Tentang Mahasiswa Mahasiswi Saya: Yang Gigih, Yang Vokal, Yang Ngebut

Posted on June 10, 2012

0


Minggu-minggu ini saya banyak berhubungan dengan para mahasiswa saya di Sastra Inggris. Ada saja yang pantas diceritakan tentang mereka-mereka ini.

Yang satu adalah seorang mahasiswa pria. Dia datang ke saya, minta dengan sangat agar saya memberinya tugas untuk mengkompensasi nilai-nilainya yang rendah untuk mata kuliah yang saya ajar. Saya katakan saya tidak bisa melakukan hal itu. “Kalau saya beri kamu tugas ekstra semata-mata supaya nilaimu sedikit terangkat, saya tidak fair sama teman-temanmu yang lain. Mereka bisa protes, atau yang lebih buruk, mereka akan beramai-ramai datang ke saya meminta perlakuan yang sama supaya nilainya terangkat.”

Beberapa saat wajahnya yang sudah memelas makin mengenaskan lagi. Tapi akhirnya tanpa saya duga dia berkata: “Baiklah kalau begitu, Pak, tapi saya bertekad akan sekuat tenaga mengejar nilai-nilai yang lebih tinggi, supaya IPK saya dapat mencapai 3.2.”

“IPK mu berapa sekarang?”

“Dua koma satu , Pak.”

Jedhegg! Saya terhenyak. IPK 2.1 mau mencapai 3.2, padahal semua juga tahu dia ini mahasiswa yang sangat lemah dalam prestasi-prestasinya. Perlu kerja keras luar biasa untuk mencapai impiannya.

“Yes, Sir, I will try hard to do it,” katanya.

Saya terdiam agak lama setelah dia pergi. Campuran rasa agak pesimis dan salut atas semangatnya sejenak memenuhi pikiran saya. Kalau dia benar-benar berusaha keras dan di kampus ini ada skema penilaian untuk usaha keras, barangkali dia patut mendapat nilai AB.

Mahasiswi kedua adalah cewek. Iyalah, namanya juga mahasiswi. Dia datang sebagai seorang fungsionaris Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas. Dari antara kelima temannya yang pagi itu hadir, anak ini kelihatan paling vokal, tidak sungkan menyuarakan pendapat dan kritikan-kritikannya terhadap fakultas yang saya pimpin.

Saya senang sekali melihat mahasiswa seperti ini. Kelihatan sekali bahwa dia perduli dengan situasi belajar mengajar di kampusnya, dan melakukan pengamatan yang juga sama cermatnya seperti Dekannya terhadap beberapa hal yang memang harus diperbaiki. Mungkin pada periode kepengurusan berikutnya, saya akan memintanya menjadi Ketua.

Salah satu kekurangan dari dirinya adalah badannya yang terlalu tinggi sehingga saya harus mendongak jauuh untuk menatap wajahnya. Ha ha haaa! Ini mah guyon. Tapi memang anak ini tinggi sekali, sial dah . . ha ha haa!

Yang terakhir adalah mahasiswi bimbingan skripsi yang sedang tancap gas sekuat tenaga supaya dia bisa ikut yudisium semester ini. Saking pinginnya ikut yudisium dan kebetulan ketemu pembimbing yang memeriksanya juga sangat cepat, akhirnya dia harus rela tidur jam 3 pagi supaya skripsinya bisa segera selesai. Ya, biarlah, tempaan mental supaya jadi anak ndak manja. Hmm, belum pernah lho saya memaksa mahasiswa sampai tidur subuh karena ngebut menyelesaikan skripsinya. Hmm, pernah nggak ya? Kayaknya nggak deh…

Posted in: Uncategorized