Ayo Tidur

Posted on June 20, 2012

0


Perkara tidur adalah perkara sepele. Gimana enggak? Kan hanya merebahkan diri, memejamkan mata, dan blezzz, terbanglah kita ke alam mimpi. Tapi ternyata pada prakteknya urusan tidur bisa menjadi ribet.

Pada waktu kecil saya susahnya bukan main disuruh tidur siang. Ayah saya sering marah karena saya tidak mau tidur siang. Setiap kali disuruh tidur, saya malah keluyuran keluar. Saking geramnya dia menyuruh saya tidur di kamar kemudian mengunci pintunya dari luar. Saya tidak kehilangan akal; saya pura-pura tidur, tapi begitu suasana sepi karena semua sedang tidur, saya bangun dan melompat keluar lewat jeruji jendela kamar, lepas bebas main layangan dan sepak bola. Menjelang jam empat, saya bergegas kembali ke rumah, karena saya tahu itu jam menjelang orang tua saya bangun dari tidur siangnya. Saya masuk kamar lagi lewat jeruji yang sama, setelah mengancam pembantu: “Awas, jangan dibilangkan Bapak Ibu kalo aku ndak tidur lho!”. Pembantu pun manut saja karena kalau ndak nanti bakal saya jahili sampai nangis. Nah, di dalam kamar, saya gosok-gosok mata supaya kelihatan merah. Begitu saya keluar kamar dan ketemu orang tua saya, mereka mengira saya sudah tidur karena matanya masih merah. Demikianlah kebandelan seperti itu berlangsung sampai beberapa tahun.

Setelah menjadi dewasa dan tentunya tidak lagi main layangan dan sepak bola, justru saya menjadi merasa membutuhkan yang namanya tidur siang. Maka jam-jam setelah pulang sekolah atau kuliah dan selesai makan siang menjadi jam-jam yang enak sekali karena saya bisa menikmati tidur siang selama 1 – 2 jam. Prosesnya begitu cepat: selesai makan, mata terasa berat, lalu seiring dengan serangan kantuk itu, saya merebahkan diri di ranjang, dan tahu-tahu blezzztt, tertidurlah saya pulas sekali. Anehnya, tidurnya ndak terasa, tapi begitu bangun . . . hmm. . . terasa segar dan nyaman. . . .

Tidur menjadi menyehatkan karena selama tidur, terjadi proses perbaikan dan pertumbuhan kembali sel-sel yang rusak karena didera lelah. Tidur juga baik untuk ingatan. Tahukah Anda bahwa belajar sesaat sebelum jam tidur membuat ingatan terpatri lebih kuat di benak? Begitu bangun, semua yang tadi kita baca langsung bisa kita ingat lagi.

Tidur terbagi menjadi tiga tahap: tidur dalam, tidur dengan gerakan mata cepat (lazim disebut “REM” = “Rapid Eye Movement”), lalu tidur dalam lagi. Ketika tidur memasuki fase terdalam, gelombang otak melambat, dan kalau orang dipaksa bangun pada tahap ini, dia akan setengah linglung (kadang lupa dia dimana atau apakah hari itu siang atau malam). Ketika memasuki tahap REM, gelombang otak menjadi normal kembali seolah-olah sang empunya sedang terbangun. Disini biasanya terjadi mimpi, dan mimpi itu yang menyebabkan gerak mata menjadi cepat tadi, seolah-olah si orang itu sedang memandang sesuatu yang berkelabatan di alam sana.

Kebiasaaan tidur siang terpaksa saya hentikan setelah bekerja di Surabaya, bahkan sekarang setelah bekerja di Malang. Jam kantor jam 8 sampai jam 5 sore, mustahil bisa tidur.

Apakah dengan demikian tidur malam saya menjadi lebih nyenyak? Ah, sayangnya tidak juga. Kalau insomnia kumat tanpa sebab yang jelas, saya bisa terus terjaga sampai menjelang subuh. Orang tua saya bilang: “Itu tandanya kamu sudah mulai uzur, soalnya hanya orang-orang usia lanjut yang mengalami insomnia.” Ah, mengerikan benar. Saya kan baru 45?

Salah satu obat mujarab anti insomnia, selain pil Neozep (yang celakanya gak boleh saya minum terlalu sering karena bisa merusak lambung), adalah memastikan bahwa istri tersayang sudah tidur bersama saya. Maksud saya, kalau saya sudah di ranjang dan dia masih berkegiatan di luar kamar, entah masih mengajari putra kami atau berbincang dengan temannya, saya jadi sulit tertidur. Begitu dia masuk kamar dan berbaring di samping saya, rasanya sesuatu yang tadinya kurang telah menjadi lengkap, dan saya pun merasa cukup nyaman untuk memejamkan mata dan pulas, kadang masih dengan sebelah tangan memeluk istri tersayang . . . .

Posted in: Uncategorized