Sejenak Nostalgia di Alma Mater

Posted on June 19, 2012

0


Sejenak Nostalgia di Alma Mater

Setelah sekian belas tahun saya meninggalkan alma mater, pagi tadi saya kembali kesana. Kampus yang dulunya bernama IKIP Malang itu sekarang sudah menjadi Universitas Negeri Malang. Saya masuk kesini sebagai mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris tahun 1986, dan keluar dari situ tahun 1998 sebagai Doktor di bidang yang sama.

Pelan saya menyusuri kampus yang sudah berubah wajah banyak itu. Dua puluh lima tahun yang lalu, dan sekarang di usia ke 45, itu berarti saya sudah lebih tua daripada para dosen saya yang saat itu mengajar saya. Oh, shit! I am an old man now, ha ha haaa!

Tempat-tempat kenangan indah sudah nyaris tak saya kenali lagi. Kenangan indah bersama seorang cewek Madura keturunan Tionghoa. Auditorium dimana saya pertama kali nekad mengajaknya duduk bersama dan pulang bersama itu sudah lenyap, diganti sebuah bangunan kokoh berlantai dua entah apa namanya. Gedung N tempat saya dulu menawarinya karcis Dempo Fair ( yang dia tolak dengan halus karena dia sudah membeli dari temannya) sudah runtuh. Pagar seng melingkari bangunan itu. Rupanya sebuah bangunan baru akan didirikan disana. Dulu di salah satu ruang kelas di gedung tua itu saya nekad menerobos masuk semata-mata supaya saya bisa meminjaminya buku. Masih terngiang bagaimana teman-teman sekelasnya bersorak riuh melihat adegan PDKT itu. Saya memang tergolong nekad kalau sudah dimabuk asrama, eh, asmara. Tapi kenekadan itu toh tidak sia-sia. Beberapa minggu sesudahnya saya resmi (resmi? Emang pake SK Dekan, ha ha ha!) berpacaran dengannya, kemana-mana berdua, naik motornya atau skuter saya (tepatnya: skuter ayah saya), kuliah bersama-sama, makan di kantin dilihatin oleh banyak mahasiswa lain karena kami pasangan yang unik, sampai digodain pembawa acara pada suatu event yang bernama English Night.

Semua adalah kenangan. Cewek itu sudah hampir 16 tahun menjadi istri saya. Ternyata baru saya dapati bahwa kebiasaan 25 tahun yang lalu tidak berubah: sekarangpun setelah menjadi dosen di Ma Chung, kami masih sering makan bersama di kantin, sambil sesekali diperhatikan dan dirasani mahasiswa-mahasiswi kami. Amazing!

Ngapain sih saya kembali kesitu? Urusannya sebenarnya sepele, tapi namanya menyeramkan: memeriksakan berkas-berkas kinerja saya sebagai Profesor kepada dua orang dosen senior disitu. Kedua dosen itu adalah mantan dosen-dosen saya 25 tahun yang lalu. Sekarang saya kembali ke mereka, meminta supaya mereka memeriksa semua makalah, naskah buku, sertifikat, dan SK untuk memastikan bahwa sebagai Profesor yang dibayar oleh Pemerintah saya tidak nyantai-nyantai sambil fesbukan.

Berkas setengah koper itu saya usung ke kantor beliau. Sambutan hangat saya terima, lalu sedikit ngobrol tentang pendidikan, dan tahu-tahu beliau-beliau itu dengan tenangnya langsung menandatangani surat pernyataan tentang berkas kinerja saya.

“Bapak tidak ingin memeriksa bukti-bukti kinerja saya?” saya bertanya.

“Ah, ndak usah wis,” katanya sambil tersenyum. “Saya percaya aja sama Anda.”

Saya sedikit melongo, melirik berkas sak dhebok yang saya usung kesana kemari dan saya persiapkan dengan susah payah di kantor.

Baiklah kalau begitu. Banyak terima kasih.

Saya kembali ke kampus sendiri, masih menyempatkan diri melihat tempat-tempat penuh kenangan tadi…..Nostalgia memang tidak pernah mati.

Sampai di kantor, setelah menghitung semua kinerja saya, staf Sumber Daya Manusia mengabarkan sesuatu : ‘Pak, berkas-berkas Bapak masih tidak memenuhi syarat!”

“Lhoo, kok bisa tho, Mbak?”

“Iya, Pak, terlalu banyak jumlahnya. Dikurangi aja, Pak, dihapus saja sebagian!”

Kali ini saya benar-benar melongo….

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized