Menjadi Tua dan Menjadi Bijaksana

Posted on July 8, 2012

0


Menjadi Tua dan Menjadi Bijaksana

Menjadi tua itu wajib, menjadi bijaksana adalah pilihan.

Ungkapan di atas sangat benar. Dulu kita mengira bahwa semakin bertambah umur seseorang, akan semakin bijaksana lah dia. Ya, memang umumnya seperti itu, tapi ternyata banyak juga yang tidak. Dulu ketika saya SD, ada ayah seorang teman yang dipukuli tukang becak karena nyetirnya ngebut dan menyerempet si tukang becak. Eh, setelah saya mahasiswa, saya mendengar lagi ayah si teman itu hampir dikeroyok sopir angkot karena insiden yang serupa. Lepas dari cerita persisnya bagaimana, mungkin sekali ayah sang teman itu memang menjadi semakin tua, tapi ternyata tidak menjadi makin bijak dan sabar.

Pertanyaan itu sekilas melintas di benak saya ketika mengamati beberapa mahasiswa yang kemarin diwisuda. Beberapa saya kenal dekat, beberapa lagi saya kenal karena reputasinya, beberapa lagi memang sangat dikenal karena notorious ( ini adalah istilah bahasa Inggris yang artinya ‘terkenal karena kejelekan sifatnya’).

‘Empat tahun kamu di bangku kuliah, apakah yang berubah dari dirimu? Kau menjadi makin tua, setidaknya empat tahun lebih tua daripada ketika kau masuk sebagai mahasiswa baru tahun 2008, namun apakah ketuaanmu itu berbanding lurus dengan kebijaksanaanmu? Empat tahun lebih tua apakah berarti empat kali lipat lebih dewasa?’

Sudah banyak orang-orang tua yang curiga bahwa generasi sekarang makin lambat dewasa, makin lambat menjadi mandiri. Ya, ada benarnya. Penyebabnya juga jelas: kemajuan jaman dan teknologi membuat anak sekarang makin malas bersusah payah, karena semua sudah tersodor begitu saja. Lalu masih ditambah dengan pola pendidikan orang tua yang juga cenderung memanjakan dan melindungi berkelebihan. Masih dihantam lagi oleh gadget yang membuat manusia sehat jadi autis. Paket lengkap menuju ke generasi manja.

Jadi, kalau generasi tahun 50 an sudah pada mandiri dan dewasa ketika mencapai usia 23, generasi millenium kedua pada usia yang sama masih mentah: belum tau mau ngapain setelah lulus, belum berani mandiri, mungkin juga belum tahu banyak tentang perkembangan dunia. Saya pernah tercengang memandang sekelompok mahasiswi semester akhir dari sebuah prodi berlarian di koridor sambil memekik-mekik seperti anak TK dikejar tikus. Astaga, sudah mau lulus masih seperti itu tingkahnya???

Mungkin juga saya terlalu menghakimi dan terlalu sempit memandang mereka. Nyatanya, yang mandiri dan sangat dewasa juga banyak. Ya, iya juga sih, tapi selama masih banyak yang menjadi makin tua dan tetap saja seperti anak SMA, tulisan ini masih pantas dituangkan dan dibaca.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized