Jepret!

Posted on June 30, 2012

0


Saya suka lihat potret. Jaman sekarang potret makin canggih. Kreativitas pemotret pun juga makin mengagumkan. Itu masih ditambah dengan makin canggihnya software pengolah foto. Mulai dari Adobe Photo Shop sampai Corel sampai entah apa lagi. Hasilnya makin membuat foto kelihatan hidup, tajam, dan mengungkap detil yang dalam pandangan mata biasa bisa terliwat begitu saja.

Ada yang namanya Levitografi. INi tipe fotografi yang membuat obyek foto seolah-olah melayang di udara. Levito itu dari kata “levitate” yang artinya “melayang”. Saya terkagum-kagum melihat ada foto orang seolah terbang dari sofanya. Ternyata membuatnya juga tidak kalah seru: sang obyek itu meloncat dari sofa dengan pose tertentu, dan si pemotret menggunakan kamera dengan kecepatan rana (shutter) yang sangat tinggi, sampai 1/2000 detik untuk menangkap si obyek yang sedang melayang sepersekian detik di atas sofa. Akibatnya, hasilnya mengagumkan: orang yang dipotret itu seolah melayang di atas sofanya.

Teknik ini saya coba dengan si bungsu yang sedang menyundul bola dan waktu main ayunan, dan ini hasilnya.

Dalam memotret, apa yang paling sulit? Jawabnya: membuat sang obyek tersenyum secara alamiah. Kalau di Prodi saya, ada rekan dosen yang suka berteriak: “bilang: ‘satee!’ kepada teman-temannya yang sedang difoto. Maksudnya, ketika mengatakan “sateee” itu, orang yang difoto jadi kelihatan tersenyum. Saya punya kiat lain lagi. Ketika berpose, saya berusaha melontarkan guyonan segar atau meminta sang pemotret melakukan hal itu. Nah, ketika kami semua ketawa karena guyonan itu, sang kamera ditekan: Jepret! Tertangkaplah momen tersenyum atau tertawa yang sangat alamiah, tidak terkesan meringis atau tersenyum kuda. Ini hasilnya:

Pose apa yang paling menyebalkan? Jawabnya: waktu makan. Saya paling endak suka difoto waktu makan. Jadinya wuelek ndak karuan karena yaah . . . mana bagusnya orang sedang mengunyah makanan atau menyuapkan makanan ke dalam mulut terus difoto? Welek pol! Saya punya beberapa foto saya ketika sedang makan. Tidak saya pajang disini karena seperti yang saya bilang tadi: posenya ndak karuan, jadi malu lah diri ini memajang fotonya, ha ha haa!

Ada teknik yang namanya candid camera. Rekan saya Pak S pintar sekali melakukan yang satu ini. Dia akan berkeliling di antara rekan-rekannya, dan dengan tindakan tidak menyolok memotret mereka ketika sedang melakukan sesuatu secara alamiah. Hasinya, foto-fotonya nampak sangat wajar karena memang yang difoto tidak berpose dibuat-buat, wajar saja seperti ketika tidak sedang dipotret.

Dua foto di bawah ini menunjukkan bedanya. Yang satu kelihatann lebih alami karena menggambarkan ketiga anggota keluarga saya itu berjalan santai di tengah kebun teh; satunya lagi keliatan agak tidak alami karena mereka berhenti dan harus berpose.

Nah, sekian dulu. Lho kok cuma segitu? Ya iyalah, saya kan bukan fotografer profesional. Ntar kalau terlalu panjang lebar, saya bisa diketawain rekan-rekan atau murid-murid saya yang memang hobi fotografi dan karya-karyanya sudah canggih. Saya mah cuma guru yang kebetulan tertarik sekilas oleh dunia jepret-menjepret ini.

Posted in: Uncategorized