Di Balik Pemilihan Itu

Posted on June 2, 2012

0


Dalam suatu pemilihan yang diselenggarakan tahun lalu, saya mendapati bahwa beberapa orang memilih nama saya, dan bukan nama calon C. Saya tidak habis pikir mengapa mereka memilih saya, bukan si C, padahal saya sendiri sudah mengira bahwa saya pasti kalah jauh dibanding C. Saya tanya seorang di antara pemilih itu: “Kenapa Anda memilih saya, bukan dia?”

Jawabannya membuat saya sedikit terhenyak: “Karena Anda tuh tipe orang yang sedikit ngomong dan lebih banyak bekerja, menghasilkan sesuatu yang nyata; si C pintar juga ngomong, tapi hasil kerjanya tidak begitu kentara.”

Ohh, begitu??

Saya agak terhenyak karena jujur saya sendiri tidak pernah mengira bahwa seperti itulah saya. Selama ini, kalau disuruh menilai diri sendiri, yang memenuhi pikiran saya adalah kelemahan-kelemahan saya, dan oleh karena itu saya sadar sekali terhadap kelemahan-kelemahan saya, sampai lupa bahwa saya ternyata juga punya kekuatan yang ironisnya tidak saya lihat.

Mungkin juga rekan itu benar. Kalau saya kilas balik perjalanan karir setengah tahunan ini, pada kenyataannya memang saya lebih banyak menelurkan beberapa hal konkret: jurnal fakultas sudah lahir, persyaratan pembukaan prodi sudah terpenuhi sedikit demi sedikit, Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas sudah terbentuk, Senat Fakultas juga sudah berjalan selama setahun, Kode Etik Fakultas sudah ada, standar-standar sudah terbentuk, panduan PKL sudah direvisi, dan sebagainya. Semua juga saya kerjakan dengan gaya khas seekor ikan: lebih banyak berkutat di kantor, tepatnya di depan PC, untuk menelurkan semua itu. Ya tentu saja saya masih perlu berbicara kepada staf saya, tapi gaya bicaranya juga sangat lugas: “ini situasinya, itu tujuannya. Saya sudah siapkan yang ini, sisanya tolong kerjakan.” Titik. Saya balik kanan, kembali lagi ke kantor saya, dan mulai lagi “bertelur” gagasan dan pelaksanaannya.

Ketika saya masih di ELTISI, pada kenyataannya sertifikasi TOEIC dan HSK juga berjalan relatif lancar. Buktinya jelas: 99% mahasiswa angkatan 2007 lulus dengan mengantongi sertifikasi TOEIC dan HSK.

Sebagai orang yang dipercaya untuk menduduki jabatan struktural, saya kurang tertarik pada slogan-slogan bombastis atau acara-acara yang gegap gempita karena menghadirkan figur-figur terkenal. Saya lebih suka menguatkan fondasi internal sekokoh-kokohnya, menggalang koordinasi dan komunikasi yang solid di dalam, baru kemudian beranjak setapak demi setapak mengembangkan lembaga, menjalin kerja sama dengan ini itu, membuat event promosi, dan sebagainya. Prinsip saya: kuatkan dulu yang di dalam, baru setelah kelihatan keunggulannya, bolehlah bicara agak “pongah” dan menjalin kerja sama dengan beberapa lembaga.

Saya juga bukan orang yang suka mengurusi hal-hal yang terlalu detil. Ketika menempati posisi ini pertama kali, saya langsung hilang semangat ketika dalam rapat koordinasi ada usulan supaya saya mencermati dan menentukan ukuran logo fakultas, warna sampul laporan dan skripsi, model kop surat, serta beberapa hal detail yang lain. Saya nggrundel dalam hati: “Wong Dekan kok suruh mikiri kop surat.” Akhirnya terlepas juga ucapan saya: “Saya kira itu kita serahkan saja ke suatu tim kecil; nanti suruh mereka presentasi, saya lihat kayak apa, kalau sudah setuju saya tinggal mengesahkannya. Habis perkara. Saya lebih baik memikirkan perencanaan strategis ke depan, pengembangan fakultas, pengembangan karir staf dan lain-lain yang lebih substansial.”

Nah, sejauh ini saya sudah bicara tentang kekuatan-kekuatan saya. Lha terus kelemahannya? Ya, pasti ada; tapi ngapain juga saya tulis? Kan Anda semua juga sudah tahu kelemahan-kelemahan saya, jadi gak ada bagusnya dibahas di postingan ini.

That’s my style.

Posted in: Uncategorized