Menjadi Mentor (Lagi)

Posted on July 5, 2012

0


Setelah mati suri selama beberapa abad, program mentoring akan hidup kembali. Kabuurr!! Ha ha haa! No, what I mean is, program yang sejatinya mulia dan ideal itu menjadi redup setelah terbentur pada kendala praktis di lapangan. Beban kerja yang tinggi berakibat pada kurangnya keajegan dalam interaksi dengan mentee, dan hal ini merembet sampai pada masalah evaluasi mentor ke mentee. Kalau ketemu aja jarang, bagaimana sang mentor bisa menilai dengan obyektif perkembangan karakter menteenya? Jadi begitulah . . .

Namun mentoring versi baru rupanya siap mengantisipasi gejala itu. Sekarang, fungsi mentoring dilekatkan pada kepenasihatan akademik. Jadi, setiap dosen PA otomatis menjadi mentor untuk mahasiswa-mahasiswi bimbingan PA nya.

Di satu sisi, ini bagus karena mau tak mau, dosen akan menjalin interaksi rutin dengan mentee-menteenya dalam setiap konsultasi akademik. Hanya diperlukan pengarahan buat para dosen ini bagaimana menjadi mentor yang baik, bukan sekedar penasihat akademik. Mentor tuh kan nggak hanya ngurusi masalah akademik saja, justru yang non-akademik seperti karakter, kepribadian, kendali emosional dan sebagainya itu yang juga perlu diasah.

Nah, di sisi lain, saya agak gamang dengan versi mentor tunjukan ini. Maksudnya, saya akan menjadi mentor untuk para mahasiswa yang sejak awal sudah ditentukan oleh sistem untuk menjadi anak bimbing PA saya, bukan para mahasiswa yang dengan suka rela memilih saya sebagai mentornya. Menjadi mentor yang ditunjuk oleh sistem dan bukan oleh para mahasiswa sendiri akan berdampak pada kepercayaan mentee ke mentornya. Karena sudah di”paksa” oleh sistem, mereka bisa saja merasa tidak rela menjadi mentee saya, karena jauh dalam hati kecil mereka mengagumi sosok dosen yang lain. Nah, bisa timbul masalah.

Itu juga sebabnya kenapa Curcuminoid bubar. Anak-anak itu mungkin tidak nyaman berada di bawah sayap saya sebagai mentee. Nah, terbukti begitu kesempatan untuk memilih mentor diberikan pada awal tahun 2010, mereka langsung tercerai berai menemukan dosen idamannya masing-masing yang mereka anggap lebih tepat sebagai mentor.

Itu juga sebabnya mengapa mentee-mentee saya setelah periode “keterpaksaan” itu menjadi mentee-mentee yang nampak sekali merindukan sesi mentoring dan menganggap saya sebagai bapak dan panutan betulan. Mereka memilih saya dengan suka rela, bukan karena sudah ditentukan oleh sistem. Sekalipun juga sudah bubar karena mereka lulus dua hari lagi, masih ada beberapa yang meng sms atau mengirim BM minta advis ini itu. Periode mentoring yang hanya beranggotakan 7 mentee itu menjadi periode mentoring yang sejati, menurut saya.

Nah, sekarang mentoring mau diatur lagi oleh sistem dengan cara diintegrasikan ke fungsi dosen PA. Yah, kita lihat saja nanti bagaimana hal ini berjalan. Saya sendiri punya mahasiswa PA berjumlah belasan. Siapa aja? Ndak tahu, ha ha haa! Terus nanti gimana ya kalau ternyata ada yang merasa saya bukan mentor idamannya? Yah, . . . . mungkin justru disitu letak tantangannya. Saya harus bisa menjadi figur yang mereka anggap layak sebagai panutan dan pendamping dalam perkembangan karakternya. Tapi saya juga akan menekankan kepada mereka: “carilah figur yang kamu anggap ideal sebagai panutanmu; dan itu tidak harus saya. Kalau mau mengikuti teladan dosen atau staf lain ya silakan. Sebagai mentor saya hanya mengarahkan kamu untuk mempunyai figur teladan dalam hidupmu.”

Begitu?

Posted in: Uncategorized