Bahasa Jawa dan Kita

Posted on July 17, 2012

7


Gara-gara insiden menara Babel, akhirnya sampai detik ini kita harus bersusah payah belajar bahasa asing. Tau kan insiden Menara Babel? Itu diceritakan di Kitab Suci. Ketika itu, tiba-tiba ada beberapa nyala api turun dari langit ke beberapa orang yang sedang berada di puncak menara Babel, dan begitu bara api berada di atas kepalanya, mulailah mereka berbicara dalam bahasanya sendiri-sendiri.

Keakuratan cerita itu saya sendiri nggak tahu, ha ha ha! Yang jelas, saya ingin mengatakan bahwa di jaman millenium kedua ini, sudah jamak bahkan suatu kewajiban untuk seorang terdidik menguasai lebih dari satu bahasa. Bahasa ibu (yaitu bahasa yang pertama kali didengar dan dikuasai oleh seorang anak) tentunya tidak cukup. Di sekolah, sang anak akan mempelajari bahasa kedua, yang kalau di kita adalah bahasa Indonesia. Kemudian, di sekolah menengah ditambah lagi dengan bahasa asing pertama, yang di kita adalah bahasa Inggris. Seiring dengan kemajuan jaman dan pergeseran kekuatan geopolitik, sekarang orang-orang diharapkan untuk juga bisa berbahasa Mandarin.

Bahasa ibu saya adalah bahasa Jawa, bahasa kedua adalah bahasa Indonesia, bahasa ketiga adalah bahasa Madura (pasif), dan bahasa asing pertama adalah bahasa Inggris. Maunya sih mempelajari juga bahasa Mandarin, tapi waduuh. . . waktunya nggak ada. Kalau pun ada waktu luang kayak sekarang, ternyata lebih asyik blogging daripada belajar bahasa Mandarin, ha ha haa!

Sekian belas tahun saya lebih banyak berbahasa Indonesia dan terutama bahasa Inggris di tempat kerja. Di rumah, saya sudah terbiasa memakai bahasa Indonesia sedikit nyampur dengan Jawa dan Madura.

Ada seorang mahasiswi saya yang nggak suka mendengar orang berbicara bahasa Jawa ngoko. “Biar pria cakep, kalau bahasanya ngoko ya males, Pak,” katanya. Lucunya, suatu ketika pada sebuah seminar kelas, dia mengungkapkan sesuatu dengan bahasa ngoko: “Lha aku lak ngelak ya tho?” katanya sambil menggenggam sebotol Mix Max dan kemudian menenggaknya sampai geloyoran hampir jatuh dari lantai 2. Saya tertawa mendengar kata “ngelak” itu. Ngoko bangeet. . . . Kali lain, melihat saya memasukkan ponsel ke saku, dia nyeletuk: “wih, dikesak . . .”. Saya kontan ketawa. Lucu aja melihat mahasiswa yang katanya ga suka ngoko ini ternyata masih bisa nyeletuk dengan bahasa itu.

Aneh juga ya, sekian belas tahun berbicara dalam bahasa Inggris dan Indonesia, saya ternyata merasa ada sensasi yang sangat lain ketika berbicara dalam bahasa Jawa ngoko. Pertamanya, saya mencoba menulis status Facebook dengan bahasa Jawa ngoko. Begitu selesai, dan dikomen beberapa orang dengan bahasa yang sama, mendadak saya merasa kayak kembali ke rumah. Rasanya jadi at home banget dengan bahasa itu.

“Sak jane ngono aku yo luwih seneng basa ngoko timbangane terus terusan basa Inggris.”

Nah, tuh . . . itu bahasa ngoko yang kalau saya terjemahkan ke bahasa Inggris menjadi: “Actually, I like speaking in ngoko language more than speaking English all the time.” Hmm, maknanya sama, tapi rasa hatinya bisa berbeda jauh lho. Dengan bahasa ngoko di atas, saya merasa seperti berada di rumah sendiri, dengan gaya sendiri, dan sangat nJawani; dengan bahasa Inggris, saya merasa seketika terpental ke budaya yang lebih modern dan lebih berasa intelek.

Saya masih ingat pengalaman beberapa belas bahkan puluh tahun yang lalu. Blusukan bersama dengan seorang teman keturunan Tionghoa di pasar Bareng, saya terkejut mendengar dia menawar dengan bahasa Jawa krama: “Buk, niki mboten pikantuk kirang?” (Ibu, apakah yang ini ndak boleh kurang (harganya)). Jederrr! Saya merasa tertohok. Saya yang jelas Jawa tulen dengan ayah ibu keturunan Jawa Tengah ndak bisa lho berbahasa Jawa krama sehalus itu, lha kok malah teman etnis Tionghoa itu bisa berbahasa Jawa halus dengan fasihnya . . . .

Peristiwa yang sama dengan teman yang berbeda tapi sama-sama keturunan Tionghoa terulang lagi di S2. Teman saya itu menyapa pembantu saya dengan bahasa Jawa krama: “Bade tindak pundi, Bu?” (mau pergi kemana, Bu). Biyuh biyuh . . . . isin tenan aku rasane . . .

Kembali ke sang mahasiswi tadi. Dia merasa nggak suka mendengar bahasa ngoko karena kesannya kasar dan kampungan. Tapi apakah berarti dia menyukai mendengarkan bahasa Jawa krama yang terkesan sangat halus, sopan, dan luhur itu?

Posted in: Uncategorized