Silentium alias Diam

Posted on June 23, 2012

0


Silentium alias Diam

Ketika masih mahasiswa, saya mengikuti sebuah retret di sekolah. Ada satu acara aneh yang namanya ‘Silentium’. Acara ini bersamaan dengan makan pagi. Pada saat ‘Silentium’, semua tidak boleh berbicara. Jadi kami makan dalam diam total, membisu, hanya bunyi sendok garpu beradu dengan piring yang terdengar.

Saya agak lupa penjelasan apa yang diberikan oleh Romo pemimpin retret itu. Tapi kalau tidak salah ingat, momen silentium diperlukan untuk memeriksa batin, introspeksi, dan semua itu hanya bisa berlangsung kalau kita diam, tidak menyuarakan apapun, dan tidak mendengar ucapan orang lain.

Setelah makin dewasa, saya baru makin menyadari manfaat kediaman ini. Banyak hal yang bisa diurai secara lebih jernih kalau kita diam sejenak, tidak ngomong, dan lebih mengaktifkan kekuatan mental dan bahkan intuisi kita tanpa harus membagi perhatian ke ucapan orang lain. Orang ekstrovert barangkali akan langsung menyanggah pendapat ini, namun bagi orang introvert seperti saya, silentium ini ternyata sudah berpuluh-puluh tahun membantu saya mendulang sukses pribadi karena silentium.

Ketika menggodok suatu rencana atau menghadapi suatu masalah, saya lebih banyak diam dan bahkan dengan sengaja menjauhkan diri dari kolega-kolega saya. Bukan karena menghindari mereka, tapi kadang-kadang saya merasa mereka terlalu cepat berbicara tanpa berpikir secara matang dan kritis mempertimbangkan segala hal. Semakin banyak yang bicara, semakin saya merasa sumpek dan tidak bisa berpikir jernih. Maka diam-diam saya mengundurkan diri, masuk ke kantor atau pulang, dan merenungkan masalah atau rencana itu dalam keheningan. Kadang-kadang keheningan dan nalar bahkan belum membantu; semua masih terasa meragukan dan mengkhawatirkan. Kalau sudah begitu saya berhenti berpikir, pasrah, dan mencoba membaca secara intuitif apa yang akan terjadi di masa depan. Pada saat-saat seperti itulah kadang saya mendengar bisikan yang saya yakin sekali bersumber dari sesuatu yang Maha Baik dan Maha Tahu. Banyak pencapaian atau masalah yang selesai setelah saya mengikuti bisikan aneh tapi baik hati ini……..

Sekali lagi, semua itu hanya bisa terjadi dalam silentium.

Masalahnya, kadang-kadang momen itu tidak bisa tercipta begitu saja karena situasi sekitar tidak mengijinkannya. Istri saya merasa nyaman dan senang kalau bisa menceritakan apapun yang dia alami dan pikirkan kepada suaminya: mulai pilihan warna baju sampai harga beras di hypermart diceritakan semua ke saya. Pada saatsaya sedang ingin merenung dan mendengarkan intuisi, kebiasaan seperti itu harus saya hadapi dengan banyak sabar. Akibatnya, kadang-kadang jawaban saya terkesan asal bunyi atau bahkan gak nyambung blas sama ceritanya. Herannya istri saya terus saja cerita ini itu….

Yah, namanya juga sudah sayang, yang satu merasa senang bisa bercerita banyak, yang satunya rela mengorbankan silentiumnya.

. . . . . .

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized