Bulutangkis, Balap Mobil, Tinju, dan Piala Eropa

Posted on June 10, 2012

0


Bulutangkis, Balap Mobil, Tinju, dan Piala Eropa

Sebagai orang Indonesia, saya sedih melihat tim bulutangkis kita kalah total di gelaran Piala Thomas dan Uber beberapa minggu yang lalu. Saking sebel dan gundahnya, saya pun ngomel di Facebook dan ditanggapi beberapa orang yang intinya menyesalkan kekalahan itu. Apa prestasi itu cerminan dari kondisi negara ini ya? Mismanajemen, terlampau banyak campur tangan dari berbagai pihak, pudarnya semangat juang, wah, komplit dah penyebabnya.

Akhirnya saya berprinsip bahwa dalam hal keindahan olah raga, saya sudah ndak perduli lagi dengan tim nasional. Selama penampilan atlit-atlit dari negeri lainnya tetap mencengangkan untuk dilihat, saya tetap nonton pertandingan itu. Enak sekali rasanya terkagum-kagum di depan tv melihat kedahsyatan Ling Dan dan Wang Yihan di lapangan bulutangkis. Mereka ini sudah jelas setingkat lebih tinggi dari pemain-pemain lain. Smashnya tajam, keras, dan tak terduga, footworknya ringan meladeni lob sedalam apapun dan netting sehalus apapun, belum lagi penempatan bola yang membuat lawan mati langkah, dan mental bertandingnya. Saya sudah ndak peduli mereka ini dari China atau apapun, yang penting permainannya memang indah dan bagus untuk dilihat.

Lha daripada nggrundel dan kecewa melihat timnas, lebih sehat nonton atlit-atlit kelas satu.

Tapi ada juga sedikit penghibur dari dunia balap mobil. Di GP 2, nama Roy Haryanto mulai dikenal. Pembalap muda usia ini sedang berjuang merintis prestasi di kancah persaingan ganas pembalap-pembalap kelas wahid dari negara-negara Eropa. Di Nurburgring, dia keluar sebagai juara setelah terlibat pertempuran seru dengan dua lawan yang berusaha menyalipnya. Suka sekali melihat gayanya yang halus namun akurat, di tengah hujan, sudah nyaris didahului dari sisi dalam tikungan, tapi dia tancap mobilnya begitu lepas dari mulut tikungan, dan merebut kembali posisi satu yang nyaris direbut pembalap lain itu. Ayrton Senna’s style! Setelah itu dia hajar mobil sekencang-kencangnya, meliuk-liuk melewati tikungan-tikungan, dan akhirnya keluar sebagai juara meninggalkan kedua lawannya jauh di belakang. Well done!

Lalu masih ada Chris John yang barusan juga mempertahankan sabuk juara dunia tinjunya.

Ndak tahu, ya, senang aja saya melihat bendera Merah Putih dikibar-kibarkan di arena olah raga dunia setiap kali atlit-atlit kita menang. Sudah semakin jarang bendera itu berkibar, tapi mungkin justru itu yang membuat pemandangan itu makin membuat miris.

Nah sekarang Piala Eropa. Indonesia jelas nggak disini, tapi kan itu gak penting. Yang penting adalah bahwa banyak rakyat Indonesia bersatu padu membulatkan tekad untuk menonton dan menikmatinya, serta mengharapkan Jerman jadi juara.

Lho kok Jerman? Kok bukan Inggris? Atau Spanyol?

Ya ndak tahu, perasaan aja yang berbicara bahwa Jerman akan menang. Ndak percaya? Ya ayo kita lihat sama-sama.

Sent from my iPad

Posted in: Uncategorized