Menjelang Wisuda

Posted on July 2, 2012

0


Menjelang wisuda, saya ingin tahu mahasiswa-mahasiswa saya mau ngapain setelah wisuda.

“Gak mau ngapa-ngapain, Pak,” jawab seseorang yang termasuk mahasiswa cukup pintar di kelasnya. “Mau tiduran, shopping, sama santai-santai dulu.”

Hmm, dia mengatakannya dengan tertawa. Saya juga tertawa, tapi tertawa hambar. Bukan itu jawaban yang ingin saya dengar dari seorang lulusan Fakultas saya. Masa iya sarjana mau leha-leha setelah lulus dengan susah payah dari kuliah? Ya, tapi saya juga sadar bahwa pertanyaan saya bukan Kuis Besar yang jawabannya harus sama dengan kunci jawaban. Dia bebas mau menjawab apa saja, tapi mbok ya jangan gitu, lho. Kok terkesan gak ada semangat untuk menjadikan diri lebih baik.

Herannya, waktu saya tanyakan pada dua mahassiwa saya yang lain, jawabannya sebelas dua belas dengan yang pertama tadi. Hmm, saya jadi mikir apa memang anak sekarang, yang cewek terutama, cenderung nyantai begini? Atau mungkin saya aja yang salah ngambil sampel. Seandainya saya bertanya pada mahasiswi-mahasiswi lainnya, mungkin jawaban mereka agak berbeda.

Ya, betul juga. Ketika saya bertanya pada seorang calon lulusan lain, jawabannya membesarkan hati: “saya mau segera kerja, Pak. Saya sudah membuat orangtua saya kerja keras supaya saya bisa kuliah disini. Setelah saya lulus, saya mau cari kerja jadi staf di sebuah lembaga training, sambil jadi penerjemah freelance. Jadi saya bisa bantu orang tua membiayai adik saya yang masih sekolah.”

Add-duuuh, guru atau orang tua mana yang ndak tersentuh mendengar jawaban kayak gini, coba??? Iya, nak, semoga Tuhan melapangkan jalanmu menuju ke puncak karir.

Calon lulusan yang lain mengemukakan jawaban yang khas orang yang punya rencana jangka panjang: “Saya mau married dulu, Pak, soalnya udah lama pacaran (baca: selak kebelet, ha ha haa!). Tapi setelah itu, saya hitung2 saya masih cukup usia untuk menempuh studi S2. Baru setelah S2 selesai, saya mau punya anak dan membesarkan anak-anak saya dengan bekal ilmu yang saya peroleh. Setelah anak besar, saya kan masih bisa melamar jadi dosen karena saya udah punya gelar S2. Ntar kerja setahun dua tahun , terus S3 , Pak. Sementara itu, suami kerja buka usaha yang sudah dirintis sejak sekarang, Pak.”

Kereeen!

Maka semua jawaban itu menginspirasi saya pagi tadi untuk menyusun naskah pidato pelepasan lulusan semester genap 2011-2012. Temanya: to be or not to be.

To be or not to be.
That’s the question.

If you want to open your own business and offer goods and services, the question is” to buy, or not to buy.”

If you are in a serious relationship, the question is: “To tie a knot or to stay free.”

If you decide to sit back and relax, the question would be: “to sleep, or to stay awake.”

Thus, to be or not to be,

You decide.

Catatan:
“To tie a knot” = “menikah” (bhs Jawanya: buka terop).

Posted in: Uncategorized