam waktu singkat negeri itu kehilangan semua anaknya. . . .

Kisah di atas ada hubungannya dengan status FB saya pagi tadi: “Think! Dont just follow the pack!”. Bahasa Jawanya: “Berpikirlah! Jangan cuma menuruti kemanapun orang-orang lain pergi”. Kalau kita malas berpikir, akhirnya ya seperti anak-anak yang mengekor si pesuling itu: apapun yang banyak orang lakukan, kita akan langsung melakukannya juga tanpa berpikir panjang apakah hal itu bermanfaat atau tidak buat kita.

Di perguruan tinggi, hal seperti ini juga terjadi, kalau kita cermat memperhatikan. Dulu sempat berembus angin kencang yang namanya semangat entrepreneurship. Semua-semua maunya diarahkan ke entrepreneurship. Maka lalu berlomba-lombalah beberapa PTS atau PTN mengibarkan tag line: “Kami adalah entrepreneurship university!”. Eh, setahun ke depannya, ternyata ada angin yang lebih kencang berembus lagi, namanya “research”. Semua kalangan terdidik bicara tentang perlunya riset sebagai batu fondasi untuk membangun bangsa dan merebut kemajuan. Sontak beberapa perguruan tinggi merubah haluannya, dan mengganti tag linenya dengan “Kami adalah research university”.

Iki apa-apaan sih sebenarnya? Kenapa perguruan tinggi yang katanya gudang manusia intelektual itu jadi kayak pelacur gini? Pelacur kan gitu? Pelanggannya suka oral, dia akan memperagakan oral seks; pelanggannya lebih suka doggie style, dia akan doggie style. Nggilani kan?

Lalu terus mana itu aplikasi jargon yang sering disebut sebagai “warna khas perguruan tinggi”, “warna khas prodi”, kalau semua maunya hanya mengekor? Kenapa jarang yang berpikiran kritis dan tidak sekedar ikut arus yang popularitasnya hanya seumur jagung? Kenapa seperti seolah tidak ada yang sadar bahwa merubah tag line atau motto atau visi dan misi berarti juga harus memastikan bahwa jerohannya sudah siap untuk mewujudkan cita-cita itu? Percuma menyebut diri research university kalau ternyata sebagian besar anggarannya bukan dari penghasilan penelitian, masih mengandalkan pemasukan mahasiswa, dan/atau budaya meneliti sangat lemah di kalangan dosennya karena lebih sibuk (dipaksa) mengajar atau kebanjiran tugas lain.

Maka saya pun memuji alma mater saya, IKIP Malang yang sekarang namanya adalah Universitas Negeri Malang. Tag line atau mottonya adalah “The Learning University”. Gila, boook! Rendah hati banget, mencerminkan bahwa universitas ini tidak mau berpongah diri sekalipun sekarang menjadi makin megah dan makin banyak menorehkan prestasi. Dengan semboyan itu, dia mau tunduk pada fakta bahwa sejatinya manusia–setinggi apapun gelar dan pangkatnya– tidak pernah berhenti belajar. Saya tidak tahu siapa yang menciptakan tag line sangat bijaksana dan sarat kerendahhatian itu. Tapi saya bisa perkirakan bahwa mereka pasti profesinya guru, . . . iya, pastilah guru, . . . hanya guru yang bisa berpikir sebijaksana itu.

Dan si peniup suling pun terus meniupkan sulingnya. Iramanya mendayu-dayu, melenakan, membahagiakan . . . .

Posted in: Uncategorized