(Berhenti) Berpikir: Tentang Gedung Baru dan Kepasrahan yang Bijaksana

Posted on June 20, 2012

0


“Excessive reasoning will lead to a restless stressed out mind. Let go, let God sort it out.”

Pesan itu saya baca di Twitter. Pas sekali dengan situasi yang saat itu saya alami. Sudah beberapa hari saya terus menerus kepikiran tentang pendirian sebuah unit baru di lembaga tempat saya bekerja. Unit itu besar, lantainya saja tujuh, menjulang tinggi ke langit.

Untuk orang seperti saya, pikiran pertama yang terbersit adalah: “gedung ini hebat, tapi bikin gedung kan nggak cuma mengagumi desain dan perlengkapan di dalamnya saja? Yang sangat penting dipikirkan setelah gedung itu nanti berdiri adalah keberlangsungan hidupnya (bahasa Maduranya: sustainability). Bagaimana dengan pemeliharaannya? Biaya listrik, air, sambungan wi-fi, dan kebersihannya sehari-hari? Darimana dana untuk semua itu?”

Masih ada beberapa pikiran-pikiran lain: “siapa nanti ketuanya? bagaimana merekrut staf ahlinya? bagaimana hubungannya dengan lembaga induknya? usahanya apa, sehingga bisa dapat duit secara mandiri?”

Sebagian dari pertanyaan itu saya ungkapkan di beberapa rapat dengan pimpinan-pimpinan lain. Untuk setiap pertanyaan, selalu ada jawabannya. Namun, jawaban yang diberikan selalu mengandung dua kata: “nanti akan, . . . dst”. Iya, nanti akan diupayakan perolehan dana hibah dari lembaga-lembaga internasional, nanti akan kita buat beberapa penelitian yang bisa dimanfaatkan (baca: dibeli) pihak luar, dan sebagainya.

Dalam hati kecil saya mengatakan “Ya, tapi itu kan masih nanti akan. Bagaimana kalau nanti ternyata rencana tidak semulus yang diangankan?”

Dan kekhawatiran saya itu masih disusul oleh serangkaian kekhawatiran lain. “Bagaimana kalau gedung baru itu akhirnya menyedot dana dari lembaga induknya, tapi ternyata kurang maksimal dalam perolehan dananya? Apa nanti tidak akan timbul pertanyaan? Apa nanti tidak akan timbul rasan-rasan? Apa nanti bisa timbul ketidakpuasan dan kecemburuan?”

Demikianlah saya tenggelam dalam kegalauan penalaran tentang kekhawatiran-kekhawatiran saya sendiri, sampai akhirnya saya membaca Tweet di atas itu.

Berangsur-angsur saya menyadari kebenarannya. Memang demikianlah hidup ini kadang-kadang bergulir. Kadang ibarat kapal terasa seolah-olah kita itu melayari jalur yang tidak jelas lokasinya di peta navigasi, dan tidak tahu apakah disana ada gunung es atau perompak atau badai besar yang akan menghadang. Namun semakin hal itu dipikirkan dan diupayakan penalarannya, semakin besar kekhawatiran saya.

Rupanya menjadi bijak tidak melulu identik dengan berpikir tanpa henti. Kadang-kadang sikap bijaksana itu malah perlu diwujudkan dengan kepasrahan, berserah kepada Tuhan atau sang Empunya Nasib tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Toh pikiran Tuhan atau rencananya kan memang sudah diluar jangkauan kekuatan nalar kita. Bisa saja apa yang kita khawatirkan ternyata tidak terjadi. Bahkan di jaman millenium kedua ini, justru pikiran tanpa kecemasan itu yang konon menarik energi yang lebih positif untuk mewujudkan sesuatu yang ternyata patut disyukuri, dibanggakan, atau setidaknya dihembusi nafas lega karena marabahaya yang dikhawatirkan tidak terjadi.

Demikianlah, saya berangsur pasrah, tidak lagi ngoyo menalar-nalar nasib gedung baru itu. . . .

Lalu datanglah kejutan berikutnya: sang rekan yang dari dulu sudah digadang-gadang untuk menjadi ketua salah satu bidang di unit baru itu mendadak “tinggal gelanggang colong playu”. Ini adalah istilah dari bahasa Jawa, artinya: pertama seolah mantap menerjuni gelanggang, tapi mendadak nyalinya ciut dan langsung balik kanan lari lintang pukang. Demikianlah, sang rekan menulis surat pengunduran diri, dan akibatnya para pimpinan puncak langsung menunjuk saya untuk menyiapkan persentasi pembukaan unit baru itu pada tanggal 7 Juli nanti.

Reaksi pertama saya adalah kaget, maunya protes, dan menggerutu kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung menyebabkan saya menerima tugas mendadak itu. Secara otomatis pikiran saya mulai menalar lagi: “mengapa begini? bagaimana kalau nanti ide saya nggak pas dengan direktur yang akan datang? bagaimana nanti kalau . . . dsb, dsb”.

Tapi seketika saya teringat pada ungkapan Twitter di atas. . . .

Maka saya hanya bisa pasrah, mengupayakan apa yang saya bisa, dan berharap untuk mengalami yang terbaik pada tanggal 7 Juli dan sesudahnya nanti.

Let God sort it out.

Posted in: Uncategorized